Selasa, 03 Agustus 2021

Ibu Terhebat

Mamah
"Semoga Aa mendapatkan jodoh yang baik dunianya serta akhiratnya". Sebuah do'a atau harapan dari almh. Mamah yang selalu dan hingga detik ini terngiang-ngiang dibenak sesaat sebelum mata ini terpejam. Bahkan jauh sebelum Mamah berpesan seperti itu di dalam sebuah teks sms, Mamah kembali berpesan agar saya selalu bekerja dengan baik, apapun kondisinya, DEMI MAMAH. Satu pesan yang menurut saya butuh suatu keuletan serta kemauan yang keras untuk mewujudkannya.

Jujur saja, di dalam sebulan terakhir sebelum kepergian Mamah, begitu seringnya Beliau berpesan serta meminta maaf bila ada tindakan campur tangan yang terlalu jauh di dalam mengatur keseharian saya. Tetapi di saat itu pula, saat membaca pesan sms dari Mamah, tanpa terasa pipi ini basah oleh air mata yang tidak sedikitpun saya mengkehendaki untuk menetes bahkan terlalu banyak untuk sebuah pesan singkat, namun mampu menyentuh bagian terdalam sebuah rasa sayang.

Saya akui, bahwa saya teramat dekat bila tidak boleh dibilang terlalu manja dengan Mamah. Dalam hal apapun, Mamah selalu mengetahui, bahkan susah lidah ini untuk tidak bercerita hal sekecil mungkin. Mamah tempat segalanya bagi saya. Keluh kesah, terkadang amarah saya luapkan begitu saja.

23 April 2017, hari beranjak sore. Saat itu saya berada di pendakian gunung Kerinci, tepatnya di shelter 2. Saya akui, selama pendakian di beberapa tempat, baru di gunung Kerinci inilah komunikasi sinyal handphone dapat dikatakan lancar jaya, bahkan ketika itu saya menyempatkan untuk menelpon Mamah guna menanyakan kabar kesehatannya. Saat itu, Mamah mengatakan bahwa kondisinya tidak banyak perubahan berarti serta kembali bertanya balik mengenai kondisi saya. Tentu saya pastikan bahwa saat itu kondisi saya cukup sehat serta diberikan kelancaran selama pendakian. Yaa ... Itu sedikit gambaran mengenai komunikasi saya dengan Mamah saat berada di pendakian.

28 April 2017 siang, lepas beberapa hari setelah pendakian Kerinci, dan saat itu saya telah kembali beraktivitas di outlet Zushioda Padang, handphone menandakan beberapa pesan WhatsApp masuk. Salah satunya dari tante saya di Depok yang mengirimkan foto Mamah sedang di Uap di salah satu klinik disana. Saya cukup khawatir dengan foto itu, karena begitu saja keinginan untuk pulang sangat kuat. Tetapi saya kembali berpikir bahwa sebaiknya dan selalu berharap bahwa kondisi kesehatan Mamah dapat kembali pulih secara perlahan. Menjelang Maghrib, di sela waktu senggang saya, kembali saya menanyakan kabar kesehatan Mamah. Saat itu, keluarga di Depok tidak satupun membalas WhatsApp yang saya kirimkan. Namun sekitar pukul 21.00 wib adik mengirimkan kembali foto Mamah yang sedang terbaring lemah dengan selang serta tabung oksigen sebagai pendamping tidurnya. Ketika itu pula, keinginan untuk pulang rasanya tidak dapat tertahan lagi. Seketika saya bergegas menuju ATM terdekat untuk mentransfer sejumlah dana sebagai pembayaran tiket yang beberapa menit sebelumnya saya pesan, agar keesokan harinya, di jam 11.00 wib, saya memiliki flight balik.

Setelah semuanya terencana, kembali saya melanjutkan aktivitas closing harian serta briefing mingguan dengan para staff, dimana hari itu adalah hari Jum'at, jadwal yang saya atur sebagai briefing mingguan. Tidak lama setelah saya memulai briefing, kembali handphone berdering dengan nama adik sebagai tanda di panggilan masuk. Dan sebelumnya, adik menanyakan via WhatsApp kapan saya bisa pulang dengan segera. Dikarenakan sedang mengambil briefing kepada para staff, saya sama sekali tidak mengetahui bahwa adik saya bertanya seperti itu. Briefing saya akhiri dan dengan segera saya angkat panggilan di ujung sana, dan betapa terkejutnya saya mendapati adik saya mengabarkan bahwa Mamah sudah lebih dulu kembali ke sisi Allah SWT. Innalillahi wa inna'ilaihi roji'un ...,, Mamah yang saya sayangi, teramat saya sayangi, dengan cepat telah meninggalkan kita semua.

Seketika itu pula saya langsung mencari flight sepagi mungkin tanpa berpikir untuk merefund flight yang sebelumnya sudah saya pesan. Di penantian hingga pagi menyingsing, teringat sosok Mamah yang bahkan pada saat itu saya tidak percaya akan secepat ini meninggalkan kami sekeluarga. Teringat kembali semua pesan-pesan sebelumnya, semua pengorbanan yang tidak mungkin untuk saya tulis disini, karena begitu susahnya Mamah hingga saya dapat menjadi seperti yang teman-teman lihat. Saya begitu bangga mempunyai sosok ibu seperti Mamah. Sangat bangga!!

Saya sadar, saya belum dapat membuat Mamah bangga, belum dapat membuat Mamah bahagia dengan melihat anak sulungnya berkeluarga. Tetapi setidaknya, saya akan selalu berjuang dengan pesan yang sudah Mamah ingatkan jauh sebelumnya. Pesan sekaligus do'a terbaik sebagai bekal saya di setiap perjalanan hidup sampai nantinya dimana saya berakhir. Mamah adalah pelita hati bagi saya, inspirasi serta semangat saya di dalam beraktivitas.

Miss u so much Mom ... Semoga bahagia disana 🙏🙏🙏