Selasa, 03 Agustus 2021

Ibu Terhebat

Mamah
"Semoga Aa mendapatkan jodoh yang baik dunianya serta akhiratnya". Sebuah do'a atau harapan dari almh. Mamah yang selalu dan hingga detik ini terngiang-ngiang dibenak sesaat sebelum mata ini terpejam. Bahkan jauh sebelum Mamah berpesan seperti itu di dalam sebuah teks sms, Mamah kembali berpesan agar saya selalu bekerja dengan baik, apapun kondisinya, DEMI MAMAH. Satu pesan yang menurut saya butuh suatu keuletan serta kemauan yang keras untuk mewujudkannya.

Jujur saja, di dalam sebulan terakhir sebelum kepergian Mamah, begitu seringnya Beliau berpesan serta meminta maaf bila ada tindakan campur tangan yang terlalu jauh di dalam mengatur keseharian saya. Tetapi di saat itu pula, saat membaca pesan sms dari Mamah, tanpa terasa pipi ini basah oleh air mata yang tidak sedikitpun saya mengkehendaki untuk menetes bahkan terlalu banyak untuk sebuah pesan singkat, namun mampu menyentuh bagian terdalam sebuah rasa sayang.

Saya akui, bahwa saya teramat dekat bila tidak boleh dibilang terlalu manja dengan Mamah. Dalam hal apapun, Mamah selalu mengetahui, bahkan susah lidah ini untuk tidak bercerita hal sekecil mungkin. Mamah tempat segalanya bagi saya. Keluh kesah, terkadang amarah saya luapkan begitu saja.

23 April 2017, hari beranjak sore. Saat itu saya berada di pendakian gunung Kerinci, tepatnya di shelter 2. Saya akui, selama pendakian di beberapa tempat, baru di gunung Kerinci inilah komunikasi sinyal handphone dapat dikatakan lancar jaya, bahkan ketika itu saya menyempatkan untuk menelpon Mamah guna menanyakan kabar kesehatannya. Saat itu, Mamah mengatakan bahwa kondisinya tidak banyak perubahan berarti serta kembali bertanya balik mengenai kondisi saya. Tentu saya pastikan bahwa saat itu kondisi saya cukup sehat serta diberikan kelancaran selama pendakian. Yaa ... Itu sedikit gambaran mengenai komunikasi saya dengan Mamah saat berada di pendakian.

28 April 2017 siang, lepas beberapa hari setelah pendakian Kerinci, dan saat itu saya telah kembali beraktivitas di outlet Zushioda Padang, handphone menandakan beberapa pesan WhatsApp masuk. Salah satunya dari tante saya di Depok yang mengirimkan foto Mamah sedang di Uap di salah satu klinik disana. Saya cukup khawatir dengan foto itu, karena begitu saja keinginan untuk pulang sangat kuat. Tetapi saya kembali berpikir bahwa sebaiknya dan selalu berharap bahwa kondisi kesehatan Mamah dapat kembali pulih secara perlahan. Menjelang Maghrib, di sela waktu senggang saya, kembali saya menanyakan kabar kesehatan Mamah. Saat itu, keluarga di Depok tidak satupun membalas WhatsApp yang saya kirimkan. Namun sekitar pukul 21.00 wib adik mengirimkan kembali foto Mamah yang sedang terbaring lemah dengan selang serta tabung oksigen sebagai pendamping tidurnya. Ketika itu pula, keinginan untuk pulang rasanya tidak dapat tertahan lagi. Seketika saya bergegas menuju ATM terdekat untuk mentransfer sejumlah dana sebagai pembayaran tiket yang beberapa menit sebelumnya saya pesan, agar keesokan harinya, di jam 11.00 wib, saya memiliki flight balik.

Setelah semuanya terencana, kembali saya melanjutkan aktivitas closing harian serta briefing mingguan dengan para staff, dimana hari itu adalah hari Jum'at, jadwal yang saya atur sebagai briefing mingguan. Tidak lama setelah saya memulai briefing, kembali handphone berdering dengan nama adik sebagai tanda di panggilan masuk. Dan sebelumnya, adik menanyakan via WhatsApp kapan saya bisa pulang dengan segera. Dikarenakan sedang mengambil briefing kepada para staff, saya sama sekali tidak mengetahui bahwa adik saya bertanya seperti itu. Briefing saya akhiri dan dengan segera saya angkat panggilan di ujung sana, dan betapa terkejutnya saya mendapati adik saya mengabarkan bahwa Mamah sudah lebih dulu kembali ke sisi Allah SWT. Innalillahi wa inna'ilaihi roji'un ...,, Mamah yang saya sayangi, teramat saya sayangi, dengan cepat telah meninggalkan kita semua.

Seketika itu pula saya langsung mencari flight sepagi mungkin tanpa berpikir untuk merefund flight yang sebelumnya sudah saya pesan. Di penantian hingga pagi menyingsing, teringat sosok Mamah yang bahkan pada saat itu saya tidak percaya akan secepat ini meninggalkan kami sekeluarga. Teringat kembali semua pesan-pesan sebelumnya, semua pengorbanan yang tidak mungkin untuk saya tulis disini, karena begitu susahnya Mamah hingga saya dapat menjadi seperti yang teman-teman lihat. Saya begitu bangga mempunyai sosok ibu seperti Mamah. Sangat bangga!!

Saya sadar, saya belum dapat membuat Mamah bangga, belum dapat membuat Mamah bahagia dengan melihat anak sulungnya berkeluarga. Tetapi setidaknya, saya akan selalu berjuang dengan pesan yang sudah Mamah ingatkan jauh sebelumnya. Pesan sekaligus do'a terbaik sebagai bekal saya di setiap perjalanan hidup sampai nantinya dimana saya berakhir. Mamah adalah pelita hati bagi saya, inspirasi serta semangat saya di dalam beraktivitas.

Miss u so much Mom ... Semoga bahagia disana 🙏🙏🙏

Senin, 15 Agustus 2016

Re Born ( day )

Depok, 16 Agustus 2016
Waktu menunjukkan pukul 00.50 wib tepat saat saya sampai di rumah. Secangkir kopi dan segelas teh hangat manis menjadi teman setia yang selalu menyambut kedatangan saya setiap kali habis pulang bekerja. Hal yang sudah disiapkan oleh ibu sebelumnya saat saya dalam perjalanan pulang.
Beberapa "seruputan" dan satu batang rokok yang saya nyalakan menjadi aktivitas wajib setelah saya membereskan dan sedikit membersihkan badan sehabis perjalanan. Satu hal yang membuat sekumpulan rasa lelah berubah menjadi rasa santai. Ingin sekali saya segera beristirahat, namun benak yang selalu mengawang menjalankan simpuls saraf perintah saya yang menuju ke otak agar tidak dulu terlelap. Sesuatu yang kiranya sudah menjadi ganjalan pikiran selama perjalanan pulang. Membuat suatu tulisan baru sebagai penyambut "Hari Spesial", bagi saya pribadi. Yaa !! RE BORN ( DAY ). Suatu kata yang bermakna terlahir kembali. Suatu ulangan waktu yang selalu berulang setiap tahunnya di dalam satu hari. RE BORN. Satu kata yang begitu saja timbul di benak saya saat dimana saya beristirahat sejenak di salah satu minimarket di kawasan Cimanggis, Depok, saat perjalanan kembali pulang ke rumah. Satu kata yang membuat diri ini tidak ingin begitu saja larut oleh kelelahan bekerja. Satu kata yang harus saya publikasikan di blog sebagai pembuka di hari kelahiran saya.

Depok, 17 Agustus 1987. Senin pagi di sebuah Rumah Sakit di kawasan Jalan Raya Sawangan. Rumah Sakit Umum Bhakti Yudha namanya. Saya terlahir dari rahim seorang ibu yang bernama Asnah dan bersuamikan Hardjono, Ayah saya. Ayah pada saat itu, tidak lain adalah seorang pegawai swasta dari rumah sakit yang bersangkutan. Lebih kurang, dua puluh lima tahun Beliau mengabdikan dirinya sebagai karyawan disana. Dan, disana pula keduanya dipertemukan pada awal mula, sebelum bersepakat untuk menuju jenjang pelaminan, dimana pada saat itu, Ibu sedang dirawat untuk dilakukan operasi dikarenakan terkena penyakit usus buntu.

Kembali kepada saya, waktu pada saat itu menunjukkan pukul 06.30 wib pagi. Yaa, tepat dimana sebagian besar masyarakat merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tercinta, hari dimana setiap bangsa Indonesia terbebas dari belenggu penindasan penjajah selama lebih kurang tiga setengah abad atau tiga ratus lima puluh tahun oleh Belanda. Waktu yang tidak sebentar bagi kita semua jika dibayangkan. Saat itu, saya terlahir normal, dengan memiliki nama lengkap ASHADI EKO BHAKTI PRIATANTO. Nama yang cukup panjang. Nama tersebut atas pemberian dari Ibu saya. Beliau berinisiatif, jika nanti mempunyai anak, akan diberikan nama yang panjang, dikarenakan semua saudaranya diberikan nama yang pendek, bahkan hanya cukup diucapkan dengan satu kata. Alasan yang cukup menggelikan bagi saya sebenarnya. Tetapi, dibalik nama tersebut, terdapat beberapa maksud sehingga jadilah nama seperti itu. Saya ingin sedikit menguraikan mengenai nama saya. AS HA DI EKO BHAKTI PRIATANTO. Di awal kata, sengaja saya beri spasi. Kenapa?? Berikut penjelasan saya : AS = berasal dari suku kata terdepan nama Ibu saya, yaitu ASNAH dan HA = berasal dari suku kata terdepan nama Ayah, yaitu HARDJONO. Begitupun DI = berasal dari salah satu suku kata nama dokter yang pada saat itu menangani proses persalinan kelahiran saya, yaitu dr. DIDI. Mengenai kata berikutnya, yaitu EKO, seperti arti pada umumnya orang jawa, yang memiliki makna Satu/Pertama yang menandakan bahwa saya adalah anak pertama dari Ayah dan Ibu. Berikutnya mengenai kata BHAKTI, menandakan bahwa saya terlahir di RSU BHAKTI YUDHA. Dan PRIATANTO sendiri menjelaskan bahwa saya terlahir sebagai bayi laki-laki. Seperti itu lah kira-kira maksud dari nama saya tersebut.

RE BORN, yang memiliki makna sebagai terlahir kembali, menunjukkan bahwa di dalam pemilihan judul, saya berharap bahwa apa saja, selama lebih kurangnya satu tahun kebelakang, yang sudah saya lalui menjadi suatu pelajaran agar saat dimana saya "terlahir kembali", saya dapat menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Sebuah kata yang sederhana namun sarat oleh makna bagi saya.

Setengah jam sudah berlalu dari waktu kepulangan saya tadi. Jam menunjukkan pukul 01.35 wib. Rasa kantuk yang mulai menghinggapi selalu saya "lawan" dengan kembali menyeruput kopi yang masih tersaji. Begitupun segelas teh manis hangat, yang masih menunggu giliran untuk kembali saya habiskan. Belum cukup rasanya jemari ini ingin menghentikan "tariannya" di keyboard handphone yang saya jadikan sarana sebagai penulisan tulisan ini. Entah kenapa, saya merasa, dengan saya menulis suatu tulisan, apapun halnya, saya merasakan satu kepuasan tersendiri terhadap apa yang saya tulis. Tidak berpikir untuk siapa saya menulis, atau seberapa banyaknya orang yang membaca tulisan saya ini. Tetapi dengan satu harapan, siapapun yang membacanya, semoga mendapatkan suatu informasi atau bahkan inspirasi untuk melakukan hal lain yang ingin dilakukannya. Terkadang, menulis memang tidak dapat dipaksakan. Butuh situasi serta mood yang tepat guna merealisasikan suatu karya tulis hingga selesai, terlebih apa yang menjadi bahan tulisan tersebut berupa suatu informasi atau hal yang sangat penting. Beberapa tulisan saya yang sudah dapat saya publish, merupakan kumpulan kejadian di dalam suatu perjalanan dimana setiap detail yang saya ingat, selalu saya coba tuangkan di dalam tulisan tersebut. Beberapa terkadang loose, atau perlu suatu editan dengan satu dan lain alasan yang mendasarinya. Saya bermaksud hanya ingin membagi pengalaman dengan "trip story" tersebut sebagai "teman ringan" dikala waktu senggang kalian.

Lebih kurang satu jam, waktu yang saya butuhkan untuk menghabiskan secangkir kopi yang menemani saya menulis tulisan ini. Masih ada segelas teh manis hangat yang dapat menemani saya untuk dapat menulis beberapa panjang paragraf selanjutnya.

1987. Dua puluh sembilan tahun berlalu sampai detik ini. Suatu perjalanan yang cukup panjang, yang menandakan seseorang suatu lebih dari sekedar dewasa dan menjadi "orang". Menjadi suatu pribadi yang tidak saja hanya memikirkan dirinya sendiri, tidak berpangku tangan kepada orang lain, dan berhak menentukan arah jalan kedepannya. Bagi saya, apa yang telah saya jalani sejauh ini adalah suatu perjalanan karier yang panjang. Semisal, saya pernah bekerja sebagai pramuniaga saat awal karier saya, yang saya jalani berbarengan dengan kuliah saya. Saya pernah menjadi security di sebuah apartemen mencakup pusat perbelanjaan terbesar di kawasan jakarta pusat, serta bertahan dengan seperti apa saya sekarang ini. Saat dimana kematangan berpikir serta passion diri timbul seiring waktu yang saya jalani selama saya menekuni pekerjaan yang saat ini saya geluti. Di awali oleh pengalaman sebagai daily worker saat terjun pertama kali di dunia kuliner, beranjak menjadi waiter serta berujung kepada captain di sebuah Rumah Makan khas Sunda yang namanya sendiri sudah cukup besar bagi kalangan masyarakat umum menengah atas. Disana, banyak sekali hal yang dapat saya pelajari, semisal seperti apa cara melayani yang baik, cara melakukan pendekatan terhadap tamu guna memberikan service terbaik, serta beranjak kepada seperti apa diri kita memenej para bawahan saat sudah memiliki kewenangan sebagai atasan. Tidak terkecuali saat ini, dimana kapasitas saya di Zushioda, selain sebagai staff pusat yang menghandle sebuah outlet atas kepemilikan kakak sepupu, juga meliputi sebagai trainer yang dimana saya mempunyai tanggung jawab penuh untuk memberikan pelatihan kepada calon staff baru, terutama di daerah, dimana cabang Zushioda berada. Banyak hal yang saya alami selama menjalani training di setiap daerah. Tidak saja hal yang menggembirakan, tetapi juga kesusahan yang sudah menjadi sisi lain yang mengikutinya.

Seruputan pertama sudah untuk segelas teh manis hangat yang tersaji. Jam sudah semakin beranjak pagi, pukul 02.06 wib. Mata sudah mulai terkantuk, serta badan sudah merasakan letih yang "berkecukupan". Tetapi sekali lagi, jemari tangan ini masih saja ingin menuliskan apa yang terlintas di benak. Sedikit saya ingin mengungkapkan mengenai harapan saya di usia yang genap dua puluh sembilan tahun keesokan harinya. Pertama, mengenai karir saya pribadi di Zushioda. Semoga di waktu yang akan saya jalani, saya selalu diberikan kesehatan serta keluasan ilmu agar dapat saling berbagi dengan sesama rekan kerja, baik di outlet pusat maupun di daerah. Semakin banyak ilmu yang saya berikan, tentu akan semakin banyak pula pelajaran dari berbagai sisi mengenai hal yang bersangkutan. Semoga saya tetap diberikan keluasan berpikir dan dijauhkan dari sifat sombong dan takabur terhadap ilmu yang telah saya dapat. Hal kedua mengenai pribadi saya sendiri. Saya termasuk kedalam pribadi yang emosional, terkadang tidak dapat berpikir panjang serta mengedepankan ego yang timbul saat suatu masalah menghadang di depan. Semoga dengan semakin bertambahnya usia, semakin saya mengalami suatu masalah yang satu dan masalah yang lainnya, saya diberikan kesabaran yang luas dalam menghadapinya serta dapat memilih jalan terbaik sebagai satu solusi penyelesaian. Dan hal ketiga, yang tidak kalah pentingnya. Mengenai jodoh. Jika berbicara mengenai hal ini, saya akan menyerahkannya kembali kepada Allah SWT. Saya hanya dapat berdoa dan berharap, dapat dipertemukan dengan orang yang terbaik, bukan berdasarkan pertimbangan saya pribadi, tetapi atas dasar rencana Allah SWT. Sebaik-baik perencana, adalah SANG MAHA PENCIPTA. DIA MAHA MENGETAHUI apa yang kita rencanakan.

Hari semakin pagi, saat saya kembali membakar rokok sebagai penghilang rasa kantuk yang sepertinya sudah tidak dapat saya tahan lagi. Saya akan habiskan rokok, kemudian beranjak untuk merapatkan punggung saya dikasur. Apa saja yang saya tuliskan di atas, merupakan spontanitas dari apa yang terlintas di benak saat ini. Tidak ada tujuan tertentu di dalam tulisan ini, selain sebagai "persembahan" bagi diri saya pribadi yang akan genap berusia dua puluh sembilan tahun pada tujuh belas Agustus keesokan harinya. Hari dimana tidak saja sebagai peringatan kelahiran saya, tetapi juga sebagai hari bersejarah bagi bangsa Indonesia. Hari Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ke - 71 tahun. Sebuah usia yang sudah cukup renta jika diibaratkan sebagai seseorang. Saya pribadi berharap, semoga segala kondisi di berbagai bidang di negeri ini, dapat menjadi lebih baik lagi, terutama dalam pengelolaan Sumber Daya Alamnya sendiri yang merupakan hak semua warga negara Indonesia.

Sebagai akhir dari tulisan ini saya mengucapkan DIRGAHAYU NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA KE - 71.

MERDEKAAAAA !!!!

Sabtu, 13 Agustus 2016

CRASH !!!

Semarang, 17 Juli 2016
Pagi yang cukup cerah. Saya terbangun oleh sedikit bias cahaya yang mengintip lewat jendela penginapan. Saat itu adalah waktu untuk check out kamar dan segera bergegas meninggalkan kota Semarang. Suara gemerisik shower memberitahu saya bahwa teman satu kamar sudah lebih dulu bangun dan bersiap. Ferdi. Teman satu kamar saya. Kota Semarang adalah rangkaian trip terakhir kami di dalam beberapa hari ini. Satu kamar lainnya yang berbeda lantai diisi oleh Aang dan Khrisna. Rekan saya yang lain, yang secara bersama ber "hiking" ria menuju puncak Prau di wilayah Dieng beberapa hari sebelumnya.

Jam pada saat itu menunjukkan pukul 06.15 wib. Saya menyalakan sebatang rokok dan menyiapkan secangkir kopi sambil menunggu Ferdi selesai dengan mandinya. Saat menikmati keduanya di bangku sofa di samping tempat tidur, saya merasakan bahwa kondisi pada pagi itu sedikit kurang fit. Namun, saya beranggapan bahwa saya bisa mengistirahatkan badan ini selama panjang perjalanan menuju Jakarta nantinya. Satu batang rokok telah habis, dan Ferdi pun telah keluar yang artinya saya harus cepat bergegas untuk kemudian kami berempat, bersama Aang dan Khrisna bertemu di lobby sarapan penginapan.

Saat sarapan tiba, pukul 07.00 wib, kami berkumpul di satu meja sedangkan tas Carrier kami tempatkan berjajar di sisi lainnya. Tumis pakcoy ( sawi sendok ) beserta segelas orange juice menjadi pilihan menu sarapan saya pagi itu. Dua puluh lima menit kira-kira waktu yang kami habiskan untuk melahap semua menu yang kami pilih saat itu. Tidak lupa setelahnya, kami memesan taksi kepada resepsionis untuk menjemput kami dengan segera di lantai dasar penginapan.

Cukup lima belas menit waktu yang kami tempuh dalam perjalanan menuju Stasiun Tawang dari tempat penginapan kami. Tidak terlalu jauh dan kondisi pada saat itupun, terlihat masih lumayan lengang. Maklum, hari Minggu, dimana aktivitas sebagian orang berpusat kepada CFD ( Car Free Day yang ditempatkan di seputaran Simpang Lima. Sesampainya kami di Stasiun Tawang, rangkaian kereta yang akan membawa kami menuju Jakarta telah tersedia di jalur satu. Kami memilih perjalanan pulang dengan menggunakan kereta api Menoreh. Jadwal yang tertera di masing-masing tiket kami adalah pukul 08.00 wib. Hanya tersisa beberapa menit lagi menuju awal keberangkatan ketika saya kembali melihat jam di tangan.

SEMARANG - JAKARTA, 17  JULI 2016
Selama di perjalanan, saya terlibat percakapan oleh ketiga teman saya ini seputar destinasi lain setelah pendakian Prau yang rencananya akan direalisasikan dalam waktu dekat. Seperti halnya Karimun Jawa, Semeru, dan Kiluan di Lampung Selatan. Namun, Semeru sepertinya akan menjadi destinasi berikutnya bagi kami. Tidak terasa sudah beberapa jam kami lepas dari Stasiun Tawang pagi tadi. Waktu menunjukkan pukul 11.30 wib saat laju kereta api Menoreh memasuki Stasiun Cirebon Prujakan. Hanya beberapa jam lagi, perjalanan kami akan berakhir. Saat itu, handphone saya memberi tanda bahwa ada pesan masuk yang menghampiri. Ternyata pesan melalui WhatsApp dari kakak sepupu saya. Sedikit terpaku setelah beberapa detik saya membacanya. Pesan tersebut mengabarkan bahwa salah satu klien saya di dalam pekerjaan saya, yang berasal dari luar kota akan menyempatkan diri singgah di outlet Zushioda, outlet sushi di bilangan Grand Galaxy City, Bekasi, tempat dimana sehari-harinya saya bekerja. Seperti halnya di awal tulisan, bahwa kondisi kebugaran saya pada hari itu sedikit kurang fit, ditambah perjalanan saya sendiri yang belum sampai Jakarta. Kakak sepupu saya pun mengabarkan di pesan tersebut bahwa ia pun sedikit kurang sehat. Tetapi memang bila untuk urusan pekerjaan, seperti apapun kondisinya, saya dan kakak sepupu termasuk orang yang "amat sangat" menghargai pekerjaan itu sendiri. Tidak ada kata "tidak" untuk kami berdua bilamana dihadapkan dengan urusan outlet, terlebih klien kami ini berasal dari luar kota yang bisa dibilang waktunya teramat sibuk, bila harus sengaja menyempatkan singgah di outlet pusat. Jemari saya membalas "IYA" atas pesan WhatsApp kakak sepupu terhadap kesediaan saya nantinya untuk menemui Mas Edwin, klien yang saya maksud. Pribadi yang begitu sederhana, "humble" dengan setiap orang di sekitarnya dan salah satu klien yang memiliki hubungan cukup dekat dengan saya pribadi.

JAKARTA, 17 JULI 2016
Pukul 14.35 wib, rangkaian kereta api Menoreh perlahan melambatkan lajunya. Akhir dari perjalanan lebih kurang enam setengah jam menyiratkan kelelahan di masing-masing lekuk garis wajah kami. Saat itu, mentari sore menyambut kami cukup terik di pelataran peron Stasiun Jatinegara. Sedikit goyah langkah kaki saya bergerak maju menuju loket tiket Commuter line untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Depok Baru. Setelahnya, saya dan ketiga rekan kembali beranjak menuju peron dimana dalam beberapa menit lagi, tibalah Commuter Line yang akan membawa kami singgah di Stasiun Manggarai, sebuah stasiun transit bagi saya yang ingin melanjutkan perjalanan menuju arah Bogor. Begitupun dengan Khrisna, yang akan kembali menuju tempat tinggalnya di kawasan Bintaro. Maka di saat kami tiba di Stasiun Manggarai, kami berempat memutuskan untuk berpisah. Hanya Aang yang tetap ikut bersama saya menaiki Commuter Line menuju Depok. Untuk Ferdi sendiri, dia memutuskan tidak langsung pulang ke arah Depok bersama saya, dikarenakan ada sedikit keperluan lain.

DEPOK, 17 JULI 2016
Hanya setengah jam perjalanan yang saya dan Aang butuhkan selama di Commuter Line yang kami tumpangi dari Stasiun Manggarai. Setibanya di Stasiun Depok Baru, saya pun berpamitan dengannya untuk segera menuruni Commuter Line. Aang sendiri, akan mengakhiri perjalanannya di Stasiun Depok Lama untuk kemudian menunggu jemputan dari rumahnya. Rintik hujan menyapa saya sepanjang perjalanan dari peron menuju tempat "mangkalnya" angkutan umum yang akan saya tumpangi berikutnya. Berat beban Carrier sepertinya sedikit menghambat laju langkah saya dikarenakan rintik hujan menjadi semakin deras.

Jarum jam dinding di rumah saya menunjukkan pukul 17.00 wib ketika saya mengetuk mengucapkan salam kepulangan saya. Terlihat ibu di rumah menyambut saya dengan senyum khasnya. Berbagai pertanyaan sepertinya langsung menjadi tugas pertamanya di dalam menyambut kepulangan saya di rumah. Berbagai cerita pula dapat saya sampaikan kepada Beliau sepanjang perjalanan saya sebelumnya.

Setelah merapihkan segala perlengkapan perjalanan yang saya gunakan sebelumnya, kembali teringat di benak akan janji saya untuk segera bergegas ke outlet Zushioda. Lelah dan kantuk yang sudah "menyerang" di setengah perjalanan saya sebelumnya, coba tidak saya hiraukan. Segera bergegas mandi dan membuat secangkir kopi untuk melawan kedua rasa itu.

Adzan Maghrib berkumandang setelah saya menyeruput "tetes terakhir" di secangkir kopi yang saya buat. Setelah beberapa menit kemudian, saya mulai bersiap untuk mengawali keberangkatan saya kembali menuju Bekasi dengan kedua rasa lelah dan kantuk yang sepertinya tetap setia bersama saya sepanjang petang hari itu. Tanpa diduga, rintik hujan kembali menyapa dari hitamnya langit yang masih menampakkan bisa jingga sisa petang. Saat itu, masuk sebuah pesan WhatsApp di handphone, yang ternyata pemberitahuan dari Mas Edwin, bahwa ia akan datang di outlet sekitar pukul 21.30 wib jika tidak ada kendala. Sebelumnya, dikarenakan mengetahui kondisi saya saat itu yang sehabis melakukan perjalanan jauh, Mas Edwin sempat menawarkan untuk menjemput saya. Tawaran yang teramat baik bagi saya dan cukup merepotkan baginya. Begitu yang ada di benak saya saat itu. Saya ucapkan terima kasih atas tawarannya dan membalasnya bahwa saya akan datang menggunakan sepeda motor kesayangan saya sehari-hari. Rintik hujan yang semakin menjadi tidak menyurutkan niat saya untuk memanaskan mesin sepeda motor yang akan saya gunakan nanti.

BEKASI, 17 JULI 2016
Sepanjang perjalanan menuju Bekasi, saya pacu laju sepeda motor di kecepatan yang tidak terlalu besar. Mungkin hanya sekitar 50-60 km/jam, ditambah kondisi jalan pada saat itu yang cukup licin dikarenakan rintik hujan yang cukup merata di beberapa wilayah yang saya lewati. Satu setengah jam perjalanan yang saya butuhkan untuk sampai di lokasi outlet Zushioda di bilangan Grand Galaxy City - Pekayon, Bekasi. Jam di tangan saya menunjukkan pukul 20.30 wib. Disana, rintik hujan yang di awal menemani saya dari keberangkatan, tidak nampak sama sekali. Cuaca di seputaran Bekasi pada saat itu cukup cerah namun, hanya beberapa sinar bintang yang mengintip dari gelapnya langit yang cenderung berawan. Saya menyapa rekan kerja saya yang pada saat itu sedang menyiapkan orderan kepada dua buah table yang terisi oleh kedatangan tamu. Dedi, seperti halnya saya, bertugas menghandle orderan sushi. Maman serta Nurul lebih bertugas sebagai "cook helper" serta waiters yang melayani pesanan para tamu.

Saya kembali membakar rokok di ruang depan outlet yang tersedia. Ditemani secangkir kopi, saya mencoba untuk sedikit merekatkan punggung dengan sandaran kursi. Rasa kantuk yang kembali menyapa membuat "seruputan" saya terhadap secangkir kopi yang ada begitu bersemangat. Dengan harapan, setidaknya rasa itu akan jauh berkurang setelah saya kembali menghabiskan sampai "tetes terakhir".

Sekitar pukul 21.45 wib, dimana seputaran waktu yang telah saya, dan Mas Edwin sepakati untuk bertemu, tibalah sebuah Vellfire bercat putih memarkir di halaman depan outlet. Mobil yang sudah tidak asing lagi bagi saya. Dalam hitungan menit, saya kembali berjumpa dengan Mas Edwin, yang beberapa bulan lalu saya temui ketika berkunjung di Purwokerto, kota dimana salah satu cabang Zushioda berada. Salam serta obrolan "khas" kami berdua mengalir begitu saja di awal perjumpaan. Tidak ada formalitas dan kesan kaku yang tergambar darinya. Di dalam beberapa menit perbincangan kami berdua, tibalah kakak sepupu saya, Bang Yodha, yang tidak lain adalah Master Franchise dari brand Zushioda itu sendiri, yang sedikit "memaksakan" kondisinya untuk bergabung bersama saya dan Mas Edwin. Saat itu, Bang Yodha sedang merasakan migrain akut, yang sudah menjadi "langganan" di kesehariannya di dalam berbagai aktivitas pekerjaannya.

Berbagai obrolan serta diskusi terlibat antara kami bertiga di ruang depan outlet. Banyak hal yang kami bahas pada saat itu, entah menyangkut pekerjaan, kondisi masing-masing outlet, hingga modifikasi mobil dan sound menjadi bahan bincang malam kami. Hingga tanpa terasa, waktu semakin berjalan larut sampai pada saatnya perbincangan kami berakhir di sekitar pukul 23.30 wib. Mas Edwin lebih dulu berpamitan kepada kami semua untuk kemudian Bang Yodha menyusul setelahnya.

Malam saat itu semakin larut. Lepas satu jam melewati tengah malam, tepatnya pukul 01.00 wib, saya bergegas meninggalkan outlet, setelahnya sebelumnya memastikan rekan kerja saya yang lain sudah selesai di dalam aktivitas closingnya masing-masing. Sepeda motor kembali saya panaskan untuk beberapa saat kemudian, saya berpamitan kepada para rekan untuk pulang menuju rumah masing-masing. Sempat terlintas di benak saya sepanjang perjalanan pulang, semoga tidak ada hal yang menghambat, berhubung pada saat itu dompet saya tertinggal di rumah sewaktu pembongkaran Carrier. Hanya selembar uang lima puluh ribu rupiah yang tertinggal di sela-sela bagian dalam tas yang cukup melegakan saya, setidaknya bensin dan rokok saya "aman".

CIMANGGIS, 18 JULI 2016
Sepanjang jalur pulang, kondisi jalan yang sempat sebelumnya saya lewati saat berangkat tadi, sudah sedikit mengering, dimana hujan sempat turun beberapa waktu lamanya. Begitu pun dengan kondisi kebugaran saya, yang semakin saya rasakan sepanjang perjalanan pulang menuju Depok, semakin menurun. Hingga pada satu kesempatan di sekitar daerah Cipayung, dimana jalan lurus yang di kiri dan kanannya sudah tampak lengang, tiba-tiba saya memberhentikan laju sepeda motor dengan begitu tiba-tiba. Sepersekian detik mata ini sempat terpejam dan sedikit terkejut pada saat saya menekan handle rem depan. Untung saja, tidak ada kendaraan yang mengikuti saya dari arah belakang, dimana saya berhenti mendadak tepat di tengah jalan yang begitu sepi. Sedikit saya geser kaca helm ke bagian atas, hanya untuk sekedar memastikan arah jala di depan saya yang pada saat itu sebenarnya kosong melompong, tetapi dari sudut penglihatan saya, jalan tersebut seperti bercabang di kedua sisinya.

Saya kembali melanjutkan perjalanan pulang dengan memilih rute yang biasa saya lewati sebelumnya. Berbelok ke arah kanan, sepanjang jalur kelapa dua wetan serta berujung di pertigaan besar yang mengarah ke Jalan Raya Bogor. Saya pacu laju sepeda motor saya dikecepatan maksimal, dimana pada saat itu kondisi jalan sudah tampak lengang yang sebelumnya terjadi kemacetan di beberapa area jalan. Melewati perempatan lampu merah menuju arah Pal Kelapa Dua, saya tetap memacu laju sepeda motor dengan cukup kencang. Mungkin sekitar 80-100 km/jam nya. Ketika dimana saya tidak menyadari bahwa ada sebuah Mikrolet jurusan Gandaria-Kampung Melayu berhenti di sisi trotoar tepat di depan sebuah SPBU, laju sepeda motor tidak dapat saya hentikan. Lebih tepatnya saya menyadari hanya sepersekian detik bahwa ada sebuah kendaraan tepat di depan saya. Tidak dapat berbuat banyak, ditambah kondisi saya yang memang sudah sangat lelah, menghantamlah sepeda motor saya di bagian bodres belakang mikrolet tersebut. Seketika itu juga bagian kepala saya dengan keras beradu dengan kaca bagian belakang hingga hancur berantakan di sisi tengahnya. Tidak berhenti sampai disitu, bagian tubuh saya langsung berbalik terpental ke arah belakang sekitar satu hingga dua meter di bagian belakang Mikrolet tersebut. Saat tubuh tergolek lemas di aspal jalan dengan helm masing terpakai di bagian kepala, di kesempatan itulah saya baru menyadari, bahwa saya masih cukup beruntung dari insiden yang mungkin saja dapat merenggut nyawa saya seketika itu juga.

Dalam hitungan menit, saya coba untuk mengusahakan tubuh ini terbangun serta menjelaskan sebab kenapa saya bisa menghantam Mikrolet yang sedang menepi kepada beberapa orang yang langsung berkerumun di tempat kejadian perkara. Sebagian dari mereka adalah para sopir Mikrolet sejenis yang sedang berkumpul di sisi seberang jalan. Ada beberapa dari mereka yang menduga bahwa sebab dari saya menabrak Mikrolet tersebut adalah diakibatkan oleh pengaruh alkohol yang ada di diri saya. Seketika itu pula, saya langsung membantahnya, karena bisa saja anggapan tersebut akan menjadi sebuah pesan provokasi untuk menjadikan saya "bulan-bulanan" mereka saat itu. Dan untungnya, sopir terkait Mikrolet yang saya tabrak, cukup memahami penjelasan saya pada saat itu dan tidak menghiraukan sebagian rekannya yang beranggapan bahwa saya mabuk minuman beralkohol.

Cucuran darah terus saja membasahi lengan jaket yang saya gunakan serta sedikit rasa sakit di bagian depan mulut saya, yang ternyata saya kehilangan satu buah bagian gigi depan saya serta "sompal" di bagian gigi yang lainnya. Setelah beberapa saat dari kejadian, saat Mikrolet dan motor sudah berada di sisi dalam SPBU, dimana saat itu saya langsung terduduk lemas di area rerumputan, saya kembali membayangkan peristiwa yang baru saja terjadi. Terasa sedikit sakit di bagian bahu kanan, dimana posisi itu menjadi tumpuan saya saat terpental ke bagian berlawanan setelah menghantam kaca Mikrolet tersebut. Begitupun di bagian lutut kanan, sepertinya ada beberapa luka saat kaki memyeret jatuh saat bertumpu tadi, selain darah yang masih saja terus mengucur dari bagian dagu yang tampak sedikit sobekan kecil namun dalam diakibatkan oleh benturan terhadap kaca. Pada saat itu juga, saya berkomunikasi dengan sopir yang bersangkutan yang mana juga mengkhawatirkan kondisi saya. Sedangkan di satu sisi ia pun khawatir terhadap "nasib" angkot yang saya tabrak, karena bilamana angkot tersebut masuk bengkel beberapa hari, tentu saja ia harus memutar otak untuk memberikan kewajiban uang setor harian kepada bosnya. Dan itu pula yang menjadi soal mengenai pertanggungjawaban saya setelahnya.

Kembali kepada kondisi saya, yang masih sedikit "shock" dengan kejadian tersebut, saya bernisiatif untuk "sharing" foto kejadian di beberapa akun media sosial yang saya punya. Hal ini dimaksudkan agar mungkin saja beberapa teman saya yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian, dapat sedikit membantu saya guna menemani saya menjelaskan kronologis dan teknis pertanggungjawaban saya kepada pihak sopir terutama dengan bos sopir yang bersangkutan. Dan benar saja, saat saya memasukan foto kejadian, beberapa teman saya langsung merespon dengan cepat. Anriza ( Jawer ), termasuk salah satunya yang bahkan langsung berinisiatif menuju TKP ( Tempat Kejadian Perkara ) dikarenakan lokasi tinggal yang tidak begitu jauh, selain dirinya yang pada saat itu masih tetap terjaga saat dimana waktu kejadian sekitar pukul 02.30 wib dinihari. Selain Anriza, ada bung Etho dan bung Udin ( begitu kerap saya menyapa mereka dengan awalan "bung" hehehehe ... ), yang juga langsung merespon foto kejadian yang baru saja saya upload di akun media sosial saya.

Tidak hanya beberapa teman saya yang langsung merespon perihal kejadian ini. Saat sebelumnya saya pun coba memberitahukan hal ini kepada Mas Edwin yang baru saja saya temui di outlet Zushioda beberapa jam sebelumnya. Tidak butuh waktu lama, ia cepat merespon informasi dari saya dan segera bergegas menuju lokasi. Saat itu pun saya dan sopir bersepakat untuk memberikan pengobatan terlebih dahulu kepada saya, dengan mengantarkan saya ke Rumah Sakit Pasar Rebo, dimana teman-teman saya yang saya maksud di atas dan Mas Edwin sendiri tiba disana dalam beberapa waktu setelahnya. Berbagai pertanyaan kembali dilontarkan kepada saya, baik dari beberapa teman tersebut maupun dari beberapa perawat yang menghandle luka saya di beberapa bagian tubuh. Setelah saya jelaskan secukupnya barulah mereka memahami kenapa saya bisa begitu lelah pada saat itu. Lebih kurang tiga puluh menit saya mendapatkan pertolongan pertama, terutama di bagian dagu yang sampai membutuhkan perban untuk sedikit menghambat laju darah yang terus menetes, saya pun bergegas untuk segera pulang, dimana ibu saya sudah begitu khawatir saat pertama mendengar kabar ini. Tidak lupa, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Mas Edwin khususnya yang menyempatkan dengan segera melihat langsung kondisi saya.

Saat itu, sekembalinya dari RS Pasar Rebo, saya diboncengi oleh Anriza menuju SPBU kembali, dimana sepeda motor saya dititipkan kepada pihak security disana, saat saya meninggalkan SPBU tadi bersama sopir untuk menindaklanjuti pengobatan pertama saya. Sebelumnya, saat dimana saya bersepakat untuk bertukar nomor handphone dengan sopir yang bersangkutan guna membicarakan lebih lanjut mengenai biaya penggantian dan lain sebagainya di RS Pasar Rebo, bung Etho dan bung Udin sudah lebih dulu bergegas kembali untuk ke SPBU guna memeriksa kondisi sepeda motor saya, apakah masih dapat berjalan atau tidak.

Sesampainya di SPBU dimaksud, dengan sedikit perasaan lega dan sedih, saya melihat seperti apa kondisi sepeda motor saya yang kurang lebih selama lima setengah tahun saya gunakan sebagai teman saya beraktivitas sehari-hari. Tetapi setidaknya, masih dapat dibawa pulang untuk diperbaiki nantinya. Saat itu, saya berpisah dengan Anriza dan mengucapkan banyak sekali terima kasih atas respon dan kesediannya mendatangi saya langsung ke TKP. Hal yang sedikit banyaknya membantu saya pribadi secara moril guna melupakan insiden yang beberapa saat baru terjadi.

Saya kembali dibonceng oleh bung Etho sedang bung Udin bersedia memakai sepeda motor saya yang ternyata masih dapat dikendarai sekalipun hancur total dibagian tengah depannya. Kumandang Adzan Subuh menyambut kedatangan saya setibanya di rumah, dengan kondisi yang sama sekali tidak saya terka jauh sebelumnya. Saat pintu rumah terbuka, kembali saya "disambut" oleh linangan air mata dari ibu yang sangat mengkhawatirkan kondisi saya sebelumnya.

Hanya dapat bersyukur bahwa Allah SWT masih memberikan saya nikmat hidup serta menegur saya dengan kejadian seperti ini. Banyak hikmah dan pelajaran yang saya ambil di dalamnya.

Tidak lupa, saya mengucapkan banyak terima kasih, terutama kepada seluruh teman-teman yang setelah mendengar kabar ini, langsung menjenguk saya keesokan harinya serta yang memberikan support, dan doanya bagi kesembuhan saya serta donasi kepada saya yang amat sangat membantu saya, baik sebagai biaya ganti rugi kendaraan, maupun terhadap pengobatan saya sendiri.

Semoga amal baik serta keikhlasan kalian semua mendapatkan ganjaran pahala yang setimpal dari Allah SWT. Amin.

Sekumpulan foto yang dapat saya sharing










Saya persembahkan tulisan ini kepada semua pihak yang telah membantu saya baik support, doa maupun berupa materi yang begitu berarti bagi saya, sebagai kekuatan mental serta moril untuk dapat kembali beraktivitas seperti sedia kala.

Depok, Agustus 2106.


Selasa, 09 Agustus 2016

from P to P ( Pekanbaru to Padang )

Pekanbaru, 18 Januari 2016
Mulut ini amat lahap menikmati setiap suapan tangan yang berisi nasi putih hangat, beserta sebiji buah pete bakar panas, untuk kemudian dicocol dengan sambal terasi yang baunya begitu menyengat. Tentunya bau wewangian dari terasinya yang begitu menggugah selera makan saya. Jarum jam di jam tangan saya waktu itu menunjukan pukul 17.28 wib. Untuk kondisi pada saat itu, normalnya di wilayah Depok-Jawa Barat, dimana tempat saya berdomisili, sudah pasti langit cukup gelap. Tetapi tidak di sini, di Pekanbaru provinsi Riau. Cuaca masihlah terang benderang, layaknya pukul 16.00 wib. Belum nampak matahari senja akan berpisah di ufuk barat. Saya masih terus lahap menyantap hidangan yang tersaji, nasi putih, kerupuk kampung, lalaban mentimun beserta kemangi, ikan bawal goreng serta tidak ketinggalan dua papan pete bakar, favorit saya. Ditemani oleh salah satu staff lokal disini, yang bernama Dwiki, saya terlibat oleh suatu perbincangan yang spontan saja baru kami bahas. Mengenai Dwiki, dia adalah salah satu staff cabang Zushioda untuk wilayah Pekanbaru, dimana brand tersebut adalah tempat saya bekerja sehari-hari di wilayah Bekasi. Kapasitas saya disini adalah sebagai trainer yang nantinya akan membantu beberapa staff baru di dalam pengenalan seputaran sushi. Meliputi prepare awal, operasional outlet dan lain sebagainya. Saya tidak akan membahas mengenai berbagai macam teknis disini. Saya mencoba menulis untuk bercerita mengenai pengalaman pertama saya di kunjungan kali kedua ke kota Pekanbaru, untuk mencoba mengunjungi kota Padang dengan mengendarai sepeda motor. Nahh ... kebetulan, apa yang saya maksud di atas mengenai perbincangan dengan Dwiki adalah ajakan saya untuk menemani berdua berkunjung ke kota Padang di malam itu. Mulanya, saya hanya sekedar bertanya kepadanya, apakah kota Padang indah? Seberapa menarik dan lamanya perjalanan menuju kesana bila harus dilalui dengan sepeda motor di malam hari? Dan beberapa hal lainnya yang secara tidak sadar juga menggugah Dwiki untuk menyetujui ajakan saya. Untuk informasi saja, di awal kunjungan saya kesini, belum begitu banyak yang harus saya kerjakan menyoal pekerjaan saya sebagai seorang trainer sushi, secara untuk kondisi outletnya pun masih dalam tahap pengerjaan oleh tukang, yang saya pikir butuh beberapa hari kedepan di dalam penyelesaiannya secara menyeluruh.

Kembali kepada ajakan saya tadi terhadap Dwiki, kami pun mulai menyusun rencana untuk waktu pemberangkatan sembari saya menghabiskan menu makan siang saya yang lumayan kesorean hehehe ... Saat itu, cuaca sudah beranjak gelap. Saat saya dan Dwiki sudah menghabiskan menu santap kami, makan bergegaslah kami berdua menuju penginapan saya. Tidak terlalu jauh, hanya sekitar lima belas menit, kami tiba di penginapan. Dwiki singgah sebentar di pendopo depan, untuk memastikan kembali apakah kami berdua akan berangkat malam itu dengan menggunakan sepeda motornya. Tidak perlu berpikir lama rasanya. Sayapun langsung saja mengiyakan dan memastikan kepadanya untuk kembali menjemput saya sekitar pukul 19.30 wib. Setuju. Satu kata itu yang kemudian kembali saya dengar dari Dwiki saat mendengarkan permintaan saya.

Jarum jam dinding dikamar penginapan saya menunjukkan pukul 19.40 wib. Dering telpon menghentikan sejenak aktivitas berpacking saya. Ternyata Dwiki mengabarkan bahwa dia sudah tiba di halaman depan gerbang penginapan. Saya melanjutkan untuk menyelesaikan packingan, dan segera bergegas menghampirinya dengan persiapan yang memadai. Sesungging senyum terlihat dari mulutnya yang menandakan bahwa akhirnya kami berdua akan berangkat malam itu menuju kota Padang dengan mengendarai sepeda motornya. Dwiki menyampaikan kepada saya, bahwa sebelumnya kami harus kembali dulu ke rumahnya karena dia dan terutama saya harus meminta izin terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya sekedar untuk memastikan keberangkatan kami yang terkesan "tiba-tiba". Ada sedikit rasa khawatir yang terpancar dari himbauan kedua orang tuanya, bahwa kami akan melakukan perjalanan malam itu juga dengan mengendarai sepeda motor. Saya pun sebenarnya belum mengetahui sama sekali seperti apa medan selama perjalanan menuju kesana. Dari informasi yang diberikan oleh kedua orang tuanya, menyiratkan bahwa apa yang akan kami lalui, terutama melakukan perjalanan di malam hari, terlebih dengan mengendarai sepeda motor teramat beresiko. Lalu lintas yang sepi, jarangnya pengendara motor di malam hari adalah beberapa info yang disampaikan kepada kami berdua. Tetapi, hal tersebut tidak mengubah rencana kami sedikitpun. Yang terpenting, dengan persiapan fisik dan sarana yang memadai serta doa yang mengiringi perjalanan kami, kami yakin bahwa akan sampai ditujuan dengan selamat. Semoga.

Tepat pukul 20.30 wib, setelah kami berdua mematangkan persiapan akhir, kami pun mulai berpamitan kepada kedua orang tua Dwiki. Semoga di perjalanan kami diberikan kelancaran serta keselamatan hingga sampai di tempat tujuan.
Saya belum tahu persis seperti apa perjalanan malam hari di jalur Sumatera, terlebih hal ini pun memang menjadi pengalaman pertama saya melakukan perjalanan malam dengan sepeda motor. Dwiki memboncengi saya dan mulai memacu sepeda motornya mengarah barat kota Pekanbaru, tepatnya akses keluar wilayah di seputaran daerah Panam. Di daerah ini, saya mulai dapat melihat sepanjang kanan dan kiri jalan, sudah sedikit berbeda dengan apa yang biasa saya jumpai di pusat kota. Padahal, letaknya tidak terlalu jauh. Kanan dan kiri wilayah ini lebih didominasi oleh beberapa bangunan ruko yang lebih dibangun menjauhi tepi jalan dan lahan berpasir di depannya yang dibiarkan begitu saja sebagai area parkir kendaraan. Dwiki terus memacu sepeda motornya dengan kecepatan kira-kira 60-80 km/jam, berhubung suasana jalan yang mulai menyepi ketika laju kami mengarah ke daerah Bangkinang. Disini, saya cukup takjub sekaligus terperangah, dengan apa yang saya lihat. Kanan dan kiri jalan hanya dihiasi semak belukar dan hamparan padang rumput cenderung berpasir dengan diselingi ilalang liar tumbuh diantaranya. Jauh dari kesan aman dan pencahayaan yang bisa dibilang tidak ada sama sekali. Tidak terbersit sama sekali pemandangan malam hari seperti ini di benak saya sebelumnya, bahkan untuk ukuran perjalanan malam hari di wilayah Jawa sekalipun. Saya hanya dapat berharap dan sedikit memastikan bahwa perjalanan kami akan baik-baik saja, terutama tidak terkendala dengan masalah internal di sepada motor yang kami kendarai, seperti bocor ban, dan sejenisnya. Karena jangan kan bengkel pinggir jalan, orang serta rumah warga pun tidak ada sama sekali di kedua sisi jalan yang kami lalui. Satu hal yang membuat hati saya sedikit merasa lega adalah kondisi badan jalan itu sendiri, yang boleh dibilang cukup mulus dan lebar untuk perjalanan di malam hari yang amat minim penerangan. Laju sepeda motor kami selepas bangkinang semakin mantap dengan kecepatan yang stabil dan kondisi kami berdua pun cukup fit untuk menghadapi serta merasakan cuaca dingin yang mulai menyelimuti perjalanan kami.

Payakumbuh, 19 Januari 2016
Menjelang tengah malam, sepeda motor kami masih tetap melaju di jalur jalan raya Bangkinang-Payakumbuh. Udara khas pegunungan yang dingin menyapu kedua kaca spion kami sehingga menimbulkan bercak embun yang sedikit menghalangi pandangan Dwiki, sebagai pengendara utamanya. Sekitar pukul 00.30 wib, Dwiki mulai mengurangi laju sepeda motornya karena medan yang kami lalui sudah didominasi oleh liukan yang memasuki celah antar tebing, yang mengharuskan dia selalu waspada saat berbelok melintasi setiap tikungan yang ada. Sedikit bincang dengan saya, bahwa beberapa saat lagi kami akan tiba di Jembatan Kelok Sembilan, dimana lokasi ini merupakan salah satu destinasi dan spot yang sangat mengagumkan, bahkan untuk skala di Indonesia. Menjadi tujuan dan tempat singgah yang indah bagi para pelancong yang ingin menuju Sumatera Barat dari provinsi Riau atau pun sebaliknya.

Setengah jam perjalanan berikutnya, akhirnya kami tiba di lokasi yang baru saja diperbincangkan oleh kami berdua. Waktu menunjukkan pukul 01.10 wib saat liukan nan indah sebuah konstruksi jembatan layang yang menghubungkan beberapa tebing besar, menyambut kedatangan kami berdua. Takjub!! Satu kata yang pertama terlintas di benak saya untuk sekedar membayangkan seperti apa keindahan pada dinihari itu. Semilir angin ginung kembali menerpa wajah lelah saya sesaat setelah membuka helm yang saya kenakan. Saat itu saya hanya memakai kaos oblong berbalut hoodie hitam, yang tentu saja tidak dapat melindungi tubuh saya terhadap dinginnya udara yang cukup membuat saya menggigil. Kami memilih untuk beristirahat sejenak di sebuah warung tenda di bagian atas jembatan agar dapat sedikit menikmati pemandangan di bawahnya yang membentang berkelok. Sekalipun saat itu, hanya lampu jalan yang sedikit membantu saya untuk melihat gambaran utuh terhadap wujud dari keseluruhan jembatan layang tersebut, tetap tidak menjadi halangan untuk saya menikmati hamparan liukan indah di temaramnya lampu malam. Dinamakan Jembatan Layang Kelok Sembilan, karena memang sesuai dengan namanya, kelokan dari jembatan tersebut berjumlah sembilan, yang mulai terbentang dari atas pertemuan tebing hingga bagian bawah tebing di seberangnya. Sungguh indah !!. Dibagian bawah sisi lainnya, masih terlihat utuh sembilan kelokan yang lama, hanya saja, wujudnya bukan seperti jembatan layang, melainkan sebuah kelokan yang menyisiri bagian tepi tebing yang lebar jalannya tentu tidak selebar jembatan layang yang ada saat ini.
Saat rehat sejenak di warung tenda tepian, saya memesan satu porsi mie instan kemasan, yang saya pikir cukup praktis serta sedikit mampu menutupi rasa lapar saya sewaktu lama perjalanan, serta kopi susu panas ( kopi nya diminum, lalu susunya dipegang ), begitu candaan yang popular saat ini hehehe ...

Lebih kurang satu jam waktu yang kami habiskan guna beristirahat sejenak di tempat ini. Menyegarkan kembali kondisi kami agar di perjalanan berikutnya, dapat sedikit lebih segar. Lepas lebih kurang pukul 02.00 wib, kami kembali meneruskan perjalanan menuju kota Padang. Kota berikutnya yang kami lewati adalah Payakumbuh, kota yang cukup sejuk karena berada di ketinggian pegunungan. Saat kami melintas Payakumbuh kota, sekitar satu setengah jam perjalanan dari lokasi Jembatan Kelok Sembilan, saya mendapati di kanan kiri jalan masih tersisa para pedagang kaki lima, yang didominasi dengan dagangan sate khas Payakumbuh. Sebagian dari mereka sepertinya sudah mulai berkemas untuk menutup dagangan gerobak tendanya. Laju motor kami terus melewati hingga sampailah kembali di jalur dimana sebagai perbatasan antara wilayah Payakumbuh dengan jalur menuju kota Bukittinggi. Di kota ini, tujuan kami berikutnya adalah suatu tempat yang mungkin bagi khalayak umum sudah tidak asing lagi, yaitu bangunan khas Sumatera Barat, Jam Gadang. Jarak tempuh sekitar dua jam perjalanan dari kota Payakumbuh. Sepanjang perjalanan, saya kembali disuguhkan oleh jalanan sepi namun mulus serta jalur yang cukup landai sehingga Dwiki dapat memacu sepeda motornya dengan kecepatan maksimal sekitar 80 km/jam. Cukup cepat untuk ukuran jalan yang terbilang tidak terlalu lebar. Kanan dan kiri jalan tidak berbeda jauh dengan yang saya dapati sebelumnya, yaitu berupa tetumbuhan liar seperti layaknya hutan serta beberapa rumah warga yang dapat dihitung jumlahnya setiap beberapa ratus meter jaraknya.

Bukittinggi, 19 Januari 2016 
Waktu menunjukkan pukul 03.15 wib saat kami mulai tiba memasuki wilayah kota Bukittinggi. Kota yang didalamnya terdapat beberapa objek wisata, seperti Goa Jepang, Ngarai Sianok serta bangunan Jam Gadang yang menjadi "Trademark" kota tersebut. Setibanya sampai dilokasi, saya cukup terkejut oleh keadaan sekitar, dimana untuk memasuki wilayah seputaran Jam Gadang, ternyata banyak anjing berkeliaran. Entah ini anjing peliharaan para warga sekitar atau memang seperti bagaimana, saya kurang dapat memastikan. Yang pasti, anjing-anjing tersebut bebas berkeliaran serta mengonggong nyaring setiap kami melangkahkan kaki menuju area terdekat Jam Gadang. Diseputarannya, saya banyak menjumpai pedagang emperan menggelar sebuah karpet untuk menjajakan dagangannya, seperti berbagai jenis gelang, jam tangan, sepatu sandal dan lain sebagainya. Cukup variatif dagangan mereka, dan tentu saja mereka akan lebih beroperasional saat hari sudah mulai terang. Kebetulan saja, baterai Handphone saya hanya tinggal beberapa bar saja, huffttt ... Setelah mengambil beberapa foto sebagai dokumentasi perjalanan, saya dan Dwiki kembali meninggalkan lokasi Jam Gadang, tetapi tidak langsung melanjutkan perjalanan. Waktu yang sudah terpakai untuk perjalanan sampai disini dari Pekanbaru, tidak dapat membohongi terhadap kondisi kami berdua yang sudah nampak cukup lelah. Kami memilih beristirahat di depan pelataran sebuah atm center, yang ternyata berbuah keberuntungan bagi saya pribadi, dimana di beberapa sudut terdapat stop kontak yang belum digunakan untuk mengisi beberapa spot brand atm yang lain. Saat mencobanya untuk mecharge handphone, ternyata berfungsi dengan baik. Alhamdulillah ... Rejeki anak soleh. Kami memutuskan untuk rehat disana beberapa waktu lamanya hingga baterai handphone terisi cukup penuh.

Sekitar pukul 04.00 wib, saat dimana baterai handphone sudah cukup terisi, kami memutuskan untuk kembali bergegas melanjutkan perjalanan menuju kota Padang yang kami perkirakan sekitar dua setengah jam perjalanan lagi. Saat itu, saya yang mendapat giliran untuk mengendarai sepeda motornya. Disebabkan kondisi Dwiki yang terlihat sudah mulai mengantuk, kami berdua tidak ingin mengambil resiko dengan adanya suatu insiden di tengah perjalanan nantinya.

Saya memacu sepeda motor dengan kecepatan rata-rata 50-60 km/jam. Cukup lambat untuk ukuran tipe motor sport seperti ini hahaha ... Tetapi itu hanya penyesuaian di awal saja dan untuk beberapa kilometer berikutnya saya sudah memacu motor dalam kecepatan maksimal sekitar 80-90km/jam dikarenakan hari yang sudah mulai beranjak fajar serta diiringi oleh rintikan gerimis yang menemani kami sepanjang sisa perjalanan. Saat sampai di wilayah Padang Panjang, dimana sebagian besar saya disuguhi oleh pemandangan kota, layaknya di Pekanbaru. Namun ada satu kekhasan tersendiri saat melalui kota Padang Panjang. Sepanjang tepi jalan, selain lampu penerangan yang cukup membantu kami melalui jalan yang sebenarnya tidak terlalu besar namun kondisinya amat baik, terpasang sejenis neon sign di setiap bawah lampu penerangan jalannya. Yang membuat saya cukup takjub, neon sign tersebut bertuliskan lafadz Asma'ul Husna, yang tepat berjumlah 99 buah. Subhanallah ... Kota yang begitu kental kereligiusannya.

Sesaat setelah melewati kota Padang Panjang yang kali ini lebih cenderung menurun, kanan - kirinya masih dihiasi oleh pemandangan tebing-tebing kokoh, sampailah kami berdua di wilayah perbatasan antar Padang Panjang dengan kota Padang itu sendiri. Saya memilih untuk terus memacu sepeda motor ketika kami menemui sebuah perempatan besar dengan fly over yang melintang di seluruh sisinya. Papan petunjuk hijau besar bertuliskan bandara mengarah ke arah kanan jalan memberikan isyarat bahwa saya memang harus terus berjalan lurus bila ingin memasuki kota Padangnya. Jam tangan saya menandakan pukul 05.45 wib saat dimana kami memasuki Jalan By Pass. Salah satu jalur utama di kota Padang yang memiliki "track" lurus cukup panjang dan berujung di pusat kota, yang rupanya tidak terlalu jauh dari pesisir pantai. Tidak terasa, perjalanan kami pun berakhir dan sampailah kami di kota Padang. Saya memutuskan untuk mengarahkan laju sepeda motor berbelok ke arah kanan jalan, tidak sabar untuk segera melihat bibir pantai di sana. Lebih kurang sekitar 150 meter jauhnya, deburan ombak dari kejauhan seperti layaknya suara yang memanggil kami agar segera menghampirinya. "Bisikan" angin laut sekilas menerpa telinga serta mengibaskan rambut saya yang sedikit mulai memanjang. Terbersit rasa bahagia dan puas, bahwa akhirnya saya pribadi dapat berkunjung ke kota ini. Salah satu kota di Indonesia yang sebenarnya saya dambakan untuk saya singgahi, layaknya Denpasar dulu, sebelum akhirnya beberapa waktu lamanya saya bekerja dan tinggal sementara disana. Lelah yang sebelumnya menghinggapi saya, serta rasa kantuk yang membuat mata ini teramat berat untuk sekedar menahan agar tidak berkedip, sedikit lenyap seketika. Tertutupi oleh hal-hal menyenangkan dan rasa puas yang besar. Tetapi, walau bagaimanapun juga, kami berdua tetaplah membutuhkan waktu untuk sekedar merebahkan tubuh serta meluruskan kaki agar segala kelelahan yang timbul selama delapan jam perjalanan Pekanbaru - Padang sirna secara total. Maka dari itu, saya memutuskan untuk memutar kembali sepeda motor untuk kemudian mencoba mencari penginapan yang letaknya tidak terlalu jauh dari lokasi semula kami berada. Setelah kurang lebih 15 - 20 menit kami menyusuri setiap jalan di kota Padang, akhirnya kami tertuju ke sebuah bangunan penginapan bercat hijau cerah bertuliskan Hotel Jakarta. Sebuah nama yang sebenarnya terletak ratusan kilometer jauhnya dari kota Padang sendiri hahahaha ...
Memasuki lobi penginapan, saya menanyakan kepada resepsionis mengenai ketersediaan kamar disana. Jam menunjukkan pukul 07.30 wib saat dimana kami melakukan check in kamar. Dengan biaya Rp. 200.000, kami mendapatkan kamar regular yang bisa dibilang cukup pas -pasan dari segi fasilitas. Tidak saja keberadaan AC yang "nihil" bagi kami, juga kondisi kamar itu sendiri secara keseluruhan. Tapi, hal-hal penunjang kenyamanan tersebut bukanlah sesuatu yang harus dipermasalahkan oleh saya ataupun Dwiki. Yang terpenting saat ini adalah kami mendapatkan kamar sebagai tempat sementara untuk kami beristirahat dan memulihkan kebugaran tubuh sebelum pada siang harinya nanti, kami akan berkunjung ke beberapa destinasi wisata di kota ini.

Padang, 19 Januari 2016
Istirahat kami berdua cukup panjang kali ini, hanya saja keinginan untuk berkeliling di beberapa ruas kota Padang memaksa kami untuk menunda dulu total rehat kami. Selama 4-5 jam kami tertidur pulas selepas check in di pagi hari tadi. Pukul 14.00 wib, kami segera bergegas untuk kembali keluar penginapan, memanaskan sepeda motor terlebih dahulu, sambil membuka handphone, bertanya info kepada "mbah gugel", lokasi mana saja yang terhitung wajib kami kunjungi selama kami berada disana. Destinasi pertama adalah Jembatan Siti Nurbaya. Sebuah nama jembatan yang tentunya tidak asing lagi dengan penamaan sang tokoh. Siti Nurbaya. Sebuah cerita rakyat yang begitu melegenda yang mengisahkan seorang gadis cantik jelita, yang dipaksa menikahi lelaki yang bukan pujaannya, disebabkan ayahnya yang terlibat hutang yang cukup besar. Dengan maksud, bilamana Siti Nurbaya menikah dengan lelaki tersebut, maka segala urusan hutang piutang sang ayah dianggap lunas. Lelaki tersebut tidak lain adalah Datuk Maringgih.

Setelah lebih kurang sepuluh menit sepeda motor kami panaskan, bergegaslah kami menuju destinasi pertama di kota Padang. Satu yang sedikit terlewati, sebelumnya kami berdua menyeberang jalan guna mengisi perut terlebih dahulu. Nasi Padang adalah menu yang kami pilih untuk santap siang kami saat itu hehehehe ...
Kembali kepada tujuan awal kami, menyinggahi Jembatan Siti Nurbaya. Lokasinya tidak terlalu jauh sebenarnya dari tempat penginapan kami. Sekitar 15 - 20 menit waktu yang kami butuhkan untuk sampai di tujuan. Sebagai gambaran, Jembatan Siti Nurbaya tidak berbeda jauh dengan jembatan pada umumnya. Lebarnya sekitar 6-8 meter, cukup untuk dilalui dua buah mobil yang berpapasan arah serta memiliki panjang sekitar 156 meter lebih kurangnya, yang membentang melintasi sungai Batang Arau dibawahnya. Di kanan kirinya berdiri kokoh beberapa tiang yang diujungnya terdapat lampu penerangan jalan, serta berhiaskan seperti pucuk kubah berwarna kuning keemasan. Setelah sampai di lokasi Jembatan Siti Nurbaya ini, saya segera menyempatkan untuk berfoto dengan latar belakang perbukitan hijau yang menjulang sebagai "background alam". Tidak lama, hanya sekitar sepuluh menit kami berdua singgah di Jembatan ini. Setelahnya, kami kembali melanjutkan perjalanan ke Pantai Air Manis. Dari namanya, bukan berarti air lautnya memiliki rasa yang manis yaaa hehehehe ... Dinamakan Pantai Air Manis berdasarkan nama desa/dusun tempat pantai itu berada, yaitu Air Manis. Dan, pantai ini memiliki nama lain yang lebih kesohor dan terkenal tentunya, bahkan oleh sebagian besar masyarakat di berbagai daerah di Indonesia. Ada yang tahu?? Hehehehe ...

Tepat ... Pantai Malinkundang. Tentunya tahu siapa tokoh ini. Sebuah cerita rakyat terbesar dari masyarakat Sumatera Barat, dimana mengisahkan seorang pemuda bernama Malinkundang yang durhaka kepada ibu kandungnya. Ketika kembali ke daerah dimana dia dilahirkan, dia tidak mengakui ibunya sendiri dikarenakan perasaan gengsi dan malu terhadap istri yang telah dipersuntingnya, yang pada saat itu melihat sang ibu sudah tua renta serta berpakaian lusuh, sementara sang anak telah menjadi orang yang sangat berkecukupan di rantau. Saya tidak akan bercerita bagaimana teknisnya sehingga pada akhirnya si Malinkundang anak durhaka berubah menjadi batu yang seakan bersujud meminta pengampunan dari seorang ibu yang begitu mendambakan buah hatinya kembali pulang.

Kembali kepada tujuan saya untuk mengunjungi Pantai Air Manis atau lebih dikenal dengan nama Pantai Malinkundang, lokasinya terletak di balik beberapa bukit besar yang sebelumnya menjadi "background" di Jembatan Siti Nurbaya. Jalan pintas yang kami tempuh amatlah terjal dan lebih bisa dibilang seperti jalan setapak yang cukup sempit. Lebih kurang, 15 menit kami menyusurinya, sampailah kami di ujung atas dari jalan setapak tersebut, yang nyatanya merupakan tepi jalan utama menuju lokasi Pantai Malinkundang. Kami mengikuti jalan yang terus menurun kembali serta berliku di beberapa menitnya, dan berakhir dengan landai berhiaskan rerumputan tumbuh tipis di sebagian bahu jalannya. Kanan-kiri jalan terdapat beberapa rumah warga sekitar, walaupun bisa dibilang tidak terlalu banyak. Hanya beberapa ratus meter saja, kami pun sampai di sebuah pertigaan, yang disebelah kanan jalannya terdapat gerbang menyerupai gapura bertuliskan "Selamat datang di Pantai Air Manis". Langsung sepeda motor kami belokan ke arah gerbang gapura tersebut. Saat memasuki kawasan pantai, kami dikenakan tarif Rp. 5000 per orang dan membayar biaya parkir kembali di dalamnya sejumlah Rp.2000., Sebenarnya lokasi pantai wisata ini, belumlah secara optimal dikelola oleh Pemda setempat. Tergambar dari retribusi parkir yang tampaknya hanya seputaran warga sekitar yang secara sukarela mengelola kawasan pesisir pantai ini. Hamparan pohon kelapa sudah menyambut kedatangan kami di awal sebelum kami mencoba berjalan menuju bibir pantai. Untuk pantainya sendiri, bentangan pasir putihnya cukup luas, dan garis pantainya pun cukup landai untuk area bermain bagi anak-anak. Lalu dimanakah letak batu Malinkundang berada?? Hal pertama yang menjadi pertanyaan saya ketika tiba di lokasi pantai ini. Namun, mengingat Dwiki sebelumnya sudah pernah berkunjung kesini, maka dengan segera saya diajak berjalan hingga ke sisi ujung sebelah kiri dari lokasi kedatangan kami di awal. Dua ratus meter lebih kurangnya kami menyusuri bibir pantai untuk sampai di lokasi yang saya maksudkan tadi.

Batu Malinkundang
Setibanya di lokasi, dimana batu Malinkundang berada, saya cukup dikejutkan oleh rupa batu itu sendiri yang menggambarkan seorang pemuda sedang bersujud, seperti tampak gurat penyesalan terhadap apa yang telah ia lakukan sebelumnya. Untuk sekedar info, berdasarkan berbagai artikel dari Google yang saya baca, semua ragam batu Malinkundang beserta kapalnya yang terbelah, yang juga berubah seketika menjadi batu adalah murni buatan dari manusia. Yang terpenting, cerita rakyat atau bisa dikatakan sebuah mitos untuk warga setempat, sudah begitu melegenda dan besar hingga seluruh pelosok Indonesia. Ada hikmah tersembunyi yang mengiringi cerita mitos seputar Malinkundang. Khusus untuk saya, sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan apakah semua ini hanya "settingan" sebagai penarik wisatawan luar atau seperti apa pastinya, yang jelas keindahan bentang alam kota Padang itu sendiri sudah cukup menarik siapapun yang ingin mencoba berkunjung kesana. Dijamin, akan sangat terpesona dengan sajian "lukisan alam" berupa tebing berbukitan serta laut sebagai landscape yang melatarinya.
Disekitar wilayah "settingan" batu Malinkundang sendiri, berdiri beberapa bangunan semi permanen yang menjajakan berbagai cenderamata khas wilayah setempat, seperti tas bermotifkan jam gadang, kaos dewasa maupun anak-anak bergambar Pantai Padang ataupun Pantai Malinkundang itu sendiri dan masih banyak lagi ragam lainnya. Selain itu, merekapun menjajakan makanan serta minuman ringan seperti berbagai jenis softdrink, mie instan dalam kemasan dan jajanan snack ringan lainnya. Saya dan Dwiki, memutuskan untuk menepi sebentar dikarenakan tidak lama berselang saat kami berdua tiba di lokasi, hujan rintik kembali menyambut kami dengan perlahan. Disaat menunggu gerimis sedikit mereda, saya sempatkan untuk memesan segelas kopi susu panas. Cukup pas untuk suasana hujan seperti ini.
Lebih kurang tiga puluh menit lamanya, hujan sedikit mulai mereda. Saya dan Dwiki pun memutuskan untuk mencoba berfoto di samping batu Malinkundang tersebut dengan sebelumnya menunggu terlebih dahulu beberapa rombongan keluarga yang juga ingin melakukan hal yang sama dengan kami berdua. Setelah tiba saatnya, mulailah saya berfoto terlebih dahulu untuk kemudian dilanjutkan dengan Dwiki. Tidak terlalu lama kami mengambil beberapa "jepretan" foto di lokasi, karena cuaca pun sudah semakin sore dan hujan pun tampak turun kembali. Langkah kami bergegas kembali menyusuri bibir pantai yang didominasi oleh hamparan pasir putih landai yang cukup luas.

Padang, 19 Januari 2016
Hujan turun semakin deras saat Dwiki memacu laju sepeda motornya kembali menuju penginapan di pusat kota. Tidak ada satupun persiapan yang kami bawa, seperti mantel, jaket, atau pun jas hujan sebagai antisipasi sebelumnya. Basah kuyup kami berdua dibuatnya saat hujan turun semakin deras. Sekitar pukul 18.30 wib, kami berdua tiba kembali di penginapan dan langsung memasuki area lobby dengan kondisi pakaian basah kuyup. Kami berdua tidak menghiraukan pandangan terkesan "heran" dari beberapa resepsionis yang berjaga di sana. Bersegeralah kami menuju kamar untuk segera "bersih-bersih" badan. Saat itu, saya pribadi memang tidak membawa salinan pakaian yang cukup dengan mempertimbangkan ternyata saya terjebak hujam disini. Apa boleh buat, celana pendek yang menjadi sisa satu - satunya sebagai "sandang" untuk kembali pulang ke Pekanbaru, saya keringkan terlebih dahulu di depan sebuah kipas angin yang terus saya nyalakan.
Kami memutuskan untuk kembali ke Pekanbaru sekitar jam 02.00 wib setelah dengan berbagai pertimbangan sebelumnya. Waktu yang tersisa, kami pergunakan sebaik mungkin untuk bergegas tidur agar setelah bangun dinihari nanti, kondisi badan kami kembali bugar dan fit untuk kembali melakukan perjalanan pulang.

Tepat pukul 01.30 wib, saya terbangun oleh alarm handphone yang saya setting sebelumnya. Saya mendapati Dwiki masih tertidur pulas di bed sebelah. Saya membangunkan dia, agar dapat segera bergegas menyiapkan diri serta merapihkan sedikit perlengkapan yang masing-masing kami bawa.
Kami memanaskan mesin sepeda motor terlebih dahulu sekitar sepuluh menit, saat dimana jarum jam menunjukkan pukul 02.15 wib. Selesai memanaskan, kami bersiap pulang dan Dwiki kembali memacu sepeda motornya dengan kecepatan rata - rata 80 km/jam. Saya menetapkan target agar sekitar pukul 05.00 wib atau 05.30 wib, perjalanan kami akan tiba kembali di Jembatan Layang Kelok Sembilan, guna mengambil beberapa foto, karena di persinggahan kami yang pertama, tidak memungkinkan untuk melakukan itu, disebabkan pada saat itu kami tiba di lepas tengah malam.

Padang Panjang, 20 Januari 2016
Selepas empat puluh lima menit waktu tempuh perjalanan, saat dimana laju sepeda motor kami memasuki wilayah kota Padang Panjang, hujan rintik kembali membasahi perjalanan kami. Tidak lama berselang, Dwiki memutuskan untuk memperlambat laju kecepatannya kemudian menepikan sepeda motornya. Terlihat bahwa pada saat itu, kondisinya memang sudah tidak begitu fit. Bergantian dengan saya yang kembali mengambil kemudi, maka perjalanan pun kami lanjutkan kembali. Diperjalanan, ada satu hal yang membuat saya "menahan geli tawa", dimana saat itu helm bagian belakang saya selalu beradu dengan helm bagian depan yang digunakan oleh Dwiki. Ternyata dalam beberapa kali kesempatan, ia benar-benar terkantuk sehingga kembali "membenturkan" helmnya dengan bagian belakang helm saya ( hahahahaha ). Tugas double bagi saya, selain harus fokus dengan kemudi yang saya pegang, ditambah harus membuka beberapa bahan obrolan agar Dwiki tidak kembali terkantuk di atas sepeda motor.

Bukittinggi, 20 Januari 2016
Tiba kembali di kota Bukittinggi, perjalanan kami sedikit terhambat. Waktu pada saat itu menunjukkan pukul 03.45 wib. Saya sedikit salah memasuki jalur yang dimana seharusnya saya gunakan sebagai arah pulang. Akibatnya, saya memutuskan untuk kembali menepi beberapa menit dan mencoba untuk membuka Google Maps guna mencari tahu dimana letak kekeliruan terhadap jalan yang saya ambil tadi. Memang di seputaran Jam Gadang, jalur jalan seperti memutar berliku dan kembali menyatu di ujung pertemuannya sebagai jalur utama kota Bukittinggi - Payakumbuh. Banyak waktu yang terbuang di kesempatan ini. Dengan berpatokan pada arahan Maps, saya kembali di bawa ke area perumahan dimana benar-benar sangat asing bagi kami berdua, hingga lebih kurang dua puluh menit, akhirnya kami bertemu dengan pertigaan jalan utama Bukittinggi - Payakumbuh. Sepanjang perjalanan menuju kota Payakumbuh, kondisi relatif lancar, hanya saja di beberapa ruas jalan terhadang oleh air menggenang yang cukup dalam oleh karena sebelumnya habis diguyur hujan yang cukup lebat.

Payakumbuh, 20 Januari 2016
Melewati kota Payakumbuh, saat waktu bergeser ke pukul 05.00 wib, banyak saya temui para warga secara bersama menuju mesjid guna menunaikan shalat Subuh secara berjama'ah. Laju sepeda motor terus saya pacu, karena sepertinya beberapa menit kedepan, perjalanan kami akan tiba kembali di lokasi Jembatan Layang Kelok Sembilan. Tepat pukul 05.40 wib, kami tiba di lokasi yang dimaksud, dimana beberapa tenda yang menjajakan makanan seperti di waktu awal kami singgah masih tertutup rapat. Hanya ada satu tenda yang pada saat itu saya rasa sudah buka dan kami dapat sejenak beristirahat dan memesan makanan di sana. Saya memesan mie rebus yang cukup enak bagi saya dimana kuahnya kental berwarna merah serta rasa yang sangat khas Sumatera Barat, pedas bergelora hahahaha ... Dwiki memilih untuk merebahkan badan di kursi panjang yang ada di sisi lainnya. Terlihat kondisinya cukup drop pada saat itu. Saya kembali menikmati santap pagi beserta segelas teh manis hangat yang saya pesan sembari menunggu bias pagi menyinari lokasi Jembatan Layang Kelok Sembilan ini. Waktu menunjukkan pukul 06.30 wib saat cuaca sudah mulai terang dan saya pun membangunkan Dwiki yang rupanya sudah tertidur dengan lelapnya. Beberapa "jepretan" foto dengan kamera handphone saya dapatkan terhadap beberapa angle dari JLKS ( Jembatan Layang Kelok Sembilan ). Waktu semakin beranjak siang saat dimana saya memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju kota Pekanbaru. Saya masih memegang kemudi pada saat itu sampai dengan wilayah Bangkinang.

Pekanbaru, 20 Januari 2016
Tidak banyak kendala dan rintangan sepanjang perjalanan kami dari JLKS menuju kota Pekanbaru. Situasi siang hari yang cukup cerah membantu kami berdua di dalam memacu laju sepeda motor dengan kecepatan maksimal. Hanya selepas "West Bangkinang", kami berganti kemudi untuk dilanjutkan oleh Dwiki yang sepertinya sudah sedikit kembali bugar dan saya yang sudah mulai merasa letih setelah lebih kurang dari pukul 03.00 wib - 09.00 wib manghandle kemudi sepeda motor, atau sekitar dari wilayah Padang Panjang hingga West Bangkinang. Sepanjang Bangkinang, yang diawal saya lewati diwaktu malam hari maka saat ini saya dapat menikmati apa yang terlihat. Tanaman sawit sangat mendominasi di kanan dan kiri jalan serta padang ilalang yang tampaknya tidak terurus serta tumbuhan rawa menjadi gambaran selama perjalanan. Cuaca cukup terik cenderung berdebu saat laju sepeda motor kami memasuki wilayah Panam, dimana sebagai perbatasan terluar untuk memasuki kota Pekanbaru. Jam menunjukkan pukul 10.30 wib saat kami tiba kembali di pintu gerbang penginapan. Puji syukur saya ucapkan kepada Allah SWT yang telah melindungi perjalanan dua hari full kami pulang dan pergi Pekanbaru - Padang.

Menjadi satu kepuasan bagi saya dapat mengunjungi kota Padang di Sumatera Barat. Kota yang sebelumnya seperti saya katakan di awal tulisan, menjadi salah satu destinasi dambaan bagi saya pribadi. Menjadi pengalaman yang tidak akan terlupakan saat dimana berkendara malam terlebih dengan menggunakan sepeda motor, terlebih memang tidak ada satupun pencahayaan yang membantu laju perjalanan kami selain sorot cahaya dari lampu kendaraan itu sendiri.

Satu hal yang selalu saya ingat terhadap kota Padang selain bentang alamnya yang begitu indah, adalah mengenai sarana transportasinya, khususnya setiap angkot-angkotnya. Lebih menyoal penampilan, angkot disana sangat "modis" mulai dari chasing yang ceper, sound yang "menggelegar" serta berbagai atribut modifikasi yang menambah setiap angkot disana terlihat begitu "mewah".

Akhir tulisan, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Dwiki yang sudah bersedia menerima ajakan untuk menemani saya berkunjung ke kota Padang serta beberapa rekan staff dan teman - teman disana yang sangat antusias ketika mendengar cerita bahwa saya sudah berkunjung ke kota Padang hanya dalam waktu dua hari full pulang pergi.

"ONDE MANDE ... RANCAK BANA !!!!"






Beberapa foto yang dapat saya unggah sebagai dokumentasi perjalanan. 

Senin, 08 Agustus 2016

Segores catatan dari Selatan

Kali ini saya akan bercerita mengenai perjalanan dua hari ke Pantai Santolo ( 6 - 7 Agustus 2016 ) yang terletak di selatan kota Garut, tepatnya di daerah Pameungpeuk. Lokasi yang cukup jauh dari pusat kota, terlebih untuk keberadaan sinyal internet bagi saya pribadi. Tetapi semua hal menyangkut "salah satu kekurangan" seperti tersebut di atas, terbayarkan oleh berbagai "lukisan alam" yang sangat indah yang ditawarkan oleh Pameungpeuk. 

Part 1 : Sabtu, 06 Agustus 2016
Mundur di beberapa hari sebelumnya, sekitar tanggal 04 Agustus 2016, salah seorang sahabat saya, Ferdy mengontak saya via WhatsApp untuk mencoba mengajak saya melewatkan waktu weekend di Pantai Santolo, Pameungpeuk-Garut Selatan. Sebelumnya, saat pertama kali merespon ajakan dia, saya berpikir, dan memang baru pertama kali mendengar nama tempat tersebut. Karena sebelumnya memang saya pernah suatu waktu berkunjung ke arah sana, hanya di seputaran daerah Bungbulang, dan itupun lebih hanya sekedar "urusan batu", menemani kakak sepupu saya menyalurkan hobbinya, guna "berburu" Hejo Garut hingga ke sumbernya. Kembali kepada ajakan sahabat saya, Ferdy, saya pun sedikit tertarik untuk mencoba menemaninya berkunjung kesana. Sebelumnya, hal ini adalah dalam rangka Touring Grup Grand Livina "Klik" chapter Bandung, yang membuka open trip untuk wilayah Jawa Barat dan sekitarnya. Berdasarkan dari ajakan tersebut, beberapa kali kesempatan, saya langsung mencoba mencari tahu seberapa banyak info mengenai Pantai Santolo. Saat pertama kali melihat beberapa review dari "mbah gugel", saya menangkap bahwa lokasi tersebut cukup indah, hanya memang belum banyak yang mencoba untuk mengunjunginya, selain mungkin lokasinya juga yang cukup jauh, serta akses transportasi umum yang terbatas ( bahkan dapat dikatakan 'belum' ada yang langsung menuju kesana ), ditambah kondisi jalan sepanjang lintas selatan yang memang belum "semulus" jalan kota pada umumnya. 

Pada akhirnya, saya pun menyambut ajakannya dan ditentukan bahwa pada Sabtu, 06 Agustus 2016 dinihari, sekitar pukul 03.00 wib, kami akan bertolak menuju kota Bandung, dimana disana, di Miko Mall tepatnya, wilayah Soreang, ditentukan titik kumpulnya, bagi peserta touring Grand Livina tersebut. Waktu yang tertera pada rencana perjalanan Team Livina tersebut adalah Sabtu, 06 Agustus 2016, pukul 08.00 wib, untuk waktu keberangkatan.

Sepanjang perjalanan dinihari saya bersama Ferdy, kondisi cuaca cukup bersahabat. Begitupun fisik kami berdua, yang sudah "diprepare" beberapa waktu sebelumnya. Kami tiba di wilayah Soreang cukup pagi, sekitar pukul 06.15 wib, dimana pada saat itu, kami langsung menuju ke lokasi titik kumpul. Hanya saja, waktu yang masih teramat pagi, jangankan bagi peserta yang akan hadir, bahkan gerbang akses menuju parkiran Miko Mall tersebut pun belum dibuka oleh petugas yang bersangkutan ( wkwkwkwk ). Kami pun memutuskan untuk mencari sarapan terlebih dahulu agar sedikit mengembalikan kebugaran setelah lebih kurang 2,5 jam perjalanan kami tempuh dari Depok menuju Bandung. Saat itu, kami mencoba untuk sarapan dengan menu Soto Ayam yang berjualan di kaki lima, di depan sebuah minimarket yang masih tutup, setelah hampir setiap kali kami melihat di pinggiran jalan didominasi oleh menu nasi kuning. 

Part 2 : Sabtu, 06 Agustus 2016
Setelah kami berdua menyudahi sarapan pagi kami, maka bergegaslah kami kembali menuju lokasi dimana titik kumpul telah ditentukan. Sampai di pelataran parkir Miko Mall, kami sudah menjumpai beberapa mobil telah tersusun rapih. Didominasi oleh chapter yang bersangkutan, yakni bernopol D. Untuk dari area Jakarta, saya mendapat info bahwa akan ada satu lagi rekan dari Ferdy yang akan bergabung di perjalanan nanti, dikarenakan sampai saat kami semua sudah berkumpul, rekan yang satu ini masih dalam perjalanan menuju Bandung.

Waktu telah menunjukkan pukul 07.30 saat dimana kami semua, yang pada saat itu telah hadir sekitar 15 mobil, mulai mematangkan persiapan, seperti mengecek alat komunikasi HT, yang akan digunakan selama dalam perjalanan guna memudahkan koordinasi antar mobil, juga menyempatkan berfoto bersama sebagai bukti dokumentasi perjalanan nantinya. Tepat pukul 08.00, kami semua secara team ( 15 mobil ) ditambah satu mobil Patwal Polisi, mulai satu per satu konvoi meninggalkan pelataran parkir. Patwal mengawal rombongan kami hingga keluar wilayah Soreang, yang kami perkirakan memang butuh pengawalan, saat dimana dibutuhkan untuk memecah arus kemacetan.
Lepas dari Soreang, jalur yang kami tempuh adalah menuju kawasan Ciwidey. Disana, bersama rombongan kami mulai jalan beriringan satu dengan yang lainnya, agar tidak terputus oleh kendaraan lain yang berbarengan arah dengan kami. Hamparan perbukitan dan hutan-hutan alam menyambut iringan rombongan kami selama perjalanan. Sejuk udara, yang amat susah dirasakan di daerah tempat saya tinggal, begitupun dengan Ferdy, dapat dirasakan disini. Bercampur dengan aroma dedaunan serta hembusan angin gunung menghempas sesaat ketika saya mencoba membuka kaca samping mobil. Ketika jalan beranjak terjal, "stop and go" mulai diberlakukan oleh panitia rombongan dan dikomunikasikan melalu HT yang kami pegang, per mobil. Hal ini guna mengakomodasi beberapa mobil yang tidak menggunakan transmisi secara manual, dan kami berdua termasuk di dalamnya. Dibutuhkan kekompakan dan saling kerja sama yang baik dalam mengaplikasikannya. Saling menghormati antar individu dan pemakai jalan yang lain tentunya.
Saat jalan beranjak turun, setelah melewati kawasan Ciwidey, mata kami disuguhkan pemandangan yang teramat menakjubkan. Bersih mata saya dibuatnya. Pemandangan perkebunan teh yang hijau dan terhampar luas disajikan oleh sebuah wilayah yang bernama Rancabali. Susunan perkebunan teh yang rapih serta jalan yang berkelok menambah guratan perasaan saya terhadap perjalanan itu sendiri. Bahkan, waktu yang beranjak siang dan seharusnya terik menyinari perjalanan kami pun, tidak saya hiraukan. Terhapus oleh semua hal - hal "hijau" tersebut. Tetapi satu hal yang teramat disayangkan, saya tidak dapat mengambil foto, bahkan untuk satu jepretan pun dikarenakan iringan rombongan kami tidak berhenti sedetik pun di daerah Rancabali ini. Rombongan berasumsi bahwa perjalanan masih sangat panjang bila sudah harus berhenti disini hanya untuk sekedar merelakan waktu berfoto.
Lepas dari Rancabali, dimana pemandangan dan jalan, terutama yang cukup "mulus", berganti menjadi menjadi bergelombang dan berlubang saat memasuki wilayah Cidaun. Jalan yang menyempit serta tebing yang begitu terjal bergantian menghiasi mata saya sepanjang perjalanan berikutnya. Disini, strategi "stop and go", lebih dominan digunakan oleh panitia rombongan, guna menyiasati jalan space jalan serta kondisinya yang kurang baik. Bebatuan berlubang serta kerikil banyak kami temui di seputaran wilayah ini. Banyak waktu kami yang sebenernya, kalau menurut saya, terbuang di saat-saat seperti ini. Selain "stop and go", kami pun bergantian di dalam memakai space jalan yang tersedia, terutama banyak rombongan pemotor yang juga berkonvoi ria layaknya seperti kami menuju lokasi wisata Pantai Sentolo. Saat lepas tengah hari, sekitar pukul 13.00, kami memasuki wilayah Pameungpeuk, Garut selatan. Disini, saya disuguhi oleh pemandangan laut yang terhampar luas di sisi kanan iringan perjalanan kami. Untuk kondisi jalan, layaknya jalur selatan pada umumnya, terlihat kurang begitu baik. Hal yang sebenarnya patut menjadi sorotan Pemerintah, dimana sepanjang wilayah selatan, baik sarana transportasi, kondisi jalan serta dunia pariwisatanya belum begitu dikenal oleh masyarakat luas, layaknya bagian wilayah lain.
Kurang lebih 1,5 - 2 jam iringan rombongan kami menyusuri jalur selatan, tibalah kami di suatu pertigaan yang tidak terlalu mencolok, untuk ukuran akses menuju suatu lokasi wisata, yang menuntun iringan rombongan kami menuju Pantai Santolo. Sekitar pukul 15.30 wib, iringan kami tiba dilokasi penginapan, tepatnya di sepanjang bibir pantai Sayang Heulang, Pameungpeuk-Garut Selatan. Diseputaran sini, kondisi penginapan lebih tersusun rapih, dengan area parkir yang cukup luas serta langsung dihadapkan oleh garis pantai pada sisi depannya. Area seputaran yang tidak begitu ramai namun terjaga rapih. Hanya satu yang disayangkan untuk kondisi penginapan sendiri, yang menurut saya di beberapa hal sedikit kurang "bersahabat", seperti kondisi toilet yang kurang dirawat kebersihannya, atap kamar yang terlalu pendek hingga menyebabkan kondisi pengap dan panas, serta tidak adanya ventilasi pada setiap kamar. Lain dari itu, hal yang sangat menggembirakan adalah, kondisi pantai itu sendiri, yang masih cukup natural, jauh dari sampah yang berserakan serta keadaan sekitar yang tidak begitu ramai oleh pengunjung. Untuk Pantai Santolo sendiri, letaknya tidak terlalu jauh dari penginapan kami. Sekitar 15 menit, waktu yang dibutuhkan untuk mengakses ke tempat tujuan dengan berkendara motor maupun mobil. Setelah sekitar 15 menit dari waktu kedatangan iringan kami di penginapan, saya dan Ferdy pun lekas bergegas untuk melakukan persiapan menuju Pantai Santolo guna mendapatkan pemandangan sunset yang diinginkan. Semua peserta, setelah makan sore bersama, mulai melakukan persiapan layaknya saya dan Ferdy. Ada yang menyiapkan pakaian renang, pelampung anak-anak serta banyak lagi yang lainnya. Untuk saya dan Ferdy, sepertinya agak kurang tertarik untuk "menceburkan diri" nantinya disana, karena tujuan kami berdua lebih untuk mendapatkan spot foto yang bagus. 

Pukul 16.15 wib lebih kurangnya, saya, Ferdy dan semua peserta touring telah sampai di lokasi tujuan. Untuk HTM di area, per orang cukup membayar Rp.10.000 serta pada saat parkir dikenakan tarif Rp.5000 per mobil. Saya pikir, cukup masuk akal mengingat lokasinya yang terpencil serta segala biaya tersebut tentunya dapat digunakan untuk membangun fasilitas yang dibutuhkan, yang disaat ini masih terhitung sangat kurang.
Kesan pertama setelah saya tiba di tujuan, adalah Pantai Santolo, jauh lebih ramai dibanding Pantai Sayang Heulang, tempat dimana kami menginap. Disini, banyak sekali pengunjung wisata, terutama keluarga dan para anak-anak kecil yang bermain di area pasirnya. Keunggulan Pantai Santolo salah satunya, panjangnya bibir pantai serta pasir putihnya yang terhampar luas sehingga mengundang setiap orang yang melihatnya untuk dapat sekedar bermain di dalamnya. Saya dan Ferdy langsung melihat beberapa spot untuk dapat mengambil foto, dan ketika melihat sekumpulan bebatuan besar yang menjorok ke lautnya, kami berdua memutuskan untuk berjalan ke arah sana. Lebih kurang dua ratus meter jaraknya dari lokasi berkumpul rombongan kami. Disanalah, saya dan Ferdy pun mulai mengambil foto, tentunya dengan angle yang berbeda. Sunset pun kami dapatkan, sekalipun memang pada saat itu, cuaca sedikit mendung. Tidak terasa rupanya dengan aktivitas hunting foto kami berdua, adzan Maghrib sayup terdengar berkumandang dari kejauhan. Waktu pada saat itu sekitar pukul 18.10 wib. Cuaca masih cukup terang untuk pengambilan beberapa foto lagi. Saat dimana hari beranjak gelap, kami berdua pun menyudahinya dan lekas kembali ke area parkir guna perjalanan pulang ke penginapan. Banyak hal yang dapat kami simpulkan dari kunjungan perdana kami berdua di Pantai Santolo, selain letaknya yang memang cukup jauh dari perkotaan. Yang paling dapat dinilai adalah, menyoal fasilitas pariwisatanya, seperti penginapan yang bila menurut saya, terlalu terletak di bibir pantai, serta tata letaknya yang kurang beraturan. Hal ini pun, sebenarnya dapat membahayakan siapapun didalamnya. Bilamana air pasang, dan terjadi gelombang yang cukup besar, setidaknya tidak banyak waktu bagi siapapun disana untuk mengevakuasi diri. Selain itu, mengenai tata letak bangunan itu sendiri yang kurang diperhatikan pada saat membangunnya, tentu akan sedikit mengurangi keindahan dari pemandangan bibir Pantai Santolo tersebut. Itu beberapa hal kecil yang sekali lagi, menurut pendapat saya pribadi.
Pukul 19.30 wib, setelah kami mandi dan lain sebagainya di penginapan, saya dan Ferdy kembali bergegas ke penginapan utama, dimana semua peserta rombongan hadir untuk sekedar berkumpul dan menikmati snack berupa jagung bakar. Hal ini saya manfaatkan untuk bincang santai dengan beberapa anggota touring yang saya jumpai. Mereka sangat ramah, welcome dan sedikit terkesan "koplak" pada umumnya untuk ukuran seusia mereka, yang kebanyakan sudah berkeluarga dan membawa istri dan anak masing-masing sebagai penambah suasana kekeluargaan di dalam perjalanan kami ini. Saat itu, gerimis sempat turun hingga beberapa waktu lamanya, tetapi segera reda kembali di menit kemudian. Hiburan organ tunggal serta beberapa lagu dangdut menemani waktu bincang santai kami semua hingga waktu semakin larut. Beberapa dari kami ada yang mulai terlihat lelah, untuk kemudian beristirahat di kamar masing-masing. Saya dan Ferdy pun pamit ketika jam menunjukkan pukul 22.15 wib, saat dimana saya pun sudah merasakan cukup lelah untuk sekedar menahan mata agar tetap terbuka.

Part 3 : Minggu, 07 Agustus 2016 
Saya dan Ferdy bersepakat untuk mendapatkan sunrise di hari Minggu pagi. Sekitar pukul 04.30, kepulasan tidur saya berakhir. Ferdy membangunkan untuk segera bergegas keluar, mencari spot yang dimaksud, yaitu bukit Teletubbies, dimana pada saat malam bincang santai, kami mengobrol dengan pengelola penginapan dan menyampaikan maksud kami berdua untuk mencari spot yang mendukung pengambilan foto. Berdasarkan informasi tersebutlah, ketika waktu subuh menjelang, kami berdua lekas bergegas mengendarai mobil, untuk menuju lokasi yang dimaksud. Cuaca pada saat itu tidak begitu dingin, hanya memang angin pesisir yang sedikit berhembus cukup kencang sedikit membuat kami merasa dingin. Kami berdua mengarahkan mobil kesisi timur, menyusuri jalan berbatu yang lebarnya sekitar 5-8 meter dengan kanan kirinya penuh dengan pondokan penginapan yang lokasinya juga tidak begitu jauh dari penginapan kami. Saat diujung jalan, kami berbelok ke arah kiri untuk kemudian kembali menyusuri jalan yang sudah berganti dari bebatuan, dengan tanah merah yang cukup membuat jalan mobil sedikit terhambat. Sampai di pengujung jalan bertanah merah, kami menemui lurusan jalan yang kali ini hanya selebar mobil yang kami kendarai. Lebih kurang hanya sekiar 2,5 meter dengan kanan kirinya berbatasan langsung dengan tumbuhan liar serta ilalang yang sudah meninggi. Tidak beberapa lama kami menyusuri, kami berbelok ke arah kiri yang ternyata adalah akses masuk ke sebuah padang rumput dengan hamparan berbukitan yang cukup luas. Pada saat itu, langit masih gelap, dan hanya dengan pencahayaan mobil kami dapat menerka seluas apa padang yang kami singgahi. Hingga terus mobil kami pacu sampai di atas salah satu bukit, kami berdua keluar dan mulai mensetting peralatan foto. Jauh di ufuk Timur, lokasi dimana kami perkirakan sunrise akan terlihat, mulai terbias sedikit cahaya mentari yang hanya dalam hitungan menit sudah memerahkan hamparan cakrawala luas. Maha besar Allah, dengan segala ciptaaNya. Hal yang benar-benar membuat kami berdua takjub, dimana saat terbias cahaya pagi di ufuk timur, dengan latar belakang sebagian pegunungan dan sisi lainnya, terhampar lautan lepas yang menambah keeksotisan sang mentari pagi. Beautiful landscape !!!

Part 4 : Minggu, 07 Agustus 2016
Mentari sudah mulai mengawang tinggi saat saya dan Ferdy memulai sarapan pagi di penginapan utama. Disana, timbul berbagai pertanyaan, dimana lokasi saat kami mengambil foto sunrise dari beberapa rekan touring kami, karena pada saat pengambilan foto, Ferdy langsung mengupload beberapa hasilnya di group WhatsApp bersangkutan. Beberapa tertarik untuk mengunjunginya langsung selepas sarapan pagi. Bagi saya dan Ferdy, selesai sarapan adalah waktu terbaik untuk kembali tidur setelah beberapa jam kebelakang waktu kami "habis" terpakai guna berburu sunrise dimaksud ( hehehehe ). Tidak banyak aktivitas selepas sarapan. Beberapa peserta kembali akan mengunjungi pantai Santolo guna melepaskan hasrat yang belum terpuaskan kemarin sore. Hasrat yang hanya beberapa jam saja dapat menikmati keindahan pantainya dikarenakan waktu kunjung kami yang berdekatan dengan kedatangan senja.
Di penginapan, saya bergegas untuk membersihkan diri dan Ferdy berinisiatif untuk sekedar membersihkan mobilnya terlebih dahulu agar sedikit terlihat bersih kembali setelah sehari sebelumnya, banyak berkorban demi kami berdua terhadap lika liku perjalanan yang kurang bersahabat ( wkwkwkwk ). Selesai mandi, saya kembali berbaring untuk meluapkan kantuk yang teramat sangat saya rasakan sebelumnya. Hingga saat terbangun, sekitar pukul 10.30 wib, saya mendapati Ferdy masih tertidur pulas setelah sebelumnya dia yang membangunkan saya untuk bergegas merapihkan seluruh perlengkapan masing-masing, karena menurut rencana perjalanan, semua rombongan akan kembali berangkat pulang selepas pukul 12.30 wib atau setelah kegiatan makan siang terlebih dahulu. Sekitar 30 menit lamanya saya selesai merapihkan semua perlengkapan dan Ferdy sudah terbangun, kami pun menyempatkan untuk 'ngopi' barang sejenak, guna melepaskan benar-benar rasa kantuk yang masih menghinggapi kami berdua. Kami memilih pondokan yang menjual makanan ringan serta kopi, tidak jauh dari lokasi penginapan kami. Disaat itu pula, kami berdua berbincang banyak hal, tidak saja menyangkut perjalanan kali ini, tetapi rencana perjalanan-perjalanan kami berikutnya. Maklum saja, kami berdua pun belum berkeluarga, jadi sebisa mungkin memuaskan hasrat bertualang kami sebelum nantinya sudah "terikat" oleh berbagai hal ketika kami berkeluarga ( hahahahaha ).
Tepat pukul 13.00 wib, setelah semua peserta selesai santap siang, panitia rombongan mengambil keputusan untuk melakukan foto bersama, dan ... Lokasi yang ditentukan adalah "Bukit Teletubbies", dimana lokasi tersebut, subuh hari tadi kami berdua pakai untuk berburu sunrise hehehehe ...
Iringan mobil kembali menyusuri jalan yang sudah saya gambarkan sebelumnya diatas. Saat tiba dilokasi, cuaca sudah cukup terik, cenderung panas menyengat kulit. Atur mengatur posisi mobil dan sebagainya kami lakukan bersama guna mendapatkan hasil foto yang baik. Tidak lupa, spanduk identitas perjalanan kami bentangkan saat pengambilan foto secara bersama.

Part 5 : Minggu, 07 Agustus 2016
Selesai acara berfoto bersama, kami pun secara satu per satu kembali beriringan meninggalkan lokasi. Kali ini, rute pulang yang kami lalui adalah menuju Garut, rute yang kami tentukan secara mufakat. Sebelumnya ada beberapa alternatif rute, hanya saja berdasarkan beberapa hal, kami ambil kesepakatan untuk menuju Garut secara bersama kembali, selain juga sebagai rasa kebersamaan dari kami semua, dan menghindari hal-hal yang menghambat di perjalanan nantinya, bila kami kembali pulang secara berpencar. Tidak lupa, di awal perjalanan, kami memasuki SPBU terdekat guna persiapan bahan bakar yang memadai serta mencari minimarket guna menyiapkan perbekalan snack ringan saat menempuh perjalanan yang cukup jauh. Untuk sekedar gambaran, rute yang kami pilih ini memang sedikit memutar cukup jauh dibanding rute saat kami memulai pemberangkatan awal. Hanya saja, rute yang kami pilih sebagai jalan pulang ini jauh lebih "bersahabat" dibanding sebelumnya. Kendalanya mungkin, kemacetan yang akan kami alami sepanjang perjalanan pulang, mengingat jalur yang kami tempuh merupakan beberapa jalur utama akses kendaraan umum dan bis-bis besar pada umumnya.

Tidak banyak kendala yang kami semua jumpai saat perjalanan pulang, tidak seperti halnya pemberangkatan awal kami, dimana banyak sekali beberapa jalan terjal maupun menurun yang kami lewati sehingga diperlukan "stop and go" dari masing-masing kami yang tentunya juga cukup memakan waktu tempuh kami secara umum. Untuk rute kali ini, saya lebih dominan di sajikan perbukitan dan jalur menyisir tebing yang pastinya tidak ada "track" lurus sedikitpun. Selalu berkelok dan begitu seterusnya sampai hingga kami tiba di wilayah Leles. Disini, kemacetan yang cukup panjang menyambut iringan kami hingga pada saat itu, iringan kami dikejar oleh satu mobil patroli polisi setempat dikarenakan satu iringan panjang kami menyalahi sistem "buka tutup" dimana pada saat itu, kami semua berinisiatif mengambil lajur kanan saat turun dan terkesan "menghalalkan" segala cara guna memangkas kemacetan yang ada hahahaha ... ( 15 mobil beriringan masuk lajur kanan dan memangkas iringan kemacetan itu rasanya seperti menjadi dewa dijalanan dalam beberapa menit ).

Negosiasi pun terjadi antara panitia rombongan kami dengan beberapa petugas polisi yang berwenang, dan diambilah jalan tengah bahwa ada baiknya kami dikawal hingga Cileunyi.

Kondisi pada saat kami mendapatkan pengawalan dari pihak polisi yang berwenangpun sebenarnya tidak banyak membantu kami, karena di tengah perjalanan ke Cileunyi pada nyatanya banyak pengendara yang lain berebut masuk ke iringan kami, sehingga beberapa lamanya, iringan kami sempat terputus hingga akhirnya dapat "dipersatukan" kembali oleh salah satu rekan rombongan yang kembali berinisiatif untuk menyalakan sirene yang dapat membuka jalan untuk kami semua menyesuaikan kembali.

Tepat pukul 22.30 wib rombongan kami tiba di seputaran Cileunyi. Kami semua kembali menepi. Selesai sudah pengawalan dari pihak kepolisian yang berwenang. Satu persatu peserta rombongan keluar, untuk kembali saling berbincang dan disinilah kami "membubarkan" diri untuk kemudian saling pacu menuju lokasi masing-masing. Kekompakan dan kebersamaan yang erat antara sesama kami mengesankan kepada saya bahwa grup ini sangat solid dan semoga seperti ini untuk jauh kedepannya.

Part 6 : 08 Agustus 2016
Bagi sebagian besar peserta touring, mungkin pelepasan di Cileunyi ini adalah "akhir" dari perjalanan mereka masing-masing. Tetapi tidak bagi saya dan Ferdy yang kembali harus melanjutkan perjalanan menuju Depok. Dan ada satu
Peserta lagi yang berbarengan dengan kami berdua, ikut kembali beriringan kembali ke Jakarta.
Selepas gerbang tol Cileunyi, saya dan Ferdy kembali memacu kendaraan guna menuju kepulangan kami kembali menuju Jakarta. Waktu menunjukkan pukul 00.30 saat kami berpacu di Cipularang. Ferdy selalu meminta saya untuk tetap terjaga menemaninya mengobrol disaat memacu kendaraannya, guna mengurangi rasa kantuk yang mulai menghinggapi kami. Saya pun sebenarnya sudah mulai mengantuk hahaha ... tetapi demi kelancaran perjalanan kami bersama, saya memutuskan untuk menemaninya membuka obrolan. Sepanjang perjalanan, kami membahas hal-hal seputar teman-teman kami, baik seputar hubungan kisah kasihnya, atau sekedar membahas hal-hal yang berhubungan dengan perjalanan kami semasa masih di dalam rombongan. Hal-hal apa saja, yang terpenting bisa membuat kami berdua tertawa lepas agar rasa kantuk kami berdua hilang. Terlebih, kondisi tol Cipularang sendiri yang bisa dibilang, seperti "jalanan kampung", dimana jebakan betmen, alias lubang-lubang bertebaran di banyak sisi jalannya. Tidak jarang, mobil kami menghantam lubang-lubang tersebut, ditambah kondisi dimana hujan sudah mulai turun setiba di pintu tol Cikarang Utama.
Lepas dari itu semua, perjalanan kami berdua terhitung lancar, hanya beberapa tersendat di titik-titik kemacetan di tol dimana banyak bis dan kontainer pun berpacu di lajur kanan jalan, yang seharusnya diperuntukkan bagi kendaraan kecil dan pribadi.
Waktu menunjukkan pukul 02.30 wib saat kami keluar pintu tol Tanjung Barat. Melewati Lenteng Agung dan lepas hingga Margonda, jalanan terpantau lengang. Hanya sisa-sisa hujan yang tampaknya membasahi sebagian besar jalan yang kami lalui hingga kembali tiba dengan selamat di rumah kami masing-masing.
Perjalanan panjang yang cukup mengesankan untuk saya pribadi, terlebih bertemu dengan rekan-rekan baru di komunitas yang baru, serta suasana wisata yang sangat jauh dari hingar bingar perkotaan yang membuat penat pikiran dalam hitungan menit.
Semoga, di lain waktu, saya dapat berjumpa lagi dengan kalian semua, anggota komunitas Livina "Klik" Chapter Bandung. Terima kasih atas kebersamaan yang begitu berkesan bagi saya pribadi.


Terima kasih kepada : sahabat saya FERDIANSYAH MULIAWAN yang berkenan mengajak saya bergabung untuk menikmati akhir pekan ini, sehingga saya dapat menuliskan sedikit catatan perjalanan di blog pribadi ini dan rekan-rekan "KLIK" yang begitu bersahabat dengan segala keramahannya di dalam menyambut kedatangan kami berdua dari Jakarta.

Salam kompak selalu !!!







Beberapa kumpulan foto yang tidak bisa saya tampilkan secara menyeluruh. Setidaknya, semoga dapat dijadikan referensi sebagai salah satu tujuan untuk mengisi list kalian di dalam mengeksplore keindahan di Indonesia.