Mulut ini amat lahap menikmati setiap suapan tangan yang berisi nasi putih hangat, beserta sebiji buah pete bakar panas, untuk kemudian dicocol dengan sambal terasi yang baunya begitu menyengat. Tentunya bau wewangian dari terasinya yang begitu menggugah selera makan saya. Jarum jam di jam tangan saya waktu itu menunjukan pukul 17.28 wib. Untuk kondisi pada saat itu, normalnya di wilayah Depok-Jawa Barat, dimana tempat saya berdomisili, sudah pasti langit cukup gelap. Tetapi tidak di sini, di Pekanbaru provinsi Riau. Cuaca masihlah terang benderang, layaknya pukul 16.00 wib. Belum nampak matahari senja akan berpisah di ufuk barat. Saya masih terus lahap menyantap hidangan yang tersaji, nasi putih, kerupuk kampung, lalaban mentimun beserta kemangi, ikan bawal goreng serta tidak ketinggalan dua papan pete bakar, favorit saya. Ditemani oleh salah satu staff lokal disini, yang bernama Dwiki, saya terlibat oleh suatu perbincangan yang spontan saja baru kami bahas. Mengenai Dwiki, dia adalah salah satu staff cabang Zushioda untuk wilayah Pekanbaru, dimana brand tersebut adalah tempat saya bekerja sehari-hari di wilayah Bekasi. Kapasitas saya disini adalah sebagai trainer yang nantinya akan membantu beberapa staff baru di dalam pengenalan seputaran sushi. Meliputi prepare awal, operasional outlet dan lain sebagainya. Saya tidak akan membahas mengenai berbagai macam teknis disini. Saya mencoba menulis untuk bercerita mengenai pengalaman pertama saya di kunjungan kali kedua ke kota Pekanbaru, untuk mencoba mengunjungi kota Padang dengan mengendarai sepeda motor. Nahh ... kebetulan, apa yang saya maksud di atas mengenai perbincangan dengan Dwiki adalah ajakan saya untuk menemani berdua berkunjung ke kota Padang di malam itu. Mulanya, saya hanya sekedar bertanya kepadanya, apakah kota Padang indah? Seberapa menarik dan lamanya perjalanan menuju kesana bila harus dilalui dengan sepeda motor di malam hari? Dan beberapa hal lainnya yang secara tidak sadar juga menggugah Dwiki untuk menyetujui ajakan saya. Untuk informasi saja, di awal kunjungan saya kesini, belum begitu banyak yang harus saya kerjakan menyoal pekerjaan saya sebagai seorang trainer sushi, secara untuk kondisi outletnya pun masih dalam tahap pengerjaan oleh tukang, yang saya pikir butuh beberapa hari kedepan di dalam penyelesaiannya secara menyeluruh.
Kembali kepada ajakan saya tadi terhadap Dwiki, kami pun mulai menyusun rencana untuk waktu pemberangkatan sembari saya menghabiskan menu makan siang saya yang lumayan kesorean hehehe ... Saat itu, cuaca sudah beranjak gelap. Saat saya dan Dwiki sudah menghabiskan menu santap kami, makan bergegaslah kami berdua menuju penginapan saya. Tidak terlalu jauh, hanya sekitar lima belas menit, kami tiba di penginapan. Dwiki singgah sebentar di pendopo depan, untuk memastikan kembali apakah kami berdua akan berangkat malam itu dengan menggunakan sepeda motornya. Tidak perlu berpikir lama rasanya. Sayapun langsung saja mengiyakan dan memastikan kepadanya untuk kembali menjemput saya sekitar pukul 19.30 wib. Setuju. Satu kata itu yang kemudian kembali saya dengar dari Dwiki saat mendengarkan permintaan saya.
Jarum jam dinding dikamar penginapan saya menunjukkan pukul 19.40 wib. Dering telpon menghentikan sejenak aktivitas berpacking saya. Ternyata Dwiki mengabarkan bahwa dia sudah tiba di halaman depan gerbang penginapan. Saya melanjutkan untuk menyelesaikan packingan, dan segera bergegas menghampirinya dengan persiapan yang memadai. Sesungging senyum terlihat dari mulutnya yang menandakan bahwa akhirnya kami berdua akan berangkat malam itu menuju kota Padang dengan mengendarai sepeda motornya. Dwiki menyampaikan kepada saya, bahwa sebelumnya kami harus kembali dulu ke rumahnya karena dia dan terutama saya harus meminta izin terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya sekedar untuk memastikan keberangkatan kami yang terkesan "tiba-tiba". Ada sedikit rasa khawatir yang terpancar dari himbauan kedua orang tuanya, bahwa kami akan melakukan perjalanan malam itu juga dengan mengendarai sepeda motor. Saya pun sebenarnya belum mengetahui sama sekali seperti apa medan selama perjalanan menuju kesana. Dari informasi yang diberikan oleh kedua orang tuanya, menyiratkan bahwa apa yang akan kami lalui, terutama melakukan perjalanan di malam hari, terlebih dengan mengendarai sepeda motor teramat beresiko. Lalu lintas yang sepi, jarangnya pengendara motor di malam hari adalah beberapa info yang disampaikan kepada kami berdua. Tetapi, hal tersebut tidak mengubah rencana kami sedikitpun. Yang terpenting, dengan persiapan fisik dan sarana yang memadai serta doa yang mengiringi perjalanan kami, kami yakin bahwa akan sampai ditujuan dengan selamat. Semoga.
Tepat pukul 20.30 wib, setelah kami berdua mematangkan persiapan akhir, kami pun mulai berpamitan kepada kedua orang tua Dwiki. Semoga di perjalanan kami diberikan kelancaran serta keselamatan hingga sampai di tempat tujuan.
Saya belum tahu persis seperti apa perjalanan malam hari di jalur Sumatera, terlebih hal ini pun memang menjadi pengalaman pertama saya melakukan perjalanan malam dengan sepeda motor. Dwiki memboncengi saya dan mulai memacu sepeda motornya mengarah barat kota Pekanbaru, tepatnya akses keluar wilayah di seputaran daerah Panam. Di daerah ini, saya mulai dapat melihat sepanjang kanan dan kiri jalan, sudah sedikit berbeda dengan apa yang biasa saya jumpai di pusat kota. Padahal, letaknya tidak terlalu jauh. Kanan dan kiri wilayah ini lebih didominasi oleh beberapa bangunan ruko yang lebih dibangun menjauhi tepi jalan dan lahan berpasir di depannya yang dibiarkan begitu saja sebagai area parkir kendaraan. Dwiki terus memacu sepeda motornya dengan kecepatan kira-kira 60-80 km/jam, berhubung suasana jalan yang mulai menyepi ketika laju kami mengarah ke daerah Bangkinang. Disini, saya cukup takjub sekaligus terperangah, dengan apa yang saya lihat. Kanan dan kiri jalan hanya dihiasi semak belukar dan hamparan padang rumput cenderung berpasir dengan diselingi ilalang liar tumbuh diantaranya. Jauh dari kesan aman dan pencahayaan yang bisa dibilang tidak ada sama sekali. Tidak terbersit sama sekali pemandangan malam hari seperti ini di benak saya sebelumnya, bahkan untuk ukuran perjalanan malam hari di wilayah Jawa sekalipun. Saya hanya dapat berharap dan sedikit memastikan bahwa perjalanan kami akan baik-baik saja, terutama tidak terkendala dengan masalah internal di sepada motor yang kami kendarai, seperti bocor ban, dan sejenisnya. Karena jangan kan bengkel pinggir jalan, orang serta rumah warga pun tidak ada sama sekali di kedua sisi jalan yang kami lalui. Satu hal yang membuat hati saya sedikit merasa lega adalah kondisi badan jalan itu sendiri, yang boleh dibilang cukup mulus dan lebar untuk perjalanan di malam hari yang amat minim penerangan. Laju sepeda motor kami selepas bangkinang semakin mantap dengan kecepatan yang stabil dan kondisi kami berdua pun cukup fit untuk menghadapi serta merasakan cuaca dingin yang mulai menyelimuti perjalanan kami.
Payakumbuh, 19 Januari 2016
Menjelang tengah malam, sepeda motor kami masih tetap melaju di jalur jalan raya Bangkinang-Payakumbuh. Udara khas pegunungan yang dingin menyapu kedua kaca spion kami sehingga menimbulkan bercak embun yang sedikit menghalangi pandangan Dwiki, sebagai pengendara utamanya. Sekitar pukul 00.30 wib, Dwiki mulai mengurangi laju sepeda motornya karena medan yang kami lalui sudah didominasi oleh liukan yang memasuki celah antar tebing, yang mengharuskan dia selalu waspada saat berbelok melintasi setiap tikungan yang ada. Sedikit bincang dengan saya, bahwa beberapa saat lagi kami akan tiba di Jembatan Kelok Sembilan, dimana lokasi ini merupakan salah satu destinasi dan spot yang sangat mengagumkan, bahkan untuk skala di Indonesia. Menjadi tujuan dan tempat singgah yang indah bagi para pelancong yang ingin menuju Sumatera Barat dari provinsi Riau atau pun sebaliknya.
Setengah jam perjalanan berikutnya, akhirnya kami tiba di lokasi yang baru saja diperbincangkan oleh kami berdua. Waktu menunjukkan pukul 01.10 wib saat liukan nan indah sebuah konstruksi jembatan layang yang menghubungkan beberapa tebing besar, menyambut kedatangan kami berdua. Takjub!! Satu kata yang pertama terlintas di benak saya untuk sekedar membayangkan seperti apa keindahan pada dinihari itu. Semilir angin ginung kembali menerpa wajah lelah saya sesaat setelah membuka helm yang saya kenakan. Saat itu saya hanya memakai kaos oblong berbalut hoodie hitam, yang tentu saja tidak dapat melindungi tubuh saya terhadap dinginnya udara yang cukup membuat saya menggigil. Kami memilih untuk beristirahat sejenak di sebuah warung tenda di bagian atas jembatan agar dapat sedikit menikmati pemandangan di bawahnya yang membentang berkelok. Sekalipun saat itu, hanya lampu jalan yang sedikit membantu saya untuk melihat gambaran utuh terhadap wujud dari keseluruhan jembatan layang tersebut, tetap tidak menjadi halangan untuk saya menikmati hamparan liukan indah di temaramnya lampu malam. Dinamakan Jembatan Layang Kelok Sembilan, karena memang sesuai dengan namanya, kelokan dari jembatan tersebut berjumlah sembilan, yang mulai terbentang dari atas pertemuan tebing hingga bagian bawah tebing di seberangnya. Sungguh indah !!. Dibagian bawah sisi lainnya, masih terlihat utuh sembilan kelokan yang lama, hanya saja, wujudnya bukan seperti jembatan layang, melainkan sebuah kelokan yang menyisiri bagian tepi tebing yang lebar jalannya tentu tidak selebar jembatan layang yang ada saat ini.
Saat rehat sejenak di warung tenda tepian, saya memesan satu porsi mie instan kemasan, yang saya pikir cukup praktis serta sedikit mampu menutupi rasa lapar saya sewaktu lama perjalanan, serta kopi susu panas ( kopi nya diminum, lalu susunya dipegang ), begitu candaan yang popular saat ini hehehe ...
Lebih kurang satu jam waktu yang kami habiskan guna beristirahat sejenak di tempat ini. Menyegarkan kembali kondisi kami agar di perjalanan berikutnya, dapat sedikit lebih segar. Lepas lebih kurang pukul 02.00 wib, kami kembali meneruskan perjalanan menuju kota Padang. Kota berikutnya yang kami lewati adalah Payakumbuh, kota yang cukup sejuk karena berada di ketinggian pegunungan. Saat kami melintas Payakumbuh kota, sekitar satu setengah jam perjalanan dari lokasi Jembatan Kelok Sembilan, saya mendapati di kanan kiri jalan masih tersisa para pedagang kaki lima, yang didominasi dengan dagangan sate khas Payakumbuh. Sebagian dari mereka sepertinya sudah mulai berkemas untuk menutup dagangan gerobak tendanya. Laju motor kami terus melewati hingga sampailah kembali di jalur dimana sebagai perbatasan antara wilayah Payakumbuh dengan jalur menuju kota Bukittinggi. Di kota ini, tujuan kami berikutnya adalah suatu tempat yang mungkin bagi khalayak umum sudah tidak asing lagi, yaitu bangunan khas Sumatera Barat, Jam Gadang. Jarak tempuh sekitar dua jam perjalanan dari kota Payakumbuh. Sepanjang perjalanan, saya kembali disuguhkan oleh jalanan sepi namun mulus serta jalur yang cukup landai sehingga Dwiki dapat memacu sepeda motornya dengan kecepatan maksimal sekitar 80 km/jam. Cukup cepat untuk ukuran jalan yang terbilang tidak terlalu lebar. Kanan dan kiri jalan tidak berbeda jauh dengan yang saya dapati sebelumnya, yaitu berupa tetumbuhan liar seperti layaknya hutan serta beberapa rumah warga yang dapat dihitung jumlahnya setiap beberapa ratus meter jaraknya.
Bukittinggi, 19 Januari 2016
Waktu menunjukkan pukul 03.15 wib saat kami mulai tiba memasuki wilayah kota Bukittinggi. Kota yang didalamnya terdapat beberapa objek wisata, seperti Goa Jepang, Ngarai Sianok serta bangunan Jam Gadang yang menjadi "Trademark" kota tersebut. Setibanya sampai dilokasi, saya cukup terkejut oleh keadaan sekitar, dimana untuk memasuki wilayah seputaran Jam Gadang, ternyata banyak anjing berkeliaran. Entah ini anjing peliharaan para warga sekitar atau memang seperti bagaimana, saya kurang dapat memastikan. Yang pasti, anjing-anjing tersebut bebas berkeliaran serta mengonggong nyaring setiap kami melangkahkan kaki menuju area terdekat Jam Gadang. Diseputarannya, saya banyak menjumpai pedagang emperan menggelar sebuah karpet untuk menjajakan dagangannya, seperti berbagai jenis gelang, jam tangan, sepatu sandal dan lain sebagainya. Cukup variatif dagangan mereka, dan tentu saja mereka akan lebih beroperasional saat hari sudah mulai terang. Kebetulan saja, baterai Handphone saya hanya tinggal beberapa bar saja, huffttt ... Setelah mengambil beberapa foto sebagai dokumentasi perjalanan, saya dan Dwiki kembali meninggalkan lokasi Jam Gadang, tetapi tidak langsung melanjutkan perjalanan. Waktu yang sudah terpakai untuk perjalanan sampai disini dari Pekanbaru, tidak dapat membohongi terhadap kondisi kami berdua yang sudah nampak cukup lelah. Kami memilih beristirahat di depan pelataran sebuah atm center, yang ternyata berbuah keberuntungan bagi saya pribadi, dimana di beberapa sudut terdapat stop kontak yang belum digunakan untuk mengisi beberapa spot brand atm yang lain. Saat mencobanya untuk mecharge handphone, ternyata berfungsi dengan baik. Alhamdulillah ... Rejeki anak soleh. Kami memutuskan untuk rehat disana beberapa waktu lamanya hingga baterai handphone terisi cukup penuh.
Sekitar pukul 04.00 wib, saat dimana baterai handphone sudah cukup terisi, kami memutuskan untuk kembali bergegas melanjutkan perjalanan menuju kota Padang yang kami perkirakan sekitar dua setengah jam perjalanan lagi. Saat itu, saya yang mendapat giliran untuk mengendarai sepeda motornya. Disebabkan kondisi Dwiki yang terlihat sudah mulai mengantuk, kami berdua tidak ingin mengambil resiko dengan adanya suatu insiden di tengah perjalanan nantinya.
Saya memacu sepeda motor dengan kecepatan rata-rata 50-60 km/jam. Cukup lambat untuk ukuran tipe motor sport seperti ini hahaha ... Tetapi itu hanya penyesuaian di awal saja dan untuk beberapa kilometer berikutnya saya sudah memacu motor dalam kecepatan maksimal sekitar 80-90km/jam dikarenakan hari yang sudah mulai beranjak fajar serta diiringi oleh rintikan gerimis yang menemani kami sepanjang sisa perjalanan. Saat sampai di wilayah Padang Panjang, dimana sebagian besar saya disuguhi oleh pemandangan kota, layaknya di Pekanbaru. Namun ada satu kekhasan tersendiri saat melalui kota Padang Panjang. Sepanjang tepi jalan, selain lampu penerangan yang cukup membantu kami melalui jalan yang sebenarnya tidak terlalu besar namun kondisinya amat baik, terpasang sejenis neon sign di setiap bawah lampu penerangan jalannya. Yang membuat saya cukup takjub, neon sign tersebut bertuliskan lafadz Asma'ul Husna, yang tepat berjumlah 99 buah. Subhanallah ... Kota yang begitu kental kereligiusannya.
Sesaat setelah melewati kota Padang Panjang yang kali ini lebih cenderung menurun, kanan - kirinya masih dihiasi oleh pemandangan tebing-tebing kokoh, sampailah kami berdua di wilayah perbatasan antar Padang Panjang dengan kota Padang itu sendiri. Saya memilih untuk terus memacu sepeda motor ketika kami menemui sebuah perempatan besar dengan fly over yang melintang di seluruh sisinya. Papan petunjuk hijau besar bertuliskan bandara mengarah ke arah kanan jalan memberikan isyarat bahwa saya memang harus terus berjalan lurus bila ingin memasuki kota Padangnya. Jam tangan saya menandakan pukul 05.45 wib saat dimana kami memasuki Jalan By Pass. Salah satu jalur utama di kota Padang yang memiliki "track" lurus cukup panjang dan berujung di pusat kota, yang rupanya tidak terlalu jauh dari pesisir pantai. Tidak terasa, perjalanan kami pun berakhir dan sampailah kami di kota Padang. Saya memutuskan untuk mengarahkan laju sepeda motor berbelok ke arah kanan jalan, tidak sabar untuk segera melihat bibir pantai di sana. Lebih kurang sekitar 150 meter jauhnya, deburan ombak dari kejauhan seperti layaknya suara yang memanggil kami agar segera menghampirinya. "Bisikan" angin laut sekilas menerpa telinga serta mengibaskan rambut saya yang sedikit mulai memanjang. Terbersit rasa bahagia dan puas, bahwa akhirnya saya pribadi dapat berkunjung ke kota ini. Salah satu kota di Indonesia yang sebenarnya saya dambakan untuk saya singgahi, layaknya Denpasar dulu, sebelum akhirnya beberapa waktu lamanya saya bekerja dan tinggal sementara disana. Lelah yang sebelumnya menghinggapi saya, serta rasa kantuk yang membuat mata ini teramat berat untuk sekedar menahan agar tidak berkedip, sedikit lenyap seketika. Tertutupi oleh hal-hal menyenangkan dan rasa puas yang besar. Tetapi, walau bagaimanapun juga, kami berdua tetaplah membutuhkan waktu untuk sekedar merebahkan tubuh serta meluruskan kaki agar segala kelelahan yang timbul selama delapan jam perjalanan Pekanbaru - Padang sirna secara total. Maka dari itu, saya memutuskan untuk memutar kembali sepeda motor untuk kemudian mencoba mencari penginapan yang letaknya tidak terlalu jauh dari lokasi semula kami berada. Setelah kurang lebih 15 - 20 menit kami menyusuri setiap jalan di kota Padang, akhirnya kami tertuju ke sebuah bangunan penginapan bercat hijau cerah bertuliskan Hotel Jakarta. Sebuah nama yang sebenarnya terletak ratusan kilometer jauhnya dari kota Padang sendiri hahahaha ...
Memasuki lobi penginapan, saya menanyakan kepada resepsionis mengenai ketersediaan kamar disana. Jam menunjukkan pukul 07.30 wib saat dimana kami melakukan check in kamar. Dengan biaya Rp. 200.000, kami mendapatkan kamar regular yang bisa dibilang cukup pas -pasan dari segi fasilitas. Tidak saja keberadaan AC yang "nihil" bagi kami, juga kondisi kamar itu sendiri secara keseluruhan. Tapi, hal-hal penunjang kenyamanan tersebut bukanlah sesuatu yang harus dipermasalahkan oleh saya ataupun Dwiki. Yang terpenting saat ini adalah kami mendapatkan kamar sebagai tempat sementara untuk kami beristirahat dan memulihkan kebugaran tubuh sebelum pada siang harinya nanti, kami akan berkunjung ke beberapa destinasi wisata di kota ini.
Padang, 19 Januari 2016
Istirahat kami berdua cukup panjang kali ini, hanya saja keinginan untuk berkeliling di beberapa ruas kota Padang memaksa kami untuk menunda dulu total rehat kami. Selama 4-5 jam kami tertidur pulas selepas check in di pagi hari tadi. Pukul 14.00 wib, kami segera bergegas untuk kembali keluar penginapan, memanaskan sepeda motor terlebih dahulu, sambil membuka handphone, bertanya info kepada "mbah gugel", lokasi mana saja yang terhitung wajib kami kunjungi selama kami berada disana. Destinasi pertama adalah Jembatan Siti Nurbaya. Sebuah nama jembatan yang tentunya tidak asing lagi dengan penamaan sang tokoh. Siti Nurbaya. Sebuah cerita rakyat yang begitu melegenda yang mengisahkan seorang gadis cantik jelita, yang dipaksa menikahi lelaki yang bukan pujaannya, disebabkan ayahnya yang terlibat hutang yang cukup besar. Dengan maksud, bilamana Siti Nurbaya menikah dengan lelaki tersebut, maka segala urusan hutang piutang sang ayah dianggap lunas. Lelaki tersebut tidak lain adalah Datuk Maringgih.
Setelah lebih kurang sepuluh menit sepeda motor kami panaskan, bergegaslah kami menuju destinasi pertama di kota Padang. Satu yang sedikit terlewati, sebelumnya kami berdua menyeberang jalan guna mengisi perut terlebih dahulu. Nasi Padang adalah menu yang kami pilih untuk santap siang kami saat itu hehehehe ...
Kembali kepada tujuan awal kami, menyinggahi Jembatan Siti Nurbaya. Lokasinya tidak terlalu jauh sebenarnya dari tempat penginapan kami. Sekitar 15 - 20 menit waktu yang kami butuhkan untuk sampai di tujuan. Sebagai gambaran, Jembatan Siti Nurbaya tidak berbeda jauh dengan jembatan pada umumnya. Lebarnya sekitar 6-8 meter, cukup untuk dilalui dua buah mobil yang berpapasan arah serta memiliki panjang sekitar 156 meter lebih kurangnya, yang membentang melintasi sungai Batang Arau dibawahnya. Di kanan kirinya berdiri kokoh beberapa tiang yang diujungnya terdapat lampu penerangan jalan, serta berhiaskan seperti pucuk kubah berwarna kuning keemasan. Setelah sampai di lokasi Jembatan Siti Nurbaya ini, saya segera menyempatkan untuk berfoto dengan latar belakang perbukitan hijau yang menjulang sebagai "background alam". Tidak lama, hanya sekitar sepuluh menit kami berdua singgah di Jembatan ini. Setelahnya, kami kembali melanjutkan perjalanan ke Pantai Air Manis. Dari namanya, bukan berarti air lautnya memiliki rasa yang manis yaaa hehehehe ... Dinamakan Pantai Air Manis berdasarkan nama desa/dusun tempat pantai itu berada, yaitu Air Manis. Dan, pantai ini memiliki nama lain yang lebih kesohor dan terkenal tentunya, bahkan oleh sebagian besar masyarakat di berbagai daerah di Indonesia. Ada yang tahu?? Hehehehe ...
Tepat ... Pantai Malinkundang. Tentunya tahu siapa tokoh ini. Sebuah cerita rakyat terbesar dari masyarakat Sumatera Barat, dimana mengisahkan seorang pemuda bernama Malinkundang yang durhaka kepada ibu kandungnya. Ketika kembali ke daerah dimana dia dilahirkan, dia tidak mengakui ibunya sendiri dikarenakan perasaan gengsi dan malu terhadap istri yang telah dipersuntingnya, yang pada saat itu melihat sang ibu sudah tua renta serta berpakaian lusuh, sementara sang anak telah menjadi orang yang sangat berkecukupan di rantau. Saya tidak akan bercerita bagaimana teknisnya sehingga pada akhirnya si Malinkundang anak durhaka berubah menjadi batu yang seakan bersujud meminta pengampunan dari seorang ibu yang begitu mendambakan buah hatinya kembali pulang.
Kembali kepada tujuan saya untuk mengunjungi Pantai Air Manis atau lebih dikenal dengan nama Pantai Malinkundang, lokasinya terletak di balik beberapa bukit besar yang sebelumnya menjadi "background" di Jembatan Siti Nurbaya. Jalan pintas yang kami tempuh amatlah terjal dan lebih bisa dibilang seperti jalan setapak yang cukup sempit. Lebih kurang, 15 menit kami menyusurinya, sampailah kami di ujung atas dari jalan setapak tersebut, yang nyatanya merupakan tepi jalan utama menuju lokasi Pantai Malinkundang. Kami mengikuti jalan yang terus menurun kembali serta berliku di beberapa menitnya, dan berakhir dengan landai berhiaskan rerumputan tumbuh tipis di sebagian bahu jalannya. Kanan-kiri jalan terdapat beberapa rumah warga sekitar, walaupun bisa dibilang tidak terlalu banyak. Hanya beberapa ratus meter saja, kami pun sampai di sebuah pertigaan, yang disebelah kanan jalannya terdapat gerbang menyerupai gapura bertuliskan "Selamat datang di Pantai Air Manis". Langsung sepeda motor kami belokan ke arah gerbang gapura tersebut. Saat memasuki kawasan pantai, kami dikenakan tarif Rp. 5000 per orang dan membayar biaya parkir kembali di dalamnya sejumlah Rp.2000., Sebenarnya lokasi pantai wisata ini, belumlah secara optimal dikelola oleh Pemda setempat. Tergambar dari retribusi parkir yang tampaknya hanya seputaran warga sekitar yang secara sukarela mengelola kawasan pesisir pantai ini. Hamparan pohon kelapa sudah menyambut kedatangan kami di awal sebelum kami mencoba berjalan menuju bibir pantai. Untuk pantainya sendiri, bentangan pasir putihnya cukup luas, dan garis pantainya pun cukup landai untuk area bermain bagi anak-anak. Lalu dimanakah letak batu Malinkundang berada?? Hal pertama yang menjadi pertanyaan saya ketika tiba di lokasi pantai ini. Namun, mengingat Dwiki sebelumnya sudah pernah berkunjung kesini, maka dengan segera saya diajak berjalan hingga ke sisi ujung sebelah kiri dari lokasi kedatangan kami di awal. Dua ratus meter lebih kurangnya kami menyusuri bibir pantai untuk sampai di lokasi yang saya maksudkan tadi.
Batu Malinkundang
Setibanya di lokasi, dimana batu Malinkundang berada, saya cukup dikejutkan oleh rupa batu itu sendiri yang menggambarkan seorang pemuda sedang bersujud, seperti tampak gurat penyesalan terhadap apa yang telah ia lakukan sebelumnya. Untuk sekedar info, berdasarkan berbagai artikel dari Google yang saya baca, semua ragam batu Malinkundang beserta kapalnya yang terbelah, yang juga berubah seketika menjadi batu adalah murni buatan dari manusia. Yang terpenting, cerita rakyat atau bisa dikatakan sebuah mitos untuk warga setempat, sudah begitu melegenda dan besar hingga seluruh pelosok Indonesia. Ada hikmah tersembunyi yang mengiringi cerita mitos seputar Malinkundang. Khusus untuk saya, sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan apakah semua ini hanya "settingan" sebagai penarik wisatawan luar atau seperti apa pastinya, yang jelas keindahan bentang alam kota Padang itu sendiri sudah cukup menarik siapapun yang ingin mencoba berkunjung kesana. Dijamin, akan sangat terpesona dengan sajian "lukisan alam" berupa tebing berbukitan serta laut sebagai landscape yang melatarinya.
Disekitar wilayah "settingan" batu Malinkundang sendiri, berdiri beberapa bangunan semi permanen yang menjajakan berbagai cenderamata khas wilayah setempat, seperti tas bermotifkan jam gadang, kaos dewasa maupun anak-anak bergambar Pantai Padang ataupun Pantai Malinkundang itu sendiri dan masih banyak lagi ragam lainnya. Selain itu, merekapun menjajakan makanan serta minuman ringan seperti berbagai jenis softdrink, mie instan dalam kemasan dan jajanan snack ringan lainnya. Saya dan Dwiki, memutuskan untuk menepi sebentar dikarenakan tidak lama berselang saat kami berdua tiba di lokasi, hujan rintik kembali menyambut kami dengan perlahan. Disaat menunggu gerimis sedikit mereda, saya sempatkan untuk memesan segelas kopi susu panas. Cukup pas untuk suasana hujan seperti ini.
Lebih kurang tiga puluh menit lamanya, hujan sedikit mulai mereda. Saya dan Dwiki pun memutuskan untuk mencoba berfoto di samping batu Malinkundang tersebut dengan sebelumnya menunggu terlebih dahulu beberapa rombongan keluarga yang juga ingin melakukan hal yang sama dengan kami berdua. Setelah tiba saatnya, mulailah saya berfoto terlebih dahulu untuk kemudian dilanjutkan dengan Dwiki. Tidak terlalu lama kami mengambil beberapa "jepretan" foto di lokasi, karena cuaca pun sudah semakin sore dan hujan pun tampak turun kembali. Langkah kami bergegas kembali menyusuri bibir pantai yang didominasi oleh hamparan pasir putih landai yang cukup luas.
Padang, 19 Januari 2016
Hujan turun semakin deras saat Dwiki memacu laju sepeda motornya kembali menuju penginapan di pusat kota. Tidak ada satupun persiapan yang kami bawa, seperti mantel, jaket, atau pun jas hujan sebagai antisipasi sebelumnya. Basah kuyup kami berdua dibuatnya saat hujan turun semakin deras. Sekitar pukul 18.30 wib, kami berdua tiba kembali di penginapan dan langsung memasuki area lobby dengan kondisi pakaian basah kuyup. Kami berdua tidak menghiraukan pandangan terkesan "heran" dari beberapa resepsionis yang berjaga di sana. Bersegeralah kami menuju kamar untuk segera "bersih-bersih" badan. Saat itu, saya pribadi memang tidak membawa salinan pakaian yang cukup dengan mempertimbangkan ternyata saya terjebak hujam disini. Apa boleh buat, celana pendek yang menjadi sisa satu - satunya sebagai "sandang" untuk kembali pulang ke Pekanbaru, saya keringkan terlebih dahulu di depan sebuah kipas angin yang terus saya nyalakan.
Kami memutuskan untuk kembali ke Pekanbaru sekitar jam 02.00 wib setelah dengan berbagai pertimbangan sebelumnya. Waktu yang tersisa, kami pergunakan sebaik mungkin untuk bergegas tidur agar setelah bangun dinihari nanti, kondisi badan kami kembali bugar dan fit untuk kembali melakukan perjalanan pulang.
Tepat pukul 01.30 wib, saya terbangun oleh alarm handphone yang saya setting sebelumnya. Saya mendapati Dwiki masih tertidur pulas di bed sebelah. Saya membangunkan dia, agar dapat segera bergegas menyiapkan diri serta merapihkan sedikit perlengkapan yang masing-masing kami bawa.
Kami memanaskan mesin sepeda motor terlebih dahulu sekitar sepuluh menit, saat dimana jarum jam menunjukkan pukul 02.15 wib. Selesai memanaskan, kami bersiap pulang dan Dwiki kembali memacu sepeda motornya dengan kecepatan rata - rata 80 km/jam. Saya menetapkan target agar sekitar pukul 05.00 wib atau 05.30 wib, perjalanan kami akan tiba kembali di Jembatan Layang Kelok Sembilan, guna mengambil beberapa foto, karena di persinggahan kami yang pertama, tidak memungkinkan untuk melakukan itu, disebabkan pada saat itu kami tiba di lepas tengah malam.
Padang Panjang, 20 Januari 2016
Selepas empat puluh lima menit waktu tempuh perjalanan, saat dimana laju sepeda motor kami memasuki wilayah kota Padang Panjang, hujan rintik kembali membasahi perjalanan kami. Tidak lama berselang, Dwiki memutuskan untuk memperlambat laju kecepatannya kemudian menepikan sepeda motornya. Terlihat bahwa pada saat itu, kondisinya memang sudah tidak begitu fit. Bergantian dengan saya yang kembali mengambil kemudi, maka perjalanan pun kami lanjutkan kembali. Diperjalanan, ada satu hal yang membuat saya "menahan geli tawa", dimana saat itu helm bagian belakang saya selalu beradu dengan helm bagian depan yang digunakan oleh Dwiki. Ternyata dalam beberapa kali kesempatan, ia benar-benar terkantuk sehingga kembali "membenturkan" helmnya dengan bagian belakang helm saya ( hahahahaha ). Tugas double bagi saya, selain harus fokus dengan kemudi yang saya pegang, ditambah harus membuka beberapa bahan obrolan agar Dwiki tidak kembali terkantuk di atas sepeda motor.
Bukittinggi, 20 Januari 2016
Tiba kembali di kota Bukittinggi, perjalanan kami sedikit terhambat. Waktu pada saat itu menunjukkan pukul 03.45 wib. Saya sedikit salah memasuki jalur yang dimana seharusnya saya gunakan sebagai arah pulang. Akibatnya, saya memutuskan untuk kembali menepi beberapa menit dan mencoba untuk membuka Google Maps guna mencari tahu dimana letak kekeliruan terhadap jalan yang saya ambil tadi. Memang di seputaran Jam Gadang, jalur jalan seperti memutar berliku dan kembali menyatu di ujung pertemuannya sebagai jalur utama kota Bukittinggi - Payakumbuh. Banyak waktu yang terbuang di kesempatan ini. Dengan berpatokan pada arahan Maps, saya kembali di bawa ke area perumahan dimana benar-benar sangat asing bagi kami berdua, hingga lebih kurang dua puluh menit, akhirnya kami bertemu dengan pertigaan jalan utama Bukittinggi - Payakumbuh. Sepanjang perjalanan menuju kota Payakumbuh, kondisi relatif lancar, hanya saja di beberapa ruas jalan terhadang oleh air menggenang yang cukup dalam oleh karena sebelumnya habis diguyur hujan yang cukup lebat.
Payakumbuh, 20 Januari 2016
Melewati kota Payakumbuh, saat waktu bergeser ke pukul 05.00 wib, banyak saya temui para warga secara bersama menuju mesjid guna menunaikan shalat Subuh secara berjama'ah. Laju sepeda motor terus saya pacu, karena sepertinya beberapa menit kedepan, perjalanan kami akan tiba kembali di lokasi Jembatan Layang Kelok Sembilan. Tepat pukul 05.40 wib, kami tiba di lokasi yang dimaksud, dimana beberapa tenda yang menjajakan makanan seperti di waktu awal kami singgah masih tertutup rapat. Hanya ada satu tenda yang pada saat itu saya rasa sudah buka dan kami dapat sejenak beristirahat dan memesan makanan di sana. Saya memesan mie rebus yang cukup enak bagi saya dimana kuahnya kental berwarna merah serta rasa yang sangat khas Sumatera Barat, pedas bergelora hahahaha ... Dwiki memilih untuk merebahkan badan di kursi panjang yang ada di sisi lainnya. Terlihat kondisinya cukup drop pada saat itu. Saya kembali menikmati santap pagi beserta segelas teh manis hangat yang saya pesan sembari menunggu bias pagi menyinari lokasi Jembatan Layang Kelok Sembilan ini. Waktu menunjukkan pukul 06.30 wib saat cuaca sudah mulai terang dan saya pun membangunkan Dwiki yang rupanya sudah tertidur dengan lelapnya. Beberapa "jepretan" foto dengan kamera handphone saya dapatkan terhadap beberapa angle dari JLKS ( Jembatan Layang Kelok Sembilan ). Waktu semakin beranjak siang saat dimana saya memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju kota Pekanbaru. Saya masih memegang kemudi pada saat itu sampai dengan wilayah Bangkinang.
Pekanbaru, 20 Januari 2016
Tidak banyak kendala dan rintangan sepanjang perjalanan kami dari JLKS menuju kota Pekanbaru. Situasi siang hari yang cukup cerah membantu kami berdua di dalam memacu laju sepeda motor dengan kecepatan maksimal. Hanya selepas "West Bangkinang", kami berganti kemudi untuk dilanjutkan oleh Dwiki yang sepertinya sudah sedikit kembali bugar dan saya yang sudah mulai merasa letih setelah lebih kurang dari pukul 03.00 wib - 09.00 wib manghandle kemudi sepeda motor, atau sekitar dari wilayah Padang Panjang hingga West Bangkinang. Sepanjang Bangkinang, yang diawal saya lewati diwaktu malam hari maka saat ini saya dapat menikmati apa yang terlihat. Tanaman sawit sangat mendominasi di kanan dan kiri jalan serta padang ilalang yang tampaknya tidak terurus serta tumbuhan rawa menjadi gambaran selama perjalanan. Cuaca cukup terik cenderung berdebu saat laju sepeda motor kami memasuki wilayah Panam, dimana sebagai perbatasan terluar untuk memasuki kota Pekanbaru. Jam menunjukkan pukul 10.30 wib saat kami tiba kembali di pintu gerbang penginapan. Puji syukur saya ucapkan kepada Allah SWT yang telah melindungi perjalanan dua hari full kami pulang dan pergi Pekanbaru - Padang.
Menjadi satu kepuasan bagi saya dapat mengunjungi kota Padang di Sumatera Barat. Kota yang sebelumnya seperti saya katakan di awal tulisan, menjadi salah satu destinasi dambaan bagi saya pribadi. Menjadi pengalaman yang tidak akan terlupakan saat dimana berkendara malam terlebih dengan menggunakan sepeda motor, terlebih memang tidak ada satupun pencahayaan yang membantu laju perjalanan kami selain sorot cahaya dari lampu kendaraan itu sendiri.
Satu hal yang selalu saya ingat terhadap kota Padang selain bentang alamnya yang begitu indah, adalah mengenai sarana transportasinya, khususnya setiap angkot-angkotnya. Lebih menyoal penampilan, angkot disana sangat "modis" mulai dari chasing yang ceper, sound yang "menggelegar" serta berbagai atribut modifikasi yang menambah setiap angkot disana terlihat begitu "mewah".
Akhir tulisan, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Dwiki yang sudah bersedia menerima ajakan untuk menemani saya berkunjung ke kota Padang serta beberapa rekan staff dan teman - teman disana yang sangat antusias ketika mendengar cerita bahwa saya sudah berkunjung ke kota Padang hanya dalam waktu dua hari full pulang pergi.
"ONDE MANDE ... RANCAK BANA !!!!"
Beberapa foto yang dapat saya unggah sebagai dokumentasi perjalanan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar