Semarang, 17 Juli 2016
Pagi yang cukup cerah. Saya terbangun oleh sedikit bias cahaya yang mengintip lewat jendela penginapan. Saat itu adalah waktu untuk check out kamar dan segera bergegas meninggalkan kota Semarang. Suara gemerisik shower memberitahu saya bahwa teman satu kamar sudah lebih dulu bangun dan bersiap. Ferdi. Teman satu kamar saya. Kota Semarang adalah rangkaian trip terakhir kami di dalam beberapa hari ini. Satu kamar lainnya yang berbeda lantai diisi oleh Aang dan Khrisna. Rekan saya yang lain, yang secara bersama ber "hiking" ria menuju puncak Prau di wilayah Dieng beberapa hari sebelumnya.
Jam pada saat itu menunjukkan pukul 06.15 wib. Saya menyalakan sebatang rokok dan menyiapkan secangkir kopi sambil menunggu Ferdi selesai dengan mandinya. Saat menikmati keduanya di bangku sofa di samping tempat tidur, saya merasakan bahwa kondisi pada pagi itu sedikit kurang fit. Namun, saya beranggapan bahwa saya bisa mengistirahatkan badan ini selama panjang perjalanan menuju Jakarta nantinya. Satu batang rokok telah habis, dan Ferdi pun telah keluar yang artinya saya harus cepat bergegas untuk kemudian kami berempat, bersama Aang dan Khrisna bertemu di lobby sarapan penginapan.
Saat sarapan tiba, pukul 07.00 wib, kami berkumpul di satu meja sedangkan tas Carrier kami tempatkan berjajar di sisi lainnya. Tumis pakcoy ( sawi sendok ) beserta segelas orange juice menjadi pilihan menu sarapan saya pagi itu. Dua puluh lima menit kira-kira waktu yang kami habiskan untuk melahap semua menu yang kami pilih saat itu. Tidak lupa setelahnya, kami memesan taksi kepada resepsionis untuk menjemput kami dengan segera di lantai dasar penginapan.
Cukup lima belas menit waktu yang kami tempuh dalam perjalanan menuju Stasiun Tawang dari tempat penginapan kami. Tidak terlalu jauh dan kondisi pada saat itupun, terlihat masih lumayan lengang. Maklum, hari Minggu, dimana aktivitas sebagian orang berpusat kepada CFD ( Car Free Day yang ditempatkan di seputaran Simpang Lima. Sesampainya kami di Stasiun Tawang, rangkaian kereta yang akan membawa kami menuju Jakarta telah tersedia di jalur satu. Kami memilih perjalanan pulang dengan menggunakan kereta api Menoreh. Jadwal yang tertera di masing-masing tiket kami adalah pukul 08.00 wib. Hanya tersisa beberapa menit lagi menuju awal keberangkatan ketika saya kembali melihat jam di tangan.
SEMARANG - JAKARTA, 17 JULI 2016
Selama di perjalanan, saya terlibat percakapan oleh ketiga teman saya ini seputar destinasi lain setelah pendakian Prau yang rencananya akan direalisasikan dalam waktu dekat. Seperti halnya Karimun Jawa, Semeru, dan Kiluan di Lampung Selatan. Namun, Semeru sepertinya akan menjadi destinasi berikutnya bagi kami. Tidak terasa sudah beberapa jam kami lepas dari Stasiun Tawang pagi tadi. Waktu menunjukkan pukul 11.30 wib saat laju kereta api Menoreh memasuki Stasiun Cirebon Prujakan. Hanya beberapa jam lagi, perjalanan kami akan berakhir. Saat itu, handphone saya memberi tanda bahwa ada pesan masuk yang menghampiri. Ternyata pesan melalui WhatsApp dari kakak sepupu saya. Sedikit terpaku setelah beberapa detik saya membacanya. Pesan tersebut mengabarkan bahwa salah satu klien saya di dalam pekerjaan saya, yang berasal dari luar kota akan menyempatkan diri singgah di outlet Zushioda, outlet sushi di bilangan Grand Galaxy City, Bekasi, tempat dimana sehari-harinya saya bekerja. Seperti halnya di awal tulisan, bahwa kondisi kebugaran saya pada hari itu sedikit kurang fit, ditambah perjalanan saya sendiri yang belum sampai Jakarta. Kakak sepupu saya pun mengabarkan di pesan tersebut bahwa ia pun sedikit kurang sehat. Tetapi memang bila untuk urusan pekerjaan, seperti apapun kondisinya, saya dan kakak sepupu termasuk orang yang "amat sangat" menghargai pekerjaan itu sendiri. Tidak ada kata "tidak" untuk kami berdua bilamana dihadapkan dengan urusan outlet, terlebih klien kami ini berasal dari luar kota yang bisa dibilang waktunya teramat sibuk, bila harus sengaja menyempatkan singgah di outlet pusat. Jemari saya membalas "IYA" atas pesan WhatsApp kakak sepupu terhadap kesediaan saya nantinya untuk menemui Mas Edwin, klien yang saya maksud. Pribadi yang begitu sederhana, "humble" dengan setiap orang di sekitarnya dan salah satu klien yang memiliki hubungan cukup dekat dengan saya pribadi.
JAKARTA, 17 JULI 2016
Pukul 14.35 wib, rangkaian kereta api Menoreh perlahan melambatkan lajunya. Akhir dari perjalanan lebih kurang enam setengah jam menyiratkan kelelahan di masing-masing lekuk garis wajah kami. Saat itu, mentari sore menyambut kami cukup terik di pelataran peron Stasiun Jatinegara. Sedikit goyah langkah kaki saya bergerak maju menuju loket tiket Commuter line untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Depok Baru. Setelahnya, saya dan ketiga rekan kembali beranjak menuju peron dimana dalam beberapa menit lagi, tibalah Commuter Line yang akan membawa kami singgah di Stasiun Manggarai, sebuah stasiun transit bagi saya yang ingin melanjutkan perjalanan menuju arah Bogor. Begitupun dengan Khrisna, yang akan kembali menuju tempat tinggalnya di kawasan Bintaro. Maka di saat kami tiba di Stasiun Manggarai, kami berempat memutuskan untuk berpisah. Hanya Aang yang tetap ikut bersama saya menaiki Commuter Line menuju Depok. Untuk Ferdi sendiri, dia memutuskan tidak langsung pulang ke arah Depok bersama saya, dikarenakan ada sedikit keperluan lain.
DEPOK, 17 JULI 2016
Hanya setengah jam perjalanan yang saya dan Aang butuhkan selama di Commuter Line yang kami tumpangi dari Stasiun Manggarai. Setibanya di Stasiun Depok Baru, saya pun berpamitan dengannya untuk segera menuruni Commuter Line. Aang sendiri, akan mengakhiri perjalanannya di Stasiun Depok Lama untuk kemudian menunggu jemputan dari rumahnya. Rintik hujan menyapa saya sepanjang perjalanan dari peron menuju tempat "mangkalnya" angkutan umum yang akan saya tumpangi berikutnya. Berat beban Carrier sepertinya sedikit menghambat laju langkah saya dikarenakan rintik hujan menjadi semakin deras.
Jarum jam dinding di rumah saya menunjukkan pukul 17.00 wib ketika saya mengetuk mengucapkan salam kepulangan saya. Terlihat ibu di rumah menyambut saya dengan senyum khasnya. Berbagai pertanyaan sepertinya langsung menjadi tugas pertamanya di dalam menyambut kepulangan saya di rumah. Berbagai cerita pula dapat saya sampaikan kepada Beliau sepanjang perjalanan saya sebelumnya.
Setelah merapihkan segala perlengkapan perjalanan yang saya gunakan sebelumnya, kembali teringat di benak akan janji saya untuk segera bergegas ke outlet Zushioda. Lelah dan kantuk yang sudah "menyerang" di setengah perjalanan saya sebelumnya, coba tidak saya hiraukan. Segera bergegas mandi dan membuat secangkir kopi untuk melawan kedua rasa itu.
Adzan Maghrib berkumandang setelah saya menyeruput "tetes terakhir" di secangkir kopi yang saya buat. Setelah beberapa menit kemudian, saya mulai bersiap untuk mengawali keberangkatan saya kembali menuju Bekasi dengan kedua rasa lelah dan kantuk yang sepertinya tetap setia bersama saya sepanjang petang hari itu. Tanpa diduga, rintik hujan kembali menyapa dari hitamnya langit yang masih menampakkan bisa jingga sisa petang. Saat itu, masuk sebuah pesan WhatsApp di handphone, yang ternyata pemberitahuan dari Mas Edwin, bahwa ia akan datang di outlet sekitar pukul 21.30 wib jika tidak ada kendala. Sebelumnya, dikarenakan mengetahui kondisi saya saat itu yang sehabis melakukan perjalanan jauh, Mas Edwin sempat menawarkan untuk menjemput saya. Tawaran yang teramat baik bagi saya dan cukup merepotkan baginya. Begitu yang ada di benak saya saat itu. Saya ucapkan terima kasih atas tawarannya dan membalasnya bahwa saya akan datang menggunakan sepeda motor kesayangan saya sehari-hari. Rintik hujan yang semakin menjadi tidak menyurutkan niat saya untuk memanaskan mesin sepeda motor yang akan saya gunakan nanti.
BEKASI, 17 JULI 2016
Sepanjang perjalanan menuju Bekasi, saya pacu laju sepeda motor di kecepatan yang tidak terlalu besar. Mungkin hanya sekitar 50-60 km/jam, ditambah kondisi jalan pada saat itu yang cukup licin dikarenakan rintik hujan yang cukup merata di beberapa wilayah yang saya lewati. Satu setengah jam perjalanan yang saya butuhkan untuk sampai di lokasi outlet Zushioda di bilangan Grand Galaxy City - Pekayon, Bekasi. Jam di tangan saya menunjukkan pukul 20.30 wib. Disana, rintik hujan yang di awal menemani saya dari keberangkatan, tidak nampak sama sekali. Cuaca di seputaran Bekasi pada saat itu cukup cerah namun, hanya beberapa sinar bintang yang mengintip dari gelapnya langit yang cenderung berawan. Saya menyapa rekan kerja saya yang pada saat itu sedang menyiapkan orderan kepada dua buah table yang terisi oleh kedatangan tamu. Dedi, seperti halnya saya, bertugas menghandle orderan sushi. Maman serta Nurul lebih bertugas sebagai "cook helper" serta waiters yang melayani pesanan para tamu.
Saya kembali membakar rokok di ruang depan outlet yang tersedia. Ditemani secangkir kopi, saya mencoba untuk sedikit merekatkan punggung dengan sandaran kursi. Rasa kantuk yang kembali menyapa membuat "seruputan" saya terhadap secangkir kopi yang ada begitu bersemangat. Dengan harapan, setidaknya rasa itu akan jauh berkurang setelah saya kembali menghabiskan sampai "tetes terakhir".
Sekitar pukul 21.45 wib, dimana seputaran waktu yang telah saya, dan Mas Edwin sepakati untuk bertemu, tibalah sebuah Vellfire bercat putih memarkir di halaman depan outlet. Mobil yang sudah tidak asing lagi bagi saya. Dalam hitungan menit, saya kembali berjumpa dengan Mas Edwin, yang beberapa bulan lalu saya temui ketika berkunjung di Purwokerto, kota dimana salah satu cabang Zushioda berada. Salam serta obrolan "khas" kami berdua mengalir begitu saja di awal perjumpaan. Tidak ada formalitas dan kesan kaku yang tergambar darinya. Di dalam beberapa menit perbincangan kami berdua, tibalah kakak sepupu saya, Bang Yodha, yang tidak lain adalah Master Franchise dari brand Zushioda itu sendiri, yang sedikit "memaksakan" kondisinya untuk bergabung bersama saya dan Mas Edwin. Saat itu, Bang Yodha sedang merasakan migrain akut, yang sudah menjadi "langganan" di kesehariannya di dalam berbagai aktivitas pekerjaannya.
Berbagai obrolan serta diskusi terlibat antara kami bertiga di ruang depan outlet. Banyak hal yang kami bahas pada saat itu, entah menyangkut pekerjaan, kondisi masing-masing outlet, hingga modifikasi mobil dan sound menjadi bahan bincang malam kami. Hingga tanpa terasa, waktu semakin berjalan larut sampai pada saatnya perbincangan kami berakhir di sekitar pukul 23.30 wib. Mas Edwin lebih dulu berpamitan kepada kami semua untuk kemudian Bang Yodha menyusul setelahnya.
Malam saat itu semakin larut. Lepas satu jam melewati tengah malam, tepatnya pukul 01.00 wib, saya bergegas meninggalkan outlet, setelahnya sebelumnya memastikan rekan kerja saya yang lain sudah selesai di dalam aktivitas closingnya masing-masing. Sepeda motor kembali saya panaskan untuk beberapa saat kemudian, saya berpamitan kepada para rekan untuk pulang menuju rumah masing-masing. Sempat terlintas di benak saya sepanjang perjalanan pulang, semoga tidak ada hal yang menghambat, berhubung pada saat itu dompet saya tertinggal di rumah sewaktu pembongkaran Carrier. Hanya selembar uang lima puluh ribu rupiah yang tertinggal di sela-sela bagian dalam tas yang cukup melegakan saya, setidaknya bensin dan rokok saya "aman".
CIMANGGIS, 18 JULI 2016
Sepanjang jalur pulang, kondisi jalan yang sempat sebelumnya saya lewati saat berangkat tadi, sudah sedikit mengering, dimana hujan sempat turun beberapa waktu lamanya. Begitu pun dengan kondisi kebugaran saya, yang semakin saya rasakan sepanjang perjalanan pulang menuju Depok, semakin menurun. Hingga pada satu kesempatan di sekitar daerah Cipayung, dimana jalan lurus yang di kiri dan kanannya sudah tampak lengang, tiba-tiba saya memberhentikan laju sepeda motor dengan begitu tiba-tiba. Sepersekian detik mata ini sempat terpejam dan sedikit terkejut pada saat saya menekan handle rem depan. Untung saja, tidak ada kendaraan yang mengikuti saya dari arah belakang, dimana saya berhenti mendadak tepat di tengah jalan yang begitu sepi. Sedikit saya geser kaca helm ke bagian atas, hanya untuk sekedar memastikan arah jala di depan saya yang pada saat itu sebenarnya kosong melompong, tetapi dari sudut penglihatan saya, jalan tersebut seperti bercabang di kedua sisinya.
Saya kembali melanjutkan perjalanan pulang dengan memilih rute yang biasa saya lewati sebelumnya. Berbelok ke arah kanan, sepanjang jalur kelapa dua wetan serta berujung di pertigaan besar yang mengarah ke Jalan Raya Bogor. Saya pacu laju sepeda motor saya dikecepatan maksimal, dimana pada saat itu kondisi jalan sudah tampak lengang yang sebelumnya terjadi kemacetan di beberapa area jalan. Melewati perempatan lampu merah menuju arah Pal Kelapa Dua, saya tetap memacu laju sepeda motor dengan cukup kencang. Mungkin sekitar 80-100 km/jam nya. Ketika dimana saya tidak menyadari bahwa ada sebuah Mikrolet jurusan Gandaria-Kampung Melayu berhenti di sisi trotoar tepat di depan sebuah SPBU, laju sepeda motor tidak dapat saya hentikan. Lebih tepatnya saya menyadari hanya sepersekian detik bahwa ada sebuah kendaraan tepat di depan saya. Tidak dapat berbuat banyak, ditambah kondisi saya yang memang sudah sangat lelah, menghantamlah sepeda motor saya di bagian bodres belakang mikrolet tersebut. Seketika itu juga bagian kepala saya dengan keras beradu dengan kaca bagian belakang hingga hancur berantakan di sisi tengahnya. Tidak berhenti sampai disitu, bagian tubuh saya langsung berbalik terpental ke arah belakang sekitar satu hingga dua meter di bagian belakang Mikrolet tersebut. Saat tubuh tergolek lemas di aspal jalan dengan helm masing terpakai di bagian kepala, di kesempatan itulah saya baru menyadari, bahwa saya masih cukup beruntung dari insiden yang mungkin saja dapat merenggut nyawa saya seketika itu juga.
Dalam hitungan menit, saya coba untuk mengusahakan tubuh ini terbangun serta menjelaskan sebab kenapa saya bisa menghantam Mikrolet yang sedang menepi kepada beberapa orang yang langsung berkerumun di tempat kejadian perkara. Sebagian dari mereka adalah para sopir Mikrolet sejenis yang sedang berkumpul di sisi seberang jalan. Ada beberapa dari mereka yang menduga bahwa sebab dari saya menabrak Mikrolet tersebut adalah diakibatkan oleh pengaruh alkohol yang ada di diri saya. Seketika itu pula, saya langsung membantahnya, karena bisa saja anggapan tersebut akan menjadi sebuah pesan provokasi untuk menjadikan saya "bulan-bulanan" mereka saat itu. Dan untungnya, sopir terkait Mikrolet yang saya tabrak, cukup memahami penjelasan saya pada saat itu dan tidak menghiraukan sebagian rekannya yang beranggapan bahwa saya mabuk minuman beralkohol.
Cucuran darah terus saja membasahi lengan jaket yang saya gunakan serta sedikit rasa sakit di bagian depan mulut saya, yang ternyata saya kehilangan satu buah bagian gigi depan saya serta "sompal" di bagian gigi yang lainnya. Setelah beberapa saat dari kejadian, saat Mikrolet dan motor sudah berada di sisi dalam SPBU, dimana saat itu saya langsung terduduk lemas di area rerumputan, saya kembali membayangkan peristiwa yang baru saja terjadi. Terasa sedikit sakit di bagian bahu kanan, dimana posisi itu menjadi tumpuan saya saat terpental ke bagian berlawanan setelah menghantam kaca Mikrolet tersebut. Begitupun di bagian lutut kanan, sepertinya ada beberapa luka saat kaki memyeret jatuh saat bertumpu tadi, selain darah yang masih saja terus mengucur dari bagian dagu yang tampak sedikit sobekan kecil namun dalam diakibatkan oleh benturan terhadap kaca. Pada saat itu juga, saya berkomunikasi dengan sopir yang bersangkutan yang mana juga mengkhawatirkan kondisi saya. Sedangkan di satu sisi ia pun khawatir terhadap "nasib" angkot yang saya tabrak, karena bilamana angkot tersebut masuk bengkel beberapa hari, tentu saja ia harus memutar otak untuk memberikan kewajiban uang setor harian kepada bosnya. Dan itu pula yang menjadi soal mengenai pertanggungjawaban saya setelahnya.
Kembali kepada kondisi saya, yang masih sedikit "shock" dengan kejadian tersebut, saya bernisiatif untuk "sharing" foto kejadian di beberapa akun media sosial yang saya punya. Hal ini dimaksudkan agar mungkin saja beberapa teman saya yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian, dapat sedikit membantu saya guna menemani saya menjelaskan kronologis dan teknis pertanggungjawaban saya kepada pihak sopir terutama dengan bos sopir yang bersangkutan. Dan benar saja, saat saya memasukan foto kejadian, beberapa teman saya langsung merespon dengan cepat. Anriza ( Jawer ), termasuk salah satunya yang bahkan langsung berinisiatif menuju TKP ( Tempat Kejadian Perkara ) dikarenakan lokasi tinggal yang tidak begitu jauh, selain dirinya yang pada saat itu masih tetap terjaga saat dimana waktu kejadian sekitar pukul 02.30 wib dinihari. Selain Anriza, ada bung Etho dan bung Udin ( begitu kerap saya menyapa mereka dengan awalan "bung" hehehehe ... ), yang juga langsung merespon foto kejadian yang baru saja saya upload di akun media sosial saya.
Tidak hanya beberapa teman saya yang langsung merespon perihal kejadian ini. Saat sebelumnya saya pun coba memberitahukan hal ini kepada Mas Edwin yang baru saja saya temui di outlet Zushioda beberapa jam sebelumnya. Tidak butuh waktu lama, ia cepat merespon informasi dari saya dan segera bergegas menuju lokasi. Saat itu pun saya dan sopir bersepakat untuk memberikan pengobatan terlebih dahulu kepada saya, dengan mengantarkan saya ke Rumah Sakit Pasar Rebo, dimana teman-teman saya yang saya maksud di atas dan Mas Edwin sendiri tiba disana dalam beberapa waktu setelahnya. Berbagai pertanyaan kembali dilontarkan kepada saya, baik dari beberapa teman tersebut maupun dari beberapa perawat yang menghandle luka saya di beberapa bagian tubuh. Setelah saya jelaskan secukupnya barulah mereka memahami kenapa saya bisa begitu lelah pada saat itu. Lebih kurang tiga puluh menit saya mendapatkan pertolongan pertama, terutama di bagian dagu yang sampai membutuhkan perban untuk sedikit menghambat laju darah yang terus menetes, saya pun bergegas untuk segera pulang, dimana ibu saya sudah begitu khawatir saat pertama mendengar kabar ini. Tidak lupa, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Mas Edwin khususnya yang menyempatkan dengan segera melihat langsung kondisi saya.
Saat itu, sekembalinya dari RS Pasar Rebo, saya diboncengi oleh Anriza menuju SPBU kembali, dimana sepeda motor saya dititipkan kepada pihak security disana, saat saya meninggalkan SPBU tadi bersama sopir untuk menindaklanjuti pengobatan pertama saya. Sebelumnya, saat dimana saya bersepakat untuk bertukar nomor handphone dengan sopir yang bersangkutan guna membicarakan lebih lanjut mengenai biaya penggantian dan lain sebagainya di RS Pasar Rebo, bung Etho dan bung Udin sudah lebih dulu bergegas kembali untuk ke SPBU guna memeriksa kondisi sepeda motor saya, apakah masih dapat berjalan atau tidak.
Sesampainya di SPBU dimaksud, dengan sedikit perasaan lega dan sedih, saya melihat seperti apa kondisi sepeda motor saya yang kurang lebih selama lima setengah tahun saya gunakan sebagai teman saya beraktivitas sehari-hari. Tetapi setidaknya, masih dapat dibawa pulang untuk diperbaiki nantinya. Saat itu, saya berpisah dengan Anriza dan mengucapkan banyak sekali terima kasih atas respon dan kesediannya mendatangi saya langsung ke TKP. Hal yang sedikit banyaknya membantu saya pribadi secara moril guna melupakan insiden yang beberapa saat baru terjadi.
Saya kembali dibonceng oleh bung Etho sedang bung Udin bersedia memakai sepeda motor saya yang ternyata masih dapat dikendarai sekalipun hancur total dibagian tengah depannya. Kumandang Adzan Subuh menyambut kedatangan saya setibanya di rumah, dengan kondisi yang sama sekali tidak saya terka jauh sebelumnya. Saat pintu rumah terbuka, kembali saya "disambut" oleh linangan air mata dari ibu yang sangat mengkhawatirkan kondisi saya sebelumnya.
Hanya dapat bersyukur bahwa Allah SWT masih memberikan saya nikmat hidup serta menegur saya dengan kejadian seperti ini. Banyak hikmah dan pelajaran yang saya ambil di dalamnya.
Tidak lupa, saya mengucapkan banyak terima kasih, terutama kepada seluruh teman-teman yang setelah mendengar kabar ini, langsung menjenguk saya keesokan harinya serta yang memberikan support, dan doanya bagi kesembuhan saya serta donasi kepada saya yang amat sangat membantu saya, baik sebagai biaya ganti rugi kendaraan, maupun terhadap pengobatan saya sendiri.
Semoga amal baik serta keikhlasan kalian semua mendapatkan ganjaran pahala yang setimpal dari Allah SWT. Amin.
Sekumpulan foto yang dapat saya sharing
Saya persembahkan tulisan ini kepada semua pihak yang telah membantu saya baik support, doa maupun berupa materi yang begitu berarti bagi saya, sebagai kekuatan mental serta moril untuk dapat kembali beraktivitas seperti sedia kala.
Depok, Agustus 2106.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar