Senin, 08 Agustus 2016

Segores catatan dari Selatan

Kali ini saya akan bercerita mengenai perjalanan dua hari ke Pantai Santolo ( 6 - 7 Agustus 2016 ) yang terletak di selatan kota Garut, tepatnya di daerah Pameungpeuk. Lokasi yang cukup jauh dari pusat kota, terlebih untuk keberadaan sinyal internet bagi saya pribadi. Tetapi semua hal menyangkut "salah satu kekurangan" seperti tersebut di atas, terbayarkan oleh berbagai "lukisan alam" yang sangat indah yang ditawarkan oleh Pameungpeuk. 

Part 1 : Sabtu, 06 Agustus 2016
Mundur di beberapa hari sebelumnya, sekitar tanggal 04 Agustus 2016, salah seorang sahabat saya, Ferdy mengontak saya via WhatsApp untuk mencoba mengajak saya melewatkan waktu weekend di Pantai Santolo, Pameungpeuk-Garut Selatan. Sebelumnya, saat pertama kali merespon ajakan dia, saya berpikir, dan memang baru pertama kali mendengar nama tempat tersebut. Karena sebelumnya memang saya pernah suatu waktu berkunjung ke arah sana, hanya di seputaran daerah Bungbulang, dan itupun lebih hanya sekedar "urusan batu", menemani kakak sepupu saya menyalurkan hobbinya, guna "berburu" Hejo Garut hingga ke sumbernya. Kembali kepada ajakan sahabat saya, Ferdy, saya pun sedikit tertarik untuk mencoba menemaninya berkunjung kesana. Sebelumnya, hal ini adalah dalam rangka Touring Grup Grand Livina "Klik" chapter Bandung, yang membuka open trip untuk wilayah Jawa Barat dan sekitarnya. Berdasarkan dari ajakan tersebut, beberapa kali kesempatan, saya langsung mencoba mencari tahu seberapa banyak info mengenai Pantai Santolo. Saat pertama kali melihat beberapa review dari "mbah gugel", saya menangkap bahwa lokasi tersebut cukup indah, hanya memang belum banyak yang mencoba untuk mengunjunginya, selain mungkin lokasinya juga yang cukup jauh, serta akses transportasi umum yang terbatas ( bahkan dapat dikatakan 'belum' ada yang langsung menuju kesana ), ditambah kondisi jalan sepanjang lintas selatan yang memang belum "semulus" jalan kota pada umumnya. 

Pada akhirnya, saya pun menyambut ajakannya dan ditentukan bahwa pada Sabtu, 06 Agustus 2016 dinihari, sekitar pukul 03.00 wib, kami akan bertolak menuju kota Bandung, dimana disana, di Miko Mall tepatnya, wilayah Soreang, ditentukan titik kumpulnya, bagi peserta touring Grand Livina tersebut. Waktu yang tertera pada rencana perjalanan Team Livina tersebut adalah Sabtu, 06 Agustus 2016, pukul 08.00 wib, untuk waktu keberangkatan.

Sepanjang perjalanan dinihari saya bersama Ferdy, kondisi cuaca cukup bersahabat. Begitupun fisik kami berdua, yang sudah "diprepare" beberapa waktu sebelumnya. Kami tiba di wilayah Soreang cukup pagi, sekitar pukul 06.15 wib, dimana pada saat itu, kami langsung menuju ke lokasi titik kumpul. Hanya saja, waktu yang masih teramat pagi, jangankan bagi peserta yang akan hadir, bahkan gerbang akses menuju parkiran Miko Mall tersebut pun belum dibuka oleh petugas yang bersangkutan ( wkwkwkwk ). Kami pun memutuskan untuk mencari sarapan terlebih dahulu agar sedikit mengembalikan kebugaran setelah lebih kurang 2,5 jam perjalanan kami tempuh dari Depok menuju Bandung. Saat itu, kami mencoba untuk sarapan dengan menu Soto Ayam yang berjualan di kaki lima, di depan sebuah minimarket yang masih tutup, setelah hampir setiap kali kami melihat di pinggiran jalan didominasi oleh menu nasi kuning. 

Part 2 : Sabtu, 06 Agustus 2016
Setelah kami berdua menyudahi sarapan pagi kami, maka bergegaslah kami kembali menuju lokasi dimana titik kumpul telah ditentukan. Sampai di pelataran parkir Miko Mall, kami sudah menjumpai beberapa mobil telah tersusun rapih. Didominasi oleh chapter yang bersangkutan, yakni bernopol D. Untuk dari area Jakarta, saya mendapat info bahwa akan ada satu lagi rekan dari Ferdy yang akan bergabung di perjalanan nanti, dikarenakan sampai saat kami semua sudah berkumpul, rekan yang satu ini masih dalam perjalanan menuju Bandung.

Waktu telah menunjukkan pukul 07.30 saat dimana kami semua, yang pada saat itu telah hadir sekitar 15 mobil, mulai mematangkan persiapan, seperti mengecek alat komunikasi HT, yang akan digunakan selama dalam perjalanan guna memudahkan koordinasi antar mobil, juga menyempatkan berfoto bersama sebagai bukti dokumentasi perjalanan nantinya. Tepat pukul 08.00, kami semua secara team ( 15 mobil ) ditambah satu mobil Patwal Polisi, mulai satu per satu konvoi meninggalkan pelataran parkir. Patwal mengawal rombongan kami hingga keluar wilayah Soreang, yang kami perkirakan memang butuh pengawalan, saat dimana dibutuhkan untuk memecah arus kemacetan.
Lepas dari Soreang, jalur yang kami tempuh adalah menuju kawasan Ciwidey. Disana, bersama rombongan kami mulai jalan beriringan satu dengan yang lainnya, agar tidak terputus oleh kendaraan lain yang berbarengan arah dengan kami. Hamparan perbukitan dan hutan-hutan alam menyambut iringan rombongan kami selama perjalanan. Sejuk udara, yang amat susah dirasakan di daerah tempat saya tinggal, begitupun dengan Ferdy, dapat dirasakan disini. Bercampur dengan aroma dedaunan serta hembusan angin gunung menghempas sesaat ketika saya mencoba membuka kaca samping mobil. Ketika jalan beranjak terjal, "stop and go" mulai diberlakukan oleh panitia rombongan dan dikomunikasikan melalu HT yang kami pegang, per mobil. Hal ini guna mengakomodasi beberapa mobil yang tidak menggunakan transmisi secara manual, dan kami berdua termasuk di dalamnya. Dibutuhkan kekompakan dan saling kerja sama yang baik dalam mengaplikasikannya. Saling menghormati antar individu dan pemakai jalan yang lain tentunya.
Saat jalan beranjak turun, setelah melewati kawasan Ciwidey, mata kami disuguhkan pemandangan yang teramat menakjubkan. Bersih mata saya dibuatnya. Pemandangan perkebunan teh yang hijau dan terhampar luas disajikan oleh sebuah wilayah yang bernama Rancabali. Susunan perkebunan teh yang rapih serta jalan yang berkelok menambah guratan perasaan saya terhadap perjalanan itu sendiri. Bahkan, waktu yang beranjak siang dan seharusnya terik menyinari perjalanan kami pun, tidak saya hiraukan. Terhapus oleh semua hal - hal "hijau" tersebut. Tetapi satu hal yang teramat disayangkan, saya tidak dapat mengambil foto, bahkan untuk satu jepretan pun dikarenakan iringan rombongan kami tidak berhenti sedetik pun di daerah Rancabali ini. Rombongan berasumsi bahwa perjalanan masih sangat panjang bila sudah harus berhenti disini hanya untuk sekedar merelakan waktu berfoto.
Lepas dari Rancabali, dimana pemandangan dan jalan, terutama yang cukup "mulus", berganti menjadi menjadi bergelombang dan berlubang saat memasuki wilayah Cidaun. Jalan yang menyempit serta tebing yang begitu terjal bergantian menghiasi mata saya sepanjang perjalanan berikutnya. Disini, strategi "stop and go", lebih dominan digunakan oleh panitia rombongan, guna menyiasati jalan space jalan serta kondisinya yang kurang baik. Bebatuan berlubang serta kerikil banyak kami temui di seputaran wilayah ini. Banyak waktu kami yang sebenernya, kalau menurut saya, terbuang di saat-saat seperti ini. Selain "stop and go", kami pun bergantian di dalam memakai space jalan yang tersedia, terutama banyak rombongan pemotor yang juga berkonvoi ria layaknya seperti kami menuju lokasi wisata Pantai Sentolo. Saat lepas tengah hari, sekitar pukul 13.00, kami memasuki wilayah Pameungpeuk, Garut selatan. Disini, saya disuguhi oleh pemandangan laut yang terhampar luas di sisi kanan iringan perjalanan kami. Untuk kondisi jalan, layaknya jalur selatan pada umumnya, terlihat kurang begitu baik. Hal yang sebenarnya patut menjadi sorotan Pemerintah, dimana sepanjang wilayah selatan, baik sarana transportasi, kondisi jalan serta dunia pariwisatanya belum begitu dikenal oleh masyarakat luas, layaknya bagian wilayah lain.
Kurang lebih 1,5 - 2 jam iringan rombongan kami menyusuri jalur selatan, tibalah kami di suatu pertigaan yang tidak terlalu mencolok, untuk ukuran akses menuju suatu lokasi wisata, yang menuntun iringan rombongan kami menuju Pantai Santolo. Sekitar pukul 15.30 wib, iringan kami tiba dilokasi penginapan, tepatnya di sepanjang bibir pantai Sayang Heulang, Pameungpeuk-Garut Selatan. Diseputaran sini, kondisi penginapan lebih tersusun rapih, dengan area parkir yang cukup luas serta langsung dihadapkan oleh garis pantai pada sisi depannya. Area seputaran yang tidak begitu ramai namun terjaga rapih. Hanya satu yang disayangkan untuk kondisi penginapan sendiri, yang menurut saya di beberapa hal sedikit kurang "bersahabat", seperti kondisi toilet yang kurang dirawat kebersihannya, atap kamar yang terlalu pendek hingga menyebabkan kondisi pengap dan panas, serta tidak adanya ventilasi pada setiap kamar. Lain dari itu, hal yang sangat menggembirakan adalah, kondisi pantai itu sendiri, yang masih cukup natural, jauh dari sampah yang berserakan serta keadaan sekitar yang tidak begitu ramai oleh pengunjung. Untuk Pantai Santolo sendiri, letaknya tidak terlalu jauh dari penginapan kami. Sekitar 15 menit, waktu yang dibutuhkan untuk mengakses ke tempat tujuan dengan berkendara motor maupun mobil. Setelah sekitar 15 menit dari waktu kedatangan iringan kami di penginapan, saya dan Ferdy pun lekas bergegas untuk melakukan persiapan menuju Pantai Santolo guna mendapatkan pemandangan sunset yang diinginkan. Semua peserta, setelah makan sore bersama, mulai melakukan persiapan layaknya saya dan Ferdy. Ada yang menyiapkan pakaian renang, pelampung anak-anak serta banyak lagi yang lainnya. Untuk saya dan Ferdy, sepertinya agak kurang tertarik untuk "menceburkan diri" nantinya disana, karena tujuan kami berdua lebih untuk mendapatkan spot foto yang bagus. 

Pukul 16.15 wib lebih kurangnya, saya, Ferdy dan semua peserta touring telah sampai di lokasi tujuan. Untuk HTM di area, per orang cukup membayar Rp.10.000 serta pada saat parkir dikenakan tarif Rp.5000 per mobil. Saya pikir, cukup masuk akal mengingat lokasinya yang terpencil serta segala biaya tersebut tentunya dapat digunakan untuk membangun fasilitas yang dibutuhkan, yang disaat ini masih terhitung sangat kurang.
Kesan pertama setelah saya tiba di tujuan, adalah Pantai Santolo, jauh lebih ramai dibanding Pantai Sayang Heulang, tempat dimana kami menginap. Disini, banyak sekali pengunjung wisata, terutama keluarga dan para anak-anak kecil yang bermain di area pasirnya. Keunggulan Pantai Santolo salah satunya, panjangnya bibir pantai serta pasir putihnya yang terhampar luas sehingga mengundang setiap orang yang melihatnya untuk dapat sekedar bermain di dalamnya. Saya dan Ferdy langsung melihat beberapa spot untuk dapat mengambil foto, dan ketika melihat sekumpulan bebatuan besar yang menjorok ke lautnya, kami berdua memutuskan untuk berjalan ke arah sana. Lebih kurang dua ratus meter jaraknya dari lokasi berkumpul rombongan kami. Disanalah, saya dan Ferdy pun mulai mengambil foto, tentunya dengan angle yang berbeda. Sunset pun kami dapatkan, sekalipun memang pada saat itu, cuaca sedikit mendung. Tidak terasa rupanya dengan aktivitas hunting foto kami berdua, adzan Maghrib sayup terdengar berkumandang dari kejauhan. Waktu pada saat itu sekitar pukul 18.10 wib. Cuaca masih cukup terang untuk pengambilan beberapa foto lagi. Saat dimana hari beranjak gelap, kami berdua pun menyudahinya dan lekas kembali ke area parkir guna perjalanan pulang ke penginapan. Banyak hal yang dapat kami simpulkan dari kunjungan perdana kami berdua di Pantai Santolo, selain letaknya yang memang cukup jauh dari perkotaan. Yang paling dapat dinilai adalah, menyoal fasilitas pariwisatanya, seperti penginapan yang bila menurut saya, terlalu terletak di bibir pantai, serta tata letaknya yang kurang beraturan. Hal ini pun, sebenarnya dapat membahayakan siapapun didalamnya. Bilamana air pasang, dan terjadi gelombang yang cukup besar, setidaknya tidak banyak waktu bagi siapapun disana untuk mengevakuasi diri. Selain itu, mengenai tata letak bangunan itu sendiri yang kurang diperhatikan pada saat membangunnya, tentu akan sedikit mengurangi keindahan dari pemandangan bibir Pantai Santolo tersebut. Itu beberapa hal kecil yang sekali lagi, menurut pendapat saya pribadi.
Pukul 19.30 wib, setelah kami mandi dan lain sebagainya di penginapan, saya dan Ferdy kembali bergegas ke penginapan utama, dimana semua peserta rombongan hadir untuk sekedar berkumpul dan menikmati snack berupa jagung bakar. Hal ini saya manfaatkan untuk bincang santai dengan beberapa anggota touring yang saya jumpai. Mereka sangat ramah, welcome dan sedikit terkesan "koplak" pada umumnya untuk ukuran seusia mereka, yang kebanyakan sudah berkeluarga dan membawa istri dan anak masing-masing sebagai penambah suasana kekeluargaan di dalam perjalanan kami ini. Saat itu, gerimis sempat turun hingga beberapa waktu lamanya, tetapi segera reda kembali di menit kemudian. Hiburan organ tunggal serta beberapa lagu dangdut menemani waktu bincang santai kami semua hingga waktu semakin larut. Beberapa dari kami ada yang mulai terlihat lelah, untuk kemudian beristirahat di kamar masing-masing. Saya dan Ferdy pun pamit ketika jam menunjukkan pukul 22.15 wib, saat dimana saya pun sudah merasakan cukup lelah untuk sekedar menahan mata agar tetap terbuka.

Part 3 : Minggu, 07 Agustus 2016 
Saya dan Ferdy bersepakat untuk mendapatkan sunrise di hari Minggu pagi. Sekitar pukul 04.30, kepulasan tidur saya berakhir. Ferdy membangunkan untuk segera bergegas keluar, mencari spot yang dimaksud, yaitu bukit Teletubbies, dimana pada saat malam bincang santai, kami mengobrol dengan pengelola penginapan dan menyampaikan maksud kami berdua untuk mencari spot yang mendukung pengambilan foto. Berdasarkan informasi tersebutlah, ketika waktu subuh menjelang, kami berdua lekas bergegas mengendarai mobil, untuk menuju lokasi yang dimaksud. Cuaca pada saat itu tidak begitu dingin, hanya memang angin pesisir yang sedikit berhembus cukup kencang sedikit membuat kami merasa dingin. Kami berdua mengarahkan mobil kesisi timur, menyusuri jalan berbatu yang lebarnya sekitar 5-8 meter dengan kanan kirinya penuh dengan pondokan penginapan yang lokasinya juga tidak begitu jauh dari penginapan kami. Saat diujung jalan, kami berbelok ke arah kiri untuk kemudian kembali menyusuri jalan yang sudah berganti dari bebatuan, dengan tanah merah yang cukup membuat jalan mobil sedikit terhambat. Sampai di pengujung jalan bertanah merah, kami menemui lurusan jalan yang kali ini hanya selebar mobil yang kami kendarai. Lebih kurang hanya sekiar 2,5 meter dengan kanan kirinya berbatasan langsung dengan tumbuhan liar serta ilalang yang sudah meninggi. Tidak beberapa lama kami menyusuri, kami berbelok ke arah kiri yang ternyata adalah akses masuk ke sebuah padang rumput dengan hamparan berbukitan yang cukup luas. Pada saat itu, langit masih gelap, dan hanya dengan pencahayaan mobil kami dapat menerka seluas apa padang yang kami singgahi. Hingga terus mobil kami pacu sampai di atas salah satu bukit, kami berdua keluar dan mulai mensetting peralatan foto. Jauh di ufuk Timur, lokasi dimana kami perkirakan sunrise akan terlihat, mulai terbias sedikit cahaya mentari yang hanya dalam hitungan menit sudah memerahkan hamparan cakrawala luas. Maha besar Allah, dengan segala ciptaaNya. Hal yang benar-benar membuat kami berdua takjub, dimana saat terbias cahaya pagi di ufuk timur, dengan latar belakang sebagian pegunungan dan sisi lainnya, terhampar lautan lepas yang menambah keeksotisan sang mentari pagi. Beautiful landscape !!!

Part 4 : Minggu, 07 Agustus 2016
Mentari sudah mulai mengawang tinggi saat saya dan Ferdy memulai sarapan pagi di penginapan utama. Disana, timbul berbagai pertanyaan, dimana lokasi saat kami mengambil foto sunrise dari beberapa rekan touring kami, karena pada saat pengambilan foto, Ferdy langsung mengupload beberapa hasilnya di group WhatsApp bersangkutan. Beberapa tertarik untuk mengunjunginya langsung selepas sarapan pagi. Bagi saya dan Ferdy, selesai sarapan adalah waktu terbaik untuk kembali tidur setelah beberapa jam kebelakang waktu kami "habis" terpakai guna berburu sunrise dimaksud ( hehehehe ). Tidak banyak aktivitas selepas sarapan. Beberapa peserta kembali akan mengunjungi pantai Santolo guna melepaskan hasrat yang belum terpuaskan kemarin sore. Hasrat yang hanya beberapa jam saja dapat menikmati keindahan pantainya dikarenakan waktu kunjung kami yang berdekatan dengan kedatangan senja.
Di penginapan, saya bergegas untuk membersihkan diri dan Ferdy berinisiatif untuk sekedar membersihkan mobilnya terlebih dahulu agar sedikit terlihat bersih kembali setelah sehari sebelumnya, banyak berkorban demi kami berdua terhadap lika liku perjalanan yang kurang bersahabat ( wkwkwkwk ). Selesai mandi, saya kembali berbaring untuk meluapkan kantuk yang teramat sangat saya rasakan sebelumnya. Hingga saat terbangun, sekitar pukul 10.30 wib, saya mendapati Ferdy masih tertidur pulas setelah sebelumnya dia yang membangunkan saya untuk bergegas merapihkan seluruh perlengkapan masing-masing, karena menurut rencana perjalanan, semua rombongan akan kembali berangkat pulang selepas pukul 12.30 wib atau setelah kegiatan makan siang terlebih dahulu. Sekitar 30 menit lamanya saya selesai merapihkan semua perlengkapan dan Ferdy sudah terbangun, kami pun menyempatkan untuk 'ngopi' barang sejenak, guna melepaskan benar-benar rasa kantuk yang masih menghinggapi kami berdua. Kami memilih pondokan yang menjual makanan ringan serta kopi, tidak jauh dari lokasi penginapan kami. Disaat itu pula, kami berdua berbincang banyak hal, tidak saja menyangkut perjalanan kali ini, tetapi rencana perjalanan-perjalanan kami berikutnya. Maklum saja, kami berdua pun belum berkeluarga, jadi sebisa mungkin memuaskan hasrat bertualang kami sebelum nantinya sudah "terikat" oleh berbagai hal ketika kami berkeluarga ( hahahahaha ).
Tepat pukul 13.00 wib, setelah semua peserta selesai santap siang, panitia rombongan mengambil keputusan untuk melakukan foto bersama, dan ... Lokasi yang ditentukan adalah "Bukit Teletubbies", dimana lokasi tersebut, subuh hari tadi kami berdua pakai untuk berburu sunrise hehehehe ...
Iringan mobil kembali menyusuri jalan yang sudah saya gambarkan sebelumnya diatas. Saat tiba dilokasi, cuaca sudah cukup terik, cenderung panas menyengat kulit. Atur mengatur posisi mobil dan sebagainya kami lakukan bersama guna mendapatkan hasil foto yang baik. Tidak lupa, spanduk identitas perjalanan kami bentangkan saat pengambilan foto secara bersama.

Part 5 : Minggu, 07 Agustus 2016
Selesai acara berfoto bersama, kami pun secara satu per satu kembali beriringan meninggalkan lokasi. Kali ini, rute pulang yang kami lalui adalah menuju Garut, rute yang kami tentukan secara mufakat. Sebelumnya ada beberapa alternatif rute, hanya saja berdasarkan beberapa hal, kami ambil kesepakatan untuk menuju Garut secara bersama kembali, selain juga sebagai rasa kebersamaan dari kami semua, dan menghindari hal-hal yang menghambat di perjalanan nantinya, bila kami kembali pulang secara berpencar. Tidak lupa, di awal perjalanan, kami memasuki SPBU terdekat guna persiapan bahan bakar yang memadai serta mencari minimarket guna menyiapkan perbekalan snack ringan saat menempuh perjalanan yang cukup jauh. Untuk sekedar gambaran, rute yang kami pilih ini memang sedikit memutar cukup jauh dibanding rute saat kami memulai pemberangkatan awal. Hanya saja, rute yang kami pilih sebagai jalan pulang ini jauh lebih "bersahabat" dibanding sebelumnya. Kendalanya mungkin, kemacetan yang akan kami alami sepanjang perjalanan pulang, mengingat jalur yang kami tempuh merupakan beberapa jalur utama akses kendaraan umum dan bis-bis besar pada umumnya.

Tidak banyak kendala yang kami semua jumpai saat perjalanan pulang, tidak seperti halnya pemberangkatan awal kami, dimana banyak sekali beberapa jalan terjal maupun menurun yang kami lewati sehingga diperlukan "stop and go" dari masing-masing kami yang tentunya juga cukup memakan waktu tempuh kami secara umum. Untuk rute kali ini, saya lebih dominan di sajikan perbukitan dan jalur menyisir tebing yang pastinya tidak ada "track" lurus sedikitpun. Selalu berkelok dan begitu seterusnya sampai hingga kami tiba di wilayah Leles. Disini, kemacetan yang cukup panjang menyambut iringan kami hingga pada saat itu, iringan kami dikejar oleh satu mobil patroli polisi setempat dikarenakan satu iringan panjang kami menyalahi sistem "buka tutup" dimana pada saat itu, kami semua berinisiatif mengambil lajur kanan saat turun dan terkesan "menghalalkan" segala cara guna memangkas kemacetan yang ada hahahaha ... ( 15 mobil beriringan masuk lajur kanan dan memangkas iringan kemacetan itu rasanya seperti menjadi dewa dijalanan dalam beberapa menit ).

Negosiasi pun terjadi antara panitia rombongan kami dengan beberapa petugas polisi yang berwenang, dan diambilah jalan tengah bahwa ada baiknya kami dikawal hingga Cileunyi.

Kondisi pada saat kami mendapatkan pengawalan dari pihak polisi yang berwenangpun sebenarnya tidak banyak membantu kami, karena di tengah perjalanan ke Cileunyi pada nyatanya banyak pengendara yang lain berebut masuk ke iringan kami, sehingga beberapa lamanya, iringan kami sempat terputus hingga akhirnya dapat "dipersatukan" kembali oleh salah satu rekan rombongan yang kembali berinisiatif untuk menyalakan sirene yang dapat membuka jalan untuk kami semua menyesuaikan kembali.

Tepat pukul 22.30 wib rombongan kami tiba di seputaran Cileunyi. Kami semua kembali menepi. Selesai sudah pengawalan dari pihak kepolisian yang berwenang. Satu persatu peserta rombongan keluar, untuk kembali saling berbincang dan disinilah kami "membubarkan" diri untuk kemudian saling pacu menuju lokasi masing-masing. Kekompakan dan kebersamaan yang erat antara sesama kami mengesankan kepada saya bahwa grup ini sangat solid dan semoga seperti ini untuk jauh kedepannya.

Part 6 : 08 Agustus 2016
Bagi sebagian besar peserta touring, mungkin pelepasan di Cileunyi ini adalah "akhir" dari perjalanan mereka masing-masing. Tetapi tidak bagi saya dan Ferdy yang kembali harus melanjutkan perjalanan menuju Depok. Dan ada satu
Peserta lagi yang berbarengan dengan kami berdua, ikut kembali beriringan kembali ke Jakarta.
Selepas gerbang tol Cileunyi, saya dan Ferdy kembali memacu kendaraan guna menuju kepulangan kami kembali menuju Jakarta. Waktu menunjukkan pukul 00.30 saat kami berpacu di Cipularang. Ferdy selalu meminta saya untuk tetap terjaga menemaninya mengobrol disaat memacu kendaraannya, guna mengurangi rasa kantuk yang mulai menghinggapi kami. Saya pun sebenarnya sudah mulai mengantuk hahaha ... tetapi demi kelancaran perjalanan kami bersama, saya memutuskan untuk menemaninya membuka obrolan. Sepanjang perjalanan, kami membahas hal-hal seputar teman-teman kami, baik seputar hubungan kisah kasihnya, atau sekedar membahas hal-hal yang berhubungan dengan perjalanan kami semasa masih di dalam rombongan. Hal-hal apa saja, yang terpenting bisa membuat kami berdua tertawa lepas agar rasa kantuk kami berdua hilang. Terlebih, kondisi tol Cipularang sendiri yang bisa dibilang, seperti "jalanan kampung", dimana jebakan betmen, alias lubang-lubang bertebaran di banyak sisi jalannya. Tidak jarang, mobil kami menghantam lubang-lubang tersebut, ditambah kondisi dimana hujan sudah mulai turun setiba di pintu tol Cikarang Utama.
Lepas dari itu semua, perjalanan kami berdua terhitung lancar, hanya beberapa tersendat di titik-titik kemacetan di tol dimana banyak bis dan kontainer pun berpacu di lajur kanan jalan, yang seharusnya diperuntukkan bagi kendaraan kecil dan pribadi.
Waktu menunjukkan pukul 02.30 wib saat kami keluar pintu tol Tanjung Barat. Melewati Lenteng Agung dan lepas hingga Margonda, jalanan terpantau lengang. Hanya sisa-sisa hujan yang tampaknya membasahi sebagian besar jalan yang kami lalui hingga kembali tiba dengan selamat di rumah kami masing-masing.
Perjalanan panjang yang cukup mengesankan untuk saya pribadi, terlebih bertemu dengan rekan-rekan baru di komunitas yang baru, serta suasana wisata yang sangat jauh dari hingar bingar perkotaan yang membuat penat pikiran dalam hitungan menit.
Semoga, di lain waktu, saya dapat berjumpa lagi dengan kalian semua, anggota komunitas Livina "Klik" Chapter Bandung. Terima kasih atas kebersamaan yang begitu berkesan bagi saya pribadi.


Terima kasih kepada : sahabat saya FERDIANSYAH MULIAWAN yang berkenan mengajak saya bergabung untuk menikmati akhir pekan ini, sehingga saya dapat menuliskan sedikit catatan perjalanan di blog pribadi ini dan rekan-rekan "KLIK" yang begitu bersahabat dengan segala keramahannya di dalam menyambut kedatangan kami berdua dari Jakarta.

Salam kompak selalu !!!







Beberapa kumpulan foto yang tidak bisa saya tampilkan secara menyeluruh. Setidaknya, semoga dapat dijadikan referensi sebagai salah satu tujuan untuk mengisi list kalian di dalam mengeksplore keindahan di Indonesia.








6 komentar:

  1. woowwwwwwwwww............... tulisan yang sangat menarik om, kami ga koplak om hanya "koplak banget" hahahhahaha...... jika ada kesempatan mari gabung kembali, kami sangat senang dengan semua hal-hal baru terutama teman baru... salam kompak selalu

    sigit

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha ... "Koplak bgt". Makasih om Sigit udah ngeluangin ngebacanya.

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  2. keren om anto,jangan kapok ya ikut touring ama kita

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya om Yud, sama-sama ... Walah, malah seneng bgt kok ikut gabung bareng hehehe ... Ditunggu u/ trip berikutnya yaa ...

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus